-
Authors
Blogroll
Info Sadhar
Link
January 2012 M T W T F S S « Nov 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
1 November 2011
Posts by PSIBK USD
Latar Belakang
Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) hadir atas inisiatif, Yayasan Dena-Upakara, Don Bosco, dan Universitas Sanata Dharma. Pada saat ini PSIBK bekerjasama dengan Kentalis Internasional.
PSIBK telah melakukan banyak kegiatan, antara lain :
Seluruh kegiatan di atas bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tunarungu di Indonesia agar pendidikan dan kesejahteraan anak-anak berkebutuhan khusus (tunarungu) semakin meningkat.
Adanya keprihatinan terhadap pendidikan dan kesejahteraan tunarungu tersebut mendorong PSIBK memberikan pelatihan bagi guru SLB/B. PSIBK sudah memberikan pelatihan guru tunarungu sebanyak 3 (tiga) periode. Pada periode ke 4 (empat) ini, PSIBK ingin memperluas pelayanan kepada masyarakat yang lebih luas.
Oleh karena itu, kami menawarkan dua topik pelatihan, yaitu Developement of Vocabulary dan Sign Language. Pada intinya kedua topik tersebut membahas mengenai bagaimana guru bisa mengajarkan kosakata secara efektif dan memahami pentingnya bahasa isyarat dalam proses menumbuhkembangan peserta didik agar mereka mampu mengaktualisasikan diri lebih optimal.
Target Peserta
Mengingat bahwa efektivitas sebuah pembelajaran tidak terlepas dari interaksi antara fasilitator/trainer dengan peserta, maka kami hanya membuka 7 (tujuh) tambahan peserta untuk tiap topik karena kami sudah memiliki 13 (tiga belas) peserta. Mengingat sedikitnya jumlah peserta tambahan yang bisa kami terima maka kami akan memberikan prioritas kepada peserta yang mendaftar dan melengkapi persyaratan administratif lebih awal.
Fasilitator
Fasilitator yang terlibat dalam pelatihan ini adalah para tenaga ahli yang berasal dari Kentalis Internasional (Belanda) dan tenaga ahli dari beberapa universitas serta berbagai lembaga pendidikan tunarungu di Indonesia.
Biaya Pertopik Pelatihan :
Fasilitas
Mendapat modul, sertifikat, seminar kit, snack dan makan siang bagi peserta yang tidak menginap, bagi peserta menginap akan mendapatkan tambahan sarapan pagi dan makan malam.
Sertifikat akan diberikan apabila peserta :
Tanggal dan Waktu Pelatihan :
Tempat Pelatihan :
Hotel Museum Batik
Jln. Dr. Soetomo no. 13A, Yogyakarta
Tlp : (0274) 541766
Pendaftaran dan informasi :
Posted in Info PSIBK
24 Oktober 2011 / 10.15 WIB
KBR68H - Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas sampai sekarang masih terjadi. Banyak perusahaan enggan mempekerjakan penyandang disabilitas. Tak hanya itu, kebijakan transportasi baik di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia belum mengakomodasi kepentingan mereka. Akankah Undang-Undang Disabilitas yang disahkan DPR mampu menjawab kebutuhan penyandang disabilitas?
Ada sejumlah hambatan yang dialami penyandang disabilitas di Indonesia, mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan, kesulitan mengakses transportasi sampai pengabaian peran serta politik. Kementerian Luar Negeri yang mendorong ratifikasi Undang-Undang Penyandang Cacat menjadi Undang-Undang Konvesi Penyandang Disabilitas meyakini Undang-Undang tersebut mampu memberikan kesetaraan dan hak bagi penyandang disabilitas. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, dengan disahkannya UU tersebut mencerminkan komitmen dan kepedulian bangsa bagi kemajuan hak asasi manusia penyandang disabilitas.
“Kami Kemenlu salah satu Kementerian yang melakukan inisiasi, mendorong konvensi ini sehingga tanggung jawab ada di kita jadi betul-betul melaksanakannya dengan atau tanpa sanksi. Dengan membuat fasilitas, apakah menunggu diturunkan Peraturan Pemerintah dulu atau bisa langsung dikerjakan yang bisa kita lakukan kita lakukan, yang belum kita lakukan kita menunggu Peraturan Pemerintah tapi yang penting sifatnya ke arah outcome sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku”
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menambahkan, pemerintah juga bertanggungjawab dan dipantau oleh Badan Ham Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait perlakuan negara terhadap penyandang disabilitas.
Bagaimana soal implementasinya? Kementerian Sosial yang menjadi ujung tombak pelayanan sosial bagi penyandang disabilitas juga ragu soal implementasi Undang-Undang tersebut. Menurut Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Makmur Sunusi, tidak ada hukuman bagi pemerintah pusat dan daerah yang tidak melaksanakan UU itu. Kata dia, saat ini diperlukan Peraturan Pemerintah untuk mengikat peran serta masyarakat, pemerintah pusat dan daerah dalam menjalankan implementasi Undang-Undang tersebut.
“Kita akan membuat semacam report ke Badan PBB di Jenewa mengenai ratifikasi itu memberikan perlindungan kepada orang-orang penyandang cacat. Dulu kita punya Undang-Undang No 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat tapi itu kan masih sangat stigmatis masih sangat berbasis pelayanan services nah kita ingin kalau konvensi itu arahnya pada perlindungan, pada right base, perlindungan hak-hak mereka, bagaimana mewujudkan hak-hak mereka, partisipasi mereka termasuk partisipasi politik. Pesimis atau tidak justru kita mengharapkan dengan ratifikasi ini memperkuat posisi kita untuk melakukan implementasi UU no. 4 tahun 1997. Apakah ada hukuman bagi pemda yang tidak menjalankan UU ini? Belum ada itu mungkin akan diatur dalam Peraturan Pemerintah”
Harapan manis dari pengesahan Undang-Undang itu juga diutarakan Anggota Komisi Sosial DPR Muhammad Baghowi. Kata dia, DPR mendorong terciptanya lapangan kerja bagi penyandang disabilitas. Caranya, melalui ratifikasi konvensi Internasional tentang hak penyandang disabilitas, kesetaraan akan tercipta.
“Di kita perhatian terhadap penyandang cacat kurang maksimal misalnya mau naik kereta, mau naek bis, sehingga buat mereka yang ada kecacatan secara fisik itu tidak ada kecuali di penerbangan, kemudian juga tempat-tempat umum baru rata-rata di hotel. Kemudian yang mengalami kecacatan tadi itu supaya mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga mental mereka pada saat bekerja akan lebih bagus. Tidak hanya sekedar menerima tetapi juga berkarya karena banyak juga mereka terkendala secara fisik tapi mental, iQ, kemampuan itu luar biasa”
Janji manis nampaknya sudah sering dikecap oleh penyandang disabilitas. Salah satu pengurus lembaga penyandang cacat dari Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Siswadi mengakui pesimistis dengan implementasi UU Disabilitas itu. Kata dia, PPCI akan terus berjuang untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah dalam memberikan hak-hak manusiawi kepada penyandang disabilitas.
“Nggak, nggak menjamin itu masih tetap ada karena itu menyangkut paradigma, kultur dan peradaban masyarakat, implementasinya masih sangat kurang dan bahkan masih nol. Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 itu basic asumsi undang-undang masih menggunakan basic charity atau belas kasihan sementara Konvensi ini paradigmanya sudah human rights, dalam salah satu pasal disebutkan negara mengakui tentang kesejahteraan penyandang disabilitas meliputi perumahan, makanan termasuk pakaian”
Siswadi menambahkan diperlukan waktu agar implemantasi Undang-Undang ini bisa mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas.
Posted in Individu Berkebutuhan Khusus, News
13 Oktober 2011 / 09.15 WIB
Posts by PSIBK
Jakarta - Kabar gembira bagi tunanetra yang penasaran ingin menjajal produk besutan Apple. Hanya dengan menggunakan pelindung layar (screen protector), kini tunanetra pun dapat leluasa mengakses iPhone, iPod, dan iPad yang selama ini sulit dioperasikan karena menggunakan teknologi layar sentuh.
Selama ini, tunanetra dapat mengakses berbagai gadget dengan bantuan pembaca layar (screen reader) yang dapat menyuarakan teks atau obyek yang muncul di layar. Jadi, informasi diperoleh dengan cara mendengarkan teks yang disuarakan oleh screen reader.
Berkat screen reader itu pulalah tunanetra dapat mengakses berbagai tombol yang terdapat pada gadget mereka.
Namun, kini sebagian besar gadget terbaru telah didominasi oleh teknologi navigasi layar sentuh aliastouch screen, sehingga tunanetra menjadi kesulitan mengoperasikannya. Ya, karena tidak ada tombol yang dapat ditekan atau diraba, yang ada hanya permukaan polos tanpa sedikit pun tanda pengenal.
Screen reader pun jadi sulit untuk dioperasikan, karena tidak ada tombol atau benjolan yang dapat dijadikan tanda pengenal bagi tunanetra untuk memilih menu atau mengakses fungsi tertentu.
Lalu, apakah itu artinya tunanetra hanya bisa bengong sementara rekan-rekan mereka asyik ber-iPod dan ber-iPad?
Untungnya, produk terkini besutan Apple sudah dilengkapi dengan pembaca layar gratis yang cukup nyaman digunakan, namanya Voice Over (dapat dibuka lewat menu Accessibility). Dengan memadukan Voice Over dengan screen protector khusus, layar sentuh polos iPhone dan iPad pun kini dapat diakses oleh tunanetra.
Screen protector yang diberi nama “Tactile Screen Protector” ini dikembangkan oleh sebuah kelompok bernama Solona (www.solona.net), pemerhati aksesibilitas bagi tunanetra yang memberikan berbagai layanan guna memudahkan tunanetra mengakses komputer dan gadget.
Tactile Screen Protector tersedia dalam 14 variasi. Pengguna dapat memilih sesuai selera dan tentu saja produk yang dimiliki.
Untuk mengakses iPad misalnya, tersedia screen protector dengan huruf braille (abjad timbul) , sehingga pengguna dapat mengakses elemen-elemen yang muncul di layar sentuh iPad dengan meraba huruf braille yang melekat pada screen protector.
Tersedia juga screen protector dengan titik-titik, di mana titik-titik tersebut mewakili huruf dan tombol fungsi di iPad. Yang satu ini lebih praktis dan paling cocok bagi tunanetra yang sudah akrab dengan layar sentuh.
Selain itu, tersedia juga berbagai model screen protector lain yang dapat digunakan untuk iPod touch, iPhone 3G, bahkan untuk jagoan baru Apple, iPhone 4.
Untuk mendapatkan screen protector ini, pengguna perlu merogoh kocek sebesar $25, atau dapat juga mengirimkan screen protector sendiri untuk diubah menjadi Tactile Screen Protector (dikenakan biaya $6).
Sebagai informasi, Solona juga menyediakan berbagai layanan aksesibilitas lain, seperti penanganan Captcha, pengenalan obyek bergambar, dan lain-lain.
![]() |
Tentang Penulis: Eko Ramaditya Adikara adalah blogger tuna netra yang menggemari dunia digital dan teknologi informasi. Blognya bisa dibaca di http://ramaditya.multiply.com/. |
13 Oktober 2011 / 09.10 WIB
Posts by PSIBK
Jakarta - Pembaca, akhir-akhir ini tunanetra mulai eksis di berbagai layanan jejaring sosial, salah satunya Facebook yang semakin bersahabat dengan pengguna komputer tak berpenglihatan.
Sayangnya, hal serupa belum banyak dirasakan tunanetra Indonesia yang ingin menjajal layanan mikroblogging Twitter. Hal tersebut karena banyak istilah serta fungsi yang melekat pada antarmuka Twitter yang masih terdengar asing bagi tunanetra.
Namun, sebuah Twitter client telah berhasil mengatasi masalah tersebut, sehingga pengguna tunanetra pun dapat bebas “berkicau” di Twitter!
Namanya Qwitter, aplikasi yang memang diperuntukkan bagi pengguna tunanetra untuk mengakses Twitter.
Klien ini dapat diunduh di http://www.qwitter-client.net/.
Sebelum kita bicara lebih lanjut mengenai klien tersebut, mari kita pahami sedikit permasalahan yang timbul bila tunanetra menggunakan Twitter dengan cara biasa alias berkicau via laman web.
Lho, apa masalahnya?
Hal paling mendasar yang perlu dipahami adalah cara interaksi yang berbeda antara pengguna biasa dan pengguna tunanetra.
Orang biasa mengakses Twitter dengan penglihatan, sedangkan tunanetra mengakses Twitter dengan pendengaran (dibantu pembaca layar). Nah perbedaan cara akses inilah yang akan menimbulkan masalah.
Pertama, tunanetra biasanya kerepotan mengakses timeline atau mention. Hal tersebut karena percakapan yang ada pada timeline atau mention membaur dengan tombol-tombol seperti Retweet, Reply, Delete, dan lain-lainnya, sehingga tunanetra tak begitu leluasa menikmati percakapan di Twitter.
Kedua, kurang praktis. Umumnya tunanetra memanfaatkan aplikasi chat untuk bercakap-cakap karena dialog dapat dilakukan secara real-time, jadi kalau ada balasan tunanetra pun langsung mengetahuinya.
Sedangkan dengan Twitter tunanetra harus me-load kembali halaman timeline atau mention untuk mengecek balasan dari rekan bicaranya. Hal ini tentu merepotkan karena tunanetra perlu berkali-kali me-refresh Twitter, dan tentu saja tak menjamin jawaban yang ditunggu sudah masuk atau belum.
Ketiga, beberapa fitur — yang juga membaur dengan dialog — cukup membingungkan. Kalau sekedar posting atau membalas komentar di Facebook mungkin tak masalah, namun dengan Twitter, tunanetra harus membiasakan diri dengan elemen semacam “rt” “#” dan semacamnya.
Memang tak akan menjadi masalah bagi tunanetra yang telah mahir, namun proses belajar ini akan makan waktu dan tentu saja mengganggu kenyamanan akses tunanetra.
Nah, dengan Qwitter hal tersebut dapat diatasi! Penulis akan menunjukkan beberapa keuntungan penggunaan Qwitter bagi tunanetra berdasarkan rekomendasi pengguna tunanetra di luar negeri dan pengalaman penulis sendiri.
Tertarik ingin mencobanya?
Berikut ini panduan singkat penggunaan Qwitter. Perlu diingat bahwa ini hanya contoh kecil penggunaan Qwitter, selebihnya mohon membaca petunjuk yang tersedia pada Readme.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat akun di Twitter dengan cara biasa, lalu unduh Qwitter via link yang telah penulis berikan di atas.
Lalu, segeralah akses aplikasinya dan login dengan username dan password Twitter. Sebenarnya ada layanan lain yang didukung Qwitter, namun kita akan fokus pada penggunaannya sebagai klien Twitter saja.
Jika login berhasil, maka akan terdengar suara yang menandakan proses login berhasil.
“Ooops?” Kok layar aplikasi Qwitter menghilang?
Jangan kuatir! Seperti penulis sampaikan, klien ini didesain khusus bagi tunanetra, jadi tak perlu tampilan fisik. Semuanya diakses menggunakan tombol dan keluaran suara, jadi tak akan terlihat tulisan percakapan di layar monitor.
Untuk memudahkan, penulis akan membantu memberi gambaran seperti apa interface Qwitter. Jika sudah berhasil login, maka Anda akan berada di interface tersebut.
Nah, bayangkanlah 4 kolom besar, masing-masing kolom (dari kiri ke kanan) adalah Home (timeline), direct messages (DM), sent (tweet yang telah kita kirim), dan mention. Kalau dari posisi Home kita beralih ke kiri, maka susunannya tinggal dibalik saja.
Pertama kali berhasil login, kita akan berada di kolom Home. Tahan CTRL+WIN, lalu gunakan panah kanan atau kiri untuk berpindah kolom sesuai yang penulis sebutkan di atas. Gunakan panah bawah atau atas untuk menelusuri percakapan sesuai dengan kolom yang dipilih.
Kalau mau melakukan tweet, tahan CTRL+WIN lalu tekan N, dan ketikkan tweet yang ingin diposting, tekan ENTER.
Untuk me-reply tweet, pilih dulu percakapan mana yang hendak di-reply dengan cara di atas, lalu tahan CTRL+WIN dan tekan R.
Untuk me-retweet, lakukan hal yang sama seperti reply, tapi tombol kombinasinya CTRL+WIN+SHIFT+R.
Nah, masih banyak lagi fitur lain yang dapat dijalankan menggunakan Qwitter. Silahkan mengacu pada dokumentasi yang tersedia di situs penyedianya.
Bagi teman tunanetra, penulis menyarankan untuk memahami dulu istilah-istilah yang digunakan dalam Twitter, baru menghafal shortcut untuk mengakses fitur-fiturnya.
Bagi rekan berpenglihatan, dapat membantu menjelaskan tentang istilah-istilah pada Twitter, lalu merangkum daftar shortcut pada Readme Qwitter agar lebih mudah dipelajari oleh rekan tunanetra.
Apabila masih ada yang kurang jelas dapat mengkontak Twitter penulis lewat ID @ramadityaknight.
Sumber : http://www.detikinet.com/read/2011/06/22/160557/1666224/398/qwitter-twitter-client-untuk-tunanetra
![]() |
Tentang Penulis: Eko Ramaditya Adikara adalah blogger tuna netra yang menggemari dunia digital dan teknologi informasi. Blognya bisa dibaca di http://ramaditya.com |
13 Oktober 2011 / 09.00 WIB
Posts by PSIBK
Jakarta - Perangkat komunikasi bernyawa Android sudah banyak beredar di pasaran. Umumnya gadget tipe ini dioperasikan dengan layar sentuh dan jarang dilengkapi tombol navigasi fisik. Inilah yang menghambat tunanetra untuk dapat menggunakannya, namun bukan berarti tunanetra tak dapat memanfaatkannya.
Nah, artikel ini akan mengulas beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjadikan gadget Android “aksesibel” bagi tunanetra.
Sebelum teknologi layar sentuh diimplementasikan pada gadget komunikasi, tunanetra dapat dengan mudah menggunakan hampir sebagian besar produk komunikasi yang ada.
Mereka biasanya menghapal letak tombol, dan memanfaatkan teknologi pembaca layar yang dapat membacakan informasi di layar gadget.
Namun, saat teknologi layar sentuh mulai diperkenalkan, tunanetra pun dihadapkan pada kondisi di mana mereka tak lagi dapat menghapal letak tombol atau shortcut, mengingat pada gadget berlayar sentuh tak terdapat tombol berupa fisik. Kalau pun ada, biasanya hanya sebatas tombol ON/OFF, tombol Power, atau tombol untuk membesarkan dan mengecilkan volume.
Hal ini sudah mulai diatasi Apple (iPhone, iPad, Mac) yang telah mengusung teknologi pembaca layar bernama Voice Over. Tunanetra dapat memakai Voice Over untuk bernavigasi dan mengakses aplikasi yang disajikan di layar sentuh.
Android?
Lalu, bagaimana dengan platform besutan Google, Android?
Karena OS ini masih tergolong baru, ditambah lagi statusnya yang open source, maka pengembangan Accessibility API (pemrograman antarmuka yang memungkinkan aplikasi bagi tunanetra bekerja) pun belum seumur jagung alias masih dalam tahap pertumbuhan.
Keadaan semacam ini tentu membuat tunanetra tak dapat sepenuhnya menikmati gadget-gadget yang berjalan menggunakan OS Android, pasalnya sebagian besar perangkat Android menggunakan layar sentuh sebagai interface dan input informasi.
Namun, ada beberapa trik yang dapat dilakukan agar tunanetra bisa menggunakan gadget Android.
Perlu diperhatikan bahwa soal aksesibilitas pada sistem operasi Android masih dalam tahap WIP alias work in progress, artinya meski Android sudah dapat dipakai oleh tunanetra, namun tingkat aksesibilitasnya belum dapat disamakan dengan gadget OS Symbian atau Windows.
Contohnya, pembaca layar yang tersedia belum memiliki tombol shortcut, misalnya untuk mengeja kata, membaca per kalimat atau per paragraf, mengakses sinyal dan baterai, atau melakukan perintah spesifik lainnya yang harusnya dapat dieksekusi dengan menekan kombinasi tombol tertentu.
Selain itu, beberapa aplikasi bawaan Android seperti Browser, Camera, dan e-mail client masih belum dapat diakses pembaca layar, sehingga pengguna membutuhkan aplikasi pihak ketiga.
Tapi, tak ada salahnya untuk dicoba, khususnya bagi tunanetra yang penasaran ingin menjajal Android.
Memilih gadget yang tepat
Pilihlah gadget Android yang minimal memiliki tombol navigasi fisik untuk menggerakkan kursor ke atas bawah kiri kanan dan enter (trackball, trackpad, D-pad). Penulis merekomendasikan Google Nexus 1 yang masih memiliki tombol navigasi fisik, atau Motorola Milestone 2 yang memiliki keyboard QWERTY. Dua perangkat ini yang penulis gunakan untuk pengujian, dan sudah terbukti aksesibel bagi tunanetra.
Usahakan juga memilih gadget yang masih menggunakan menu standar bawaan Android. Contoh gadget yang tidak menggunakan menu standar Android adalah HTC Sense. Dikhawatirkan pembaca layar tak akan dapat berinteraksi dengan interface yang dikustomisasi oleh pihak ketiga, jadi penulis menyarankan untuk menghindari gadget yang menunya sudah dimodifikasi.
Jika ingin memilih produk lain (tetap harus ada tombol navigasi fisik), periksalah dulu di bagian Settings > Accessibility, apakah di dalamnya terdapat pembaca layar bawaan Android bernama Talkback. Kalau ada, silahkan gunakan gadget tersebut.
Pastikan juga gadget yang dipilih memiliki OS Android minimal versi 2.2.
Memasang aplikasi yang dibutuhkan
Banyak sekali aplikasi yang dapat digunakan tunanetra di Android, namun untuk kali ini penulis hanya memberikan yang penting saja, pokoknya pengguna tunanetra dapat mengakses fitur dasar dari Android.
Umumnya aplikasi yang penulis sarankan gratis dan langsung dapat diperoleh melalui Android market.
Pertama, install aplikasi Eyes-Free Shell agar home screen menjadi lebih mudah digunakan. Eyes-Free Shell memungkinkan tunanetra mengakses informasi seperti sinyal jaringan, tenaga baterai, daftar aplikasi, dan lain-lain.
Selanjutnya, install aplikasi Ideal Accessibility Installer. Program ini berfungsi memunculkan aplikasi mana saja yang perlu dipasang di gadget bagi pengguna tunanetra, sehingga tak perlu repot mencari-cari di market.
Berikutnya, install pembaca layar bernama Spiel. Ini tidak wajib, karena TalkBack sudah cukup memadai. Namun Spiel memiliki fitur tambahan yang diperlukan pengguna tunanetra yang aktif dan membutuhkan keterangan tambahan, misalnya informasi jumlah item pada menu.
Mengaktifkan pembaca layar
Mintalah orang berpenglihatan untuk mengaktifkan pembaca layar yang terdapat pada Settings > Accessibility. Jalankan Talkback sebagai pembaca layarnya, bisa juga mengaktifkan Soundback yang akan membunyikan suara bila jari menyentuh obyek di layar, atau Kickback yang akan menggetarkan gadget bila jari digerakkan dan menemukan obyek di layar.
Jika Spiel sudah terpasang, sebaiknya matikan Talkback dan gunakan Spiel sebagai pembaca layar utama. Tentu saja pengguna dapat berganti pembaca layar sesuai kebutuhan.
Empat tombol utama
Pada gadget Android terdapat empat tombol utama, baik berupa fisik maupun sentuh. Tiap gadget berbeda letak dan cara mengaktifkannya, namun untuk Google Nexus 1 tombol-tombol ini berbentuk sentuh dan letaknya ada di bagian bawah layar.
Ingatlah fungsi tombol-tombol ini karena akan sangat berguna dalam pengoperasian gadget.
BACK – Fungsinya untuk kembali ke layar sebelumnya. Jika jari diletakkan selama beberapa detik maka akan mengaktifkan home screen.
MENU – Memunculkan pilihan-pilihan, isinya akan menyesuaikan dengan aplikasi yang sedang dijalankan.
HOME – Mengembalikan posisi ke home screen (sesuai dengan yang terpasang atau terpilih). Jika jari diletakkan selama beberapa detik akan memunculkan daftar aplikasi yang terakhir digunakan.
SEARCH – Memunculkan kotak dialog search layaknya mesin pencari Google, dapat digunakan untuk pencarian website atau isi ponsel. Jika jari diletakkan beberapa detik maka akan muncul fungsi Voice Search.
Cara bernavigasi
Untuk menggerakkan kursor pada menu pilihan, gunakan trackball / D-Pad ke atas dan ke bawah. Kalau menunya berformat Grid, maka selain ke atas dan ke bawah, kursor dapat digerakkan ke kiri dan kanan.
Untuk mengaktifkan menu yang diinginkan, klik dengan tombol enter.
Akses ponsel dengan Free-Eyes Shell
Penulis menyarankan memasang home screen ini karena akan memudahkan tunanetra mengakses berbagai fungsi ponsel. Tekan tombol Home, maka Free-Eyes Shell akan aktif. Kalau di ponsel terpasang lebih dari satu home screen maka pilihlah Free-Eyes Shell.
Nah, letakkanlah jari di tengah-tengah layar. Bayangkan posisi tengah layar sebagai angka 5, berarti sebelah kirinya adalah 4, sebelah kanannya adalah 6, sebelah kiri atas adalah 1, sebelah atas adalah 2, sebelah kanan atas adalah 3, dan seterusnya (ingat-ingat pola tombol dial telepon).
Untuk mengetahui sinyal jaringan, letakkan jari di tengah layar (bayangkan posisi jari di angka 5), lalu geser ke atas (angka 2), lalu ke kiri (angka 1), dan lepaskan.
Untuk mengakses daftar aplikasi secara alfabetis, letakkan jari di tengah layar (angka 5), lalu geser ke bawah (angka 8), lalu lepaskan.
Untuk fungsi lain silahkan mengacu pada dokumentasi yang disertakan Free-Eyes Shell. Penulis hanya memberi contoh penggunaannya saja.
Penutup
Berhubung tiap gadget Android berbeda layout dan isinya, maka penulis tak dapat memberi penjelasan lebih detail mengenai bagaimana menemukan item tertentu. Penulis hanya dapat menjelaskan garis besarnya saja, dan semoga isi artikel ini dapat menjadi gambaran bagaimana kira-kira tunanetra dapat memfungsikan gadget Android.
Selain itu, keterbatasan perangkat membuat penulis tak dapat bereksperimen dengan gadget Android lain. Oleh karena itu diharapkan pembaca dapat membantu bereksperimen dengan gadget Android yang dijumpai dan sepertinya memiliki spesifikasi yang penulis sebutkan di atas.
Bila membutuhkan aplikasi yang lebih aksesibel, Anda dapat mengakses www.codefactory.es dan membeli Mobile Accessibility, aplikasi untuk Android berisi 10 program yang dapat digunakan oleh tunanetra (Web, kalender, GPS, dan lain-lain).
Bila Anda tertarik mendiskusikan langkah-langkah di atas, atau menemukan gadget Android lain yang aksesibel, silahkan menghubungi penulis via e-mail di ramavgm@gmail.com atau via Twitter di @ramadityaknight. Informasi dan saran yang diberikan akan sangat berguna bagi tunanetra di Indonesia yang ingin memakai gadget Android.
Selamat mencoba!
![]() |
Tentang Penulis: Eko Ramaditya Adikara adalah blogger tuna netra yang menggemari dunia digital dan teknologi informasi. Blognya bisa dibaca di http://ramaditya.com/. |
13 Oktober 2011 / 08.50 WIB
Posts by PSIBK
Jakarta - Deny Yen Martin Rahman (30) merasa diperlakukan tidak adil oleh maskapai penerbangan Citilink. Karena menyandang tunanetra, Deny dilarang menumpang pesawat Citilink tanpa pendampingan. Tak terima, dia pun lapor polisi.
“Karena saya sendirian, tunanetra tanpa pendampingan, saya tidak boleh terbang,” kata Deny saat dihubungi detikcom, Rabu (14/9/2011).
Deny menceritakan awalnya ia tiba di Bandara Juanda, Surabaya pukul 05.30 WIB hari ini. Deny hendak berangkat menuju Jakarta dengan jadwal penerbangan pukul 06.00 WIB. Ini kali pertama Deny menggunakan pesawat Citilink. Biasanya Deny terbang menggunakan maskapai Batavia Air dan Sriwijaya Air.
“Saat kita mau boading, tiba-tiba petugasnya tanya saya sama siapa. Saya bilang sendiri. Katanya tidak bisa ikut terbang,” ujarnya.
Menurut petugas Citilink tersebut, lanjut Deny, dalam aturan Citilink, setiap penumpang tunanetra dan anak-anak yang tanpa pendampingan, tidak bisa ikut terbang. Namun Deny terus berusaha berbicara dengan petugas tersebut agar bisa terbang. Namun permintaan Deny ditolak.
“Saya minta dihubungkan dengan seorang yang bertanggung jawab. Kemudian ketemu dengan supervisornya. Katanya dia, memang aturannya di Citilink seperti itu,” jelasnya.
Saat itu, Deny menanyakan bukankah Citilink satu grup dengan Garuda Indonesia. Supervisor tersebut menjelaskan kalau Garuda memang merupakan full service. Sedangkan Citilink merupakan low cost carrier (LCC).
“Kalau di Citilink servicenya dikurangi. Nggak ada yang mengantarkan,” kata Deny menirukan omongan supervisor tersebut.
Negosiasi antara Deny dan supervisor berlangsung alot. Deny tetap tidak bisa terbang bersama Citilink. Deny diminta merefund tiketnya. Namun Deny menolak. Deny pun batal terbang pagi itu.
Akhirnya Deny mengontak salah satu koleganya. Koleganya tersebut kemudian memberikan nomor telepon salah seorang komisioner Komnas HAM Saharuddin Daming. Deny pun lantas menelepon Daming. Daming kemudian menghubungi salah satu pejabat Garuda.
“Katanya Pak Daming setelah menelepon orang Garuda, nggak ada aturan seperti itu. Kemudian saya disuruh balik lagi tanya nama-nama petugas Citilink tadi,” ungkapnya.
Karena merasa kecewa dan diperlakukan tidak adil, Deny pun melaporkan hal ini ke Polsek Sedati, Sidoarjo atas perbuatan tidak menyenangkan. “Kalau lapor ke Komnas HAM sudah dengan Pak Daming. Katanya akan diproses,” kata dia.
(gus/fay)
Posted in Individu Berkebutuhan Khusus, Ketunaan, News, Tunanetra
13 Oktober 2011 / 08.45 WIB
Posts by PSIBK
Jakarta - Penyandang cacat rupanya sering mendapat diskriminasi oleh maskapai penerbangan saat akan melakukan perjalanannya. Para penyandang cacat diminta untuk melaporkan tindakan tersebut ke pihak yang berwenang.
“Teman-teman tidak boleh menyerah. Koordinasi dan laporkan ke lembaga berwenang misalnya Komnas HAM,” ujar staf harian Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Ridwan Sumantri kepada detikcom, Kamis (15/9/2011).
Menurut Ridwan, pihaknya sering mendapat laporan dari para penyandang cacat yang diperlakukan tidak adil. Meski tidak punya data, dia meyakinkan peristiwa itu sering terjadi.
“Banyak laporan yang masuklah,” jelasnya.
Ridwan juga menanggapi kasus Deny Yen Martin Rahman (30) yang merasa diperlakukan tidak adil oleh maskapai penerbangan Citilink. Karena menyandang tunanetra, Deny dilarang menumpang pesawat Citilink tanpa pendamping.
“Diskriminasi sekali, karena kaitan dengan budget cost. Kalau bawa pendamping akan menambah biaya, tidak semua mampu,” paparnya.
Menurut Ridwan seharusnya maskapai penerbangan menyediakan pemandu kepada penumpang penyandang cacat mulai dari check-in sampai naik ke pesawat. Hal itu sudah diatur dalam Undang-undang No 1 tahun 2009 tentang Penerbangan.
“Pemerintah harus peduli kasus ini, memberi sanksi hukum bagi pelaku. Dalam undang-undang No 1 tentang penerbangan, penyandang cacat harus dibantu dan dimudahkan, bukan dipersulit,” ungkapnya.
Ridwan mengatakan dirinya selama ini sering melakukan penerbangan ke luar negeri tidak tidak pernah menemui masalah. Dia juga pernah bertemu dengan beberapa direksi maskapai penerbangan untuk menyampaikan keluhan setiap penumpang penyandang cacat.
“Harusnya ada gerakan atau aksi khusus karena mereka tidak juga jera. Kasus ini sudah sering terjadi, tidak terhitung,” tukasnya.
(mpr/gah)
Posted in Individu Berkebutuhan Khusus, News
13 Oktober 2011 / 08.30 WIB
Posts by PSIBK
Jakarta - Pembaca, gonjang-ganjing soal kasus penjualan iPad 2 yang kini tengah ditangani pihak berwajib tampaknya masih terus menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Nah, bagaimana kalau kita istirahat sejenak dan menengok rekan-rekan kita para penyandang disabilitas, yang ternyata sangat berminat menjajal tablet besutan Aple tersebut?
Lewat tulisan kali ini penulis ingin menunjukkan bagaimana iPad dapat menjadi gadget yang ramah dan bersahabat bagi penggunanya yang berkebutuhan khusus, baik tunanetra, tunadaksa, atau kelainan fisik lainnya.
Kehadiran iPad di industri komputer telah banyak memberi warna baru, baik di sektor bisnis, pendidikan, bahkan hiburan. Dengan antarmuka layar sentuh yang diusungnya, serta kemudahan cara pakainya, telah banyak orang yang memanfaatkan iPad untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Tak hanya dipergunakan untuk bekerja, bergaya, atau main game, kini iPad pun telah menjadi gadget yang dapat membantu rekan-rekan kita yang memiliki kelainan fisik atau masalah tubuh lainnya.
Sayangnya, tak banyak di antara kita yang menyadari hal tersebut, padahal iPad sendiri sudah cukup aksesibel bagi penyandang disabilitas.
Dengan menunjukkan faktor-faktor aksesibilitas yang telah terintegrasi di dalam produk Apple ini, diharapkan semakin banyak orang berkebutuhan khusus di Indonesia yang dapat memakai dan menggali manfaat dari gadget bernyawa IOS tersebut.
1. Layar sentuh
Teknologi touch screen yang disajikan dalam bidang layar yang besar ternyata dapat membantu penggunanya yang memiliki masalah dengan otot dan tulang. Beberapa macam penyakit menyebabkan seseorang tak dapat memijat atau menekan tombol fisik, sehingga mustahil bagi mereka untuk dapat mengoperasikan gadget dengan tombol fisik.
Pengguna tunanetra pun lebih leluasa mengoperasikan touch screen, karena ukuran layar yang melebihi 9 inci dirasa cukup untuk melakukan navigasi, tak seperti ponsel pintar atau tablet lain yang rata-rata berlayar lebih kecil.
Selain itu, telah tersedia screen protector yang dibuat khusus untuk tunanetra, di mana telah dicetak titik-titik menonjol yang mewakili virtual keyboard untuk mengetik. Hal ini tentu memudahkan tunanetra yang ingin mengetik cepat namun belum terbiasa menggunakan touch screen dan tak ingin membeli aksesoris keyboard tambahan (penulis pernah membahas tentang aksesoris ini akhir tahun 2010).
2. Perintah suara
Saat ini telah banyak aplikasi yang beredar untuk iPad yang telah mengakomodasi fitur voice command. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memberi perintah atau instruksi dengan menggunakan suara mereka.
Fasilitas ini sangat membantu penderita Stroke yang kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya, karena mereka cukup mengucapkan perintah untuk mengoperasikan gadgetnya, dan hal itu juga dapat digunakan untuk mengerjakan dokumen sederhana.
Lho, bukankah fitur semacam ini sudah tersedia di banyak ponsel pintar? Memang, namun biasanya voice command hanya tersedia untuk sistem operasi saja, dan tidak diikutsertakan dalam aplikasi pihak ketiga.
Meski fitur ini belum dapat menerima input yang kompleks, namun sudah memadai untuk membantu mereka yang kehilangan fungsi geraknya.
3. Pembaca layar
Inilah si “sekretaris pribadi” bagi tunanetra yang telah dibenamkan Apple pada produknya. Sebuah pembaca layar bernama Voice Over akan mengubah teks menjadi suara, sehingga tunanetra dapat mendengarkan informasi yang tampil di layar. Mainkan saja jari-jari di atas layar dan sentuh elemen-elemen yang berupa teks, maka suara lembut dari speech engine Vocalizer — yang menjadi penyuara Voice Over — akan membacakan teks tersebut.
Bagi tunanetra yang masuk kategori lemah penglihatan (low vision), Voice Over juga menyediakan fitur untuk memperbesar ukuran huruf dan icon, sehingga mereka yang kesulitan membaca tulisan yang font-nya terlampau kecil dapat membesarkan font tersebut sesuai kebutuhan.
Asyiknya, bagi pengembang aplikasi yang ingin membuat program khusus bagi tunanetra, atau yang memanfaatkan teknologi speech recognition, Apple telah menyediakan Voice Over untuk dapat diimplementasikan dalam aplikasi yang hendak dibuat!
Di Inggris, Royal National Institute of Blind People telah merekomendasikan penggunaan iPad bagi warga Inggris yang tunanetra, karena iPad dinilai cukup aksesibel digunakan oleh tunanetra.
Voice Over sendiri sudah sejak lama diintegrasikan pada iPod dan iPhone.
4. Suara mono
Bagi penyandang tunarungu atau mereka yang kehilangan sebelah fungsi pendengarannya tentu tak dapat menikmati sistem suara stereo. Setidaknya, mereka butuh satu telinga, baik kanan atau kiri, untuk menerima informasi suara yang dikeluarkan iPad.
Untuk itu, Apple telah menyediakan fitur Mono Audio, yang kalau diaktifkan, maka iPad akan mengkonversi suara stereo yang biasanya keluar ke earphone kiri dan kanan menjadi satu jalur, kiri atau kanan saja.
5. Pengaturan aksesibilitas
Apa pun jenis disabilitas yang disandang seseorang, saat ia membeli iPad dan hendak menggunakannya, maka ia tak perlu lagi membeli aplikasi tambahan. Hal itu dimungkinkan karena di dalam iPad sudah terdapat pengaturan aksesibilitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya.
Kalau ingin membandingkan, mungkin padanannya ada pada sistem operasi Windows, di mana biasanya di menu Accessories terdapat pilihan Accessibility Options. Hanya saja, pada sistem operasi Windows fitur ini dibuat seadanya dan tidak dioptimalkan.
Pada pembahasan yang akan datang, penulis akan mengulas berbagai aplikasi aksesibel yang dapat digunakan oleh rekan-rekan berkebutuhan khusus. Namun, sekarang cukuplah memahami dulu bahwa ternyata gadget besutan Apple ini dapat menjadi sahabat bagi rekan-rekan semua.
Dengan adanya pengetahuan ini, semoga dapat membantu rekan-rekan yang memiliki kelainan atau disabilitas untuk lebih percaya diri saat masuk ke Apple Store dan hendak membeli iPad.
![]() |
Tentang Penulis: Eko Ramaditya Adikara adalah blogger tuna netra yang menggemari dunia digital dan teknologi informasi. Blognya bisa dibaca di http://ramaditya.com/. |
10 Oktober 2011 / 09.30 WIB
Posts by PSIBK

Rekoris : Michael Rosihan Yacub
Michael Rosihan Yacub lahir di Jakarta pada 25 Februari 1990, berhasil tercatat di MURI atas rekornya anak down syndrome dengan IQ 35, berhasil menggapai prestasi dibidang olahraga yaitu golf. Michael adalah murid sekolah SLB-C Dian Grahita duduk di kelas 3 atau setingkat SMU. Sejak tahun 2006 tercatat sebagai pemain golf down syndrome se-Asia (Singapore). Penyerahan piagam MURI berlangsung di Jakarta pada 24 Januari 2010.
Posted in Individu Berkebutuhan Khusus, News