ADHD

ADHD atau Attention Defisit Hyperactivity Disorder merupakan suatu pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan imulsif (semaunya sendiri), Taylor 1998. Diketahui berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada sebuah Sekolah Dasar di Jogja bahwa terdapat kemungkinan sebesar 85,7 % bahwa anak tersebut termasuk anak yang mengalami ADHD. Diantaranya beberapa karakteristik yang menggambarkan anak dengan ADHD, yaitu sering mendapat kesulitan untuk tetap memperhatikan yaitu ketika mengikuti pembelajaran perhatian anak sangat mudah teralihkan, tidak berkonsentrasi, dan banyak bergerak sehingga tidak mampu menyelesaikan tugasnya.

            Anak yang memiliki kecenderugan ADHD sering mendapat kesulitan untuk mengatur tugas atau kegiatan, jadi anak tersebut harus didampingi saat mengerjakan tugas, terkadang anak mampu bertahan hanya dalam waktu yang sangat singkat, kemudian ditinggal bermain. Dalam menjalin relasi dengan teman sebayanya, anak dengan ADHD tetap mampu untuk membangun interaksi dengan temannya, namun terkadang menurut seorang guru pendamping, anak masih memiliki ego yang tinggi hal ini sehingga menyulitkannya untuk berinteraksi dengan teman sebayanya.

            Pencapaian prestasi belajar pada anak dengan kecenderungan ADHD masih banyak ditemui masalah, masalah tersebut seperti saat guru pendamping memerintahkan anak untuk menulis materi yang telah di jelaskan di papan tulis, anak tersebut tidak mau menulisnya dan saat guru mulai memberikan tugas untuk dikerjakan, anak tersebut tidak mau mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya.

            Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, anak yang memiliki ADHD sering marah saat apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan keinginannya, kemudian anak tersebut akan melemparkan benda-benda yang ada disekitarnya untuk menunjukkan bahwa dia sedang marah. Dalam menangani anak dengan ADHD guru pendamping tersebut menanganinya dengan cara menenangkan sang anak, kemudian mendekatinya, melakukan apa yang dia inginkan dan apa yang dia senangi, ikut bermain dengan sang anak, menegurnya dengan cara yang lembut agar sang anak tidak salah pengertian dalam menangkap maksud dari guru pendampingnya. Pada dasarnya anak dengan ADHD membutuhkan pendampingan yang lebih.

Poster ABK ADHD

  ANAK LUAR BIASA, ANAK GIFTED

Kata ‘gifted’ bukan lah merupakan kata baru merupakan sudah ada semenjak tahun 1869. Pencetus awal gifted adalah Sir Francis Galton pada tahun 1869 yang merujuk pada bakat istimewa tidak biasa yang dimiliki manusia yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Galton berpendapat bahwa keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Anak-anak yang menunjukkan bahwa mereka memiliki bakat istimewa ini disebut sebagai gifted children (anak gifted).

Seiring berjalannya waktu, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140. Berdasarkan penelitiannya, meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak hanya disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga karena faktor-faktor non-kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk “Gifted Children, Their Nature and Nurture” . Dalam buku ini ia mengungkapkan bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, dan tidak akan pernah teraktualisasi.

Saat ini, gifted merupakan kata yang diberikan untuk menjelaskan kondisi sebagian kecil orang dari populasi umum yang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu jauh di atas rata-rata dari orang-orang seusianya. Diperkirakan, sekitar 5% populasi manusia adalah gifted.

Oleh sebab itu, mahasiswa PGSD angkatan 2014 yang bernama Niken Anggraini, Theresia Tri Wiyanti, Haris Mardiyanto, dan Fransiscus Deo Putra S, menyusun instrumen observasi dan wawancara untuk menggali pengetahuan mengenai anak gifted. Mereka melakukan observasi di salah satu sekolah yang memiliki siswa yang merupakan anak gifted.

Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru maupun orangtua, ditemukan bahwa anak gifted memiliki kemampuan berbahasa, dan mengungkapkan keinginan dengan bahasa verbal yang baik. Kemudian mereka juga mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap segala aspek ilmu pengetahuan, memiliki kemampuan yang tinggi dalam berpikir logis dan kritis, memiliki kemauan belajar yang tinggi dan berkerja secara mandiri. Mereka mampu menyelesaikan permasalahan tanpa putus asa, memiliki tujuan yang jelas pada setiap langkah yang diambil, serta suka mengamati hal atau objek benda dengan cermat dan teliti. Lalu, mereka dapat memikirkan beberapa alternative pemecahan masalah, memiliki minat yang sangat luas dengan daya imaginasi tinggi, mampu belajar dengan mudah dan cepat, dapat mengungkapkan dan mempertahankan pendapatnya jika merasa benar, serta mampu mempertahankan konsentrasi dalam setiap langkah yang diambil dan aktif.

Gifted juga memiliki sisi negatif dari diri mereka yaitu biasanya mereka menggunakan humor sebagai manipulasi, sering menganggap mudah sebuah masalah, dan bosan jika harus mengulang-ulang masalah tertentu tanpa adanya pencapaian yang tinggi. Biasanya mereka juga suka mendominasi diskusi pembicaraan, dan kalau aktivitas tidak memenuhi standar mereka atau kurang dari yang mereka harapkan, anak akan menjadi bingung hendak melakukan apa lagi, dan akan membuat mereka terlihat sebagai anak yang pemalas.

Gifted sendiri merupakan kondisi yang seharusnya membuat para orangtua bahagia dan bangga karena mereka memiliki anak yang luar biasa cerdas. Hanya saja, sebagian besar orangtua tidak memahami potensi tersebut, begitu pula dengan lingkungan. Orangtua dan lingkungan yang tidak memahami potensi yang dimiliki anak gifted akan berakibat pada terjadinya hambatan dalam perkembangan anak gifted. Padahal, jika orangtua dapat membimbing dengan baik dan tepat maka anak gifted akan menjadi anak yang luar biasa.

Ignatia Rohan

Info!

selamat pagi para generasi muda penerus bangsa. Kami dari Pusat Studi Individu berkebutuhan khusus mengajak teman-teman untuk berpartisipasi bersama PSIBK dengan mengirimkan artikel maupun berbagai jenis tulisan yang berkaitan dengan pembahasan anak dan individu berkebutuhan khusus. untuk informasi selanjutnya dapat menghubungi kami melalui FB: Pusat Studi Ibk Usd. email: psibk.usdy@gmail.com. hp: 0857-4386-8585. terimakasih untuk partispasi anda. salam PSIBK🙂

Informasi

Selamat Pagi, kami dari Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, akan kembali mengaktifkan Blog PSIBK. Terkait dengan pertanyaan, kami harapkan dapat dilengkapi dengan kontak email. Kami akan memberikan balasan pada jam kerja pukul 09.00-15.00 WIB. Terima Kasih🙂

Informasi Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Tunarungu Indonesia 2014

Poster Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Tunarungu Indonesia

posterBrosur Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Tunarungu Indonesia

BrosurLatar Belakang

Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan program pengembangan kompetensi guru sekolah tunarungu. Tidak hanya kompetensi akademik, tetapi juga pemahaman terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, guru membututhkan pengembangan kompetensi dalam mendidik anak tunarungu di sekolah.

PSIBK sebagai pusat studi yang bergerak di bidang individu berkebutuhan khusus mengadakan pengembangan kompetensi guru sekolah tunarungu. Pelatihan untuk angkatan telah dilakukan pada tahun 2010-2012.

Tujuan

Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah untuk memahami tentang bagaimana anak tunarungu sadar bunyi, kriteria pendengaran, lingkaran komunikasi, pengaruh bunyi dalam kehidupan manusia, tahapan kemampuan pendengaran dan berbagai kemungkinan aktifitas yang dapat dilakukan.

Waktu

  • Tahap I   : 6 – 31 Januari 2014
  • Tahap II : 2 -27 Juni 2014

Tempat : Ruang Seminar Barat LPPM, Universitas Sanata Dharma Mrican, Tromol Pos 29, Yogyakarta

Fasilitas : Konsumsi, Sertifikat, Modul dan Kit Pelatihan

Kriteria Peserta

  1.  Guru anak tunarungu
  2. Berpengalaman mengajar minimal 1 tahun
  3. Usia maksimal 50 Tahun
  4. Berkomitmen meningkatkan pendidikan anak tunarungu
  5. Sanggup mengikuti seluruh program pelatihan

Pendaftaran: dapat dilakukan melalui SMS, telepon atau email. Di tutup pada tanggal 10 Desember 2013. Biaya pelatihan Rp 5.000.000,00/orang selama 2 semester (8 minggu tatap muka).

Contact Person :

Wahyu Wido S., M.Biotech ( 085691485295)

Sr. Crescentiana PMY ( 082136277018)

Film Indonesia Bertemakan IBK (Individu Berkebutuhan Khusus)

Sekarang ini, banyak sekali film-film layar lebar yang mulai konsen terhadap perkembangan individu berkebutuhan khusus. Seiring dengan perkembangan industri film, semua dikemas dengan lebih menarik dan berkesan dramatik. Indonesia pun tidak mau kalah untuk unjuk gigi ke dunia perfilman internasional, beberapa karya anak bangsa yang bertemakan IBK mulai bermunculan. Salah satu film yang cukup dikenal masyarakat adalah film berjudul Simfoni Luar Biasa, yang dibintangi aktor sekaligus penyanyi Christian Bautista. Lalu ada juga film Ayah, Mengapa Aku Berbeda yang diperankan oleh Dinda Hauw dengan mengangkat cerita tentang anak tunarungu.

Baru-baru ini, mulai banyak sineas muda di Indonesia yang tertarik untuk membuat film dengan tema anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti film besutan Mouly Surya yang baru saja menyabet penghargaan NETPAC di Rotterdam yaitu Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (Tidak Dibicarakan Cinta) juga mengangkat cerita tentang anak tunarungu dan low vision. Film ini juga masih membahas tema cinta tetapi dengan kompleksitas para individu berkebutuhan khusus. Aktor yang dipercaya untuk bermain di film ini adalah Nicholas Saputra dan didampingi oleh Ayushita.

Selain film tersebut, ada juga film yang belum lama dirilis bertemakan kehidupan anak autis, yaitu I’m Star. Film ini mengisahkan tentang bagaimana seluk beluk dan kehidupan anak autis. Beberapa film tersebut di atas hanya sebagian kecil dari karya anak bangsa. Semoga dengan berkembangnya dunia perfilman Indonesia, semakin banyak sineas bangsa yang bersedia mengangkat cerita anak-anak berkebutuhan khusus secara lebih mendidik. BRAVO PERFILMAN INDONESIA! (ewd)

Simfoni_Luar_Biasa

45TjIF_Dont-Talk-Love---Official-Poster--Inline

230px-Ayah_aku_berbeda

Penutupan Paralimpiade Berlangsung Meriah

paralympiade

Paralimpiade London 2012 berakhir dengan pesta penutupan yang semarak dan penyerahan secara resmi pada tuan rumah 2016, Rio de Janeiro.

Pertunjukan yang disebut sebagai ‘festival api’ untuk menghormati tradisi dan festival kuno Inggris, mengakhiri pesta olahraga 11 hari itu.

Band Inggris Coldplay menjadi band utama yang menghibur para audiens dengan pertunjukan yang dimulai pada 20.30 waktu setempat.

Even itu sekaligus menutup apa yang disebut oleh para penyelenggara sebagai ‘Paralimpiade terbesar sepanjang masa.’

Tidak seperti upacara-upacara Olimpiade lainnya, semua atlet yang berjumlah 4.200 duduk di sekitar arena utama.

Dalam pidatonya, presiden Komite Paralimpiade Internasional, Sir Philip Craven, mengatakan “Pesta olahraga ini telah mengubah kita selamanya.”

Cina memuncaki perolehan medali dengan total 231 medali yang 95 diantaranya adalah medali emas. Inggris Raya berada di posisi ketiga di belakang Rusia dengan total 120 medali dan 34 diantaranya adalah emas.

Atlet Paralimpiade Ellie Simmonds dan Jonnie Peacock memadamkan api Paralimpiade yang melambangkan “sifat api yang abadi akan hidup dalam diri kita semua.”

Setiap negara peserta akan membawa pulang satu dari 200 kelopak timah yang membentuk kauldran Paralimpiade.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2012/09/120910_paralympic_closing.shtml

Indonesia Raih Medali Pertama Paralimpiade

Untuk pertama kalinya bendera merah putih berkibar di ajang Paralimpiade London setelah atlet tenis meja Dian David Mikhael Jacobs mempersembahkan medali perunggu dalam pertandingan yang digelar di Excel Arena.

Ia mengalahkan atlet Spanyol Jose Manuel Ruis Reyes dengan skor 11-9 11-7 1111-5 11-6.

David yang dalam paralimpiade kali ini turun pada kategori 10 dalam tenis meja atau kategori dengan tingkat kecacatan paling rendah sebelumnya kalah dari pemain asal Cina, Yan Ge pada pertandingan semifinal hari Sabtu (01/09) kemarin.

Ini adalah pertemuan kedua bagi dua petenis kdial tersebut. Reyes mengalahkan David 2-3 pada pertemuan pertama.

Medali emas tenis meja direbut Polandia sedangkan Cina meraih medali perak.

Ketua Umum National Paralympic Committe (NPC) Senny Marbun mengatakan Indonesia sangat bangga dan bersyukur dengan kemenangan pertama ini.

“Terimakasih kepada Tuhan yang mengizinkan David mendapat medali dan ini adalah medali pertama Indonesia dalam Paralimpiade,” kata Senny.

“Kita semakin percaya bahwa kita dapat berprestasi di tingkat dunia meski dengan persiapan pas-pasan.”

Senny berharap pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memahami bahwa masyarakat difabel, khususnya para atlet, siap membela dan mengharumkan nama bangsa dan negara.

“Medali ini kami persembahkan kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan dukungan langsung mau pun melalui doa,” kata Senny.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia

Medali Emas Pertama dalam Paralimpiade

 Zhang CuipingZhang Cuiping mencetak rekor Paralimpiade dalam nomor tembak putri.

Medali emas pertama Paralimpiade London direbut atlet Cina Zhang Cuiping, yang mencetak rekor baru dalam cabang tembak putri.

Zhang Cuiping meraih medali emas pertama dengan skor keseluruhan 500,9 poin, jauh di atas atlet Jerman Manuela Schmermund di tempat kedua dan Natalie Smith dari Australia yang merebut perunggu.

Zhang mencatat rekor baru dalam Paralimpiade dengan skor pada final 104,9 poin.

Atlet Australia lain, nenek berusia 70 tahun Elizabeth Kosmala, atlet tertua dalam Paralimpiade 2012, berada di posisi ke delapan dalam final dengan skor keseluruhan 488,7.

Kosmala yang pertama kali ikut dalam Paralimpiade pada tahun 1972 di Heidelberg, Jerman mengatakan, “Begitu masuk final, Anda menginginkan medali. Jadi tentu saja saya kecewa.”

Atlet Indonesia Tak Ikut

Jumlah keseluruhan medali emas yang diperebutkan dalam hari pertama Paralimpiade Kamis (30/08) termasuk dari cabang tembak, bersepeda, judo, angkat berat dan renang.

Sementara itu, atlet renang Indonesia Agus Ngaimin tidak dapat ikut serta karena sakit, kata James Tangkudung, ketua kontingen Indonesia.

James juga mengatakan atlet angkat berat, Ni Nengah Widiarsih, akan turun pada Kamis malam (30/08).

Paralimpiade London adalah pesta olahraga defabel terbesar dengan lebih dari 4.000 atlet dari 165 negara ikut serta.

Paralimpiade dibuka di Stadion Olimpiade Rabu malam (29/08) dalam upacara spektakuler yang dihadiri Ratu Elizabeth.

Ilmuwan Inggris Stephen Hawking, yang digambarkan penyelenggara sebagai “penyandang cacat paling terkenal”, menarasikan upacara pembukaan.

Penggolongan Cabang Paralimpiade 2012

Setelah pesta akbar Olimpiade usai digelar, giliran Paralimpiade yang mengambil alih London.

Dalam pesta olahraga penyandang cacat itu -yang sering juga disebut dengan orang dengan kemampuan berbeda- akan dipertandingan 20 cabang olahraga, namun tidak semua penyandang cacar bisa ikut berpartisipasi.

Semua cabang yang dipertandingkan memiliki syarat dan klasifikasi masing-masing.

PANAHAN

Panahan terbuka untuk diikuti para atlet dengan keterbatasan fisik namun katagorinya dibagi menjadi tiga kelas.

ARW 1: Atlet yang menggunakan kursi roda dengan cacat di seluruh keempat tungkai.

ARW 2: Atlet pengguna kursi roda namun kedua tangan masih berfungsi baik.

Paralimpiade

ARST (berdiri): Para atlet berkompetisi sambil berdiri termasuk mereka yang membutuhkan alat bantu berdiri karena keseimbangan yang buruk.

ATLETIK

Semua kelompok penyandang cacat bisa mengikuti cabang ini dan untuk membedakan mereka maka digunakan sistem huruf dan angka.

Huruf F adalah untuk atlet lapangan, T menjadi tanda mereka yang berlomba di lintasan dan nomor digunakan untuk menunjukkan jenis cacat yang disandang

11-13: Para atlet lapangan dan trek yang memiliki masalah penglihatan. Para atlet tuna netra berkompetisi di kelas 11, mengenakan penutup mata dan dibantu seorang pemandu.

Para atlet kelas 12, adalah mereka yang juga memiliki masalah penglihatan namun masih bisa memilih apakah akan menggunakan bantuan pemandu atau tidak.

20: atlet lapangan dan trek yang memiliki keterbatasan berpikir. Di London terdapat tiga nomor yang dipertandingkan di kelas ini yaitu lari 1500m, lompat jauh, dan tolak peluru.

31-38: katagori khusus untuk para atlet yang menderita kelumpuhan otak atau gangguan lain yang mengganggu fungsi kordinasi dan kontrol otot.

Atlet yang termasuk katagori 31-34 berkompetisi dengan posisi duduk sedangkan atlet katagori 35-38 berkompetisi dengan berdiri.

40: Para atlet nomor lapangan dan lintasan yang memiliki kelainan tinggi badan.

42-46: Khusus untuk para atlet yang mengalami amputasi. Dalam kelas 42-44, atlet yang diamputasi kakinya dan kelas 45-46 adalah untuk mereka yang mengalami amputasi tangan.

T51-54: Adalah katagori atlet nomor lintasan yang menggunakan kursi roda. Atlet di kelas 51-53 menderita cacat baik di tungkai atas atau bawah, sementara atlet-atlet katagori T54 menderita gangguan fungsi di sebagian kaki dan tubuh.

F51-58: Atlet nomor lapangan yang menggunakan kursi roda. Para atlet di kelas F51-54 memiliki fungsi bahu, lengan dan tangan yang terbatas serta kaki dan pinggul yang tak berfungsi.

Sementara atlet berkatagori F54 memiliki fungsi tangan dan lengan yang normal, sedangkan di katagori F55-58 fungsi kaki dan pinggul sedikit lebih baik.

BOCCIA

Paralimpiade

Boccia atau semacam permainan bowling juga terbuka untuk atlet dengan kelumpuhan otak serta gangguan fisik berat lainnya yang bertanding menggunakan kursi roda dengan empat klasifikasi.

BC1: Para pemain dengan kerusakan otak yang mampu menggunakan tangan atau kaki untuk secara konsisten menggerakkan bola dalam permainan. Para atlet katagori ini didampingi pemandu untuk memberikan bola sebelum mereka melakukan lemparan.

BC2: Para atlet dengan kelumpuhan otak namun mampu menggunakan tangan dan kaki jauh lebih baik dibanding atlet katagori BC1.

BC3: Para atlet dengan kelumpuhan otak atau disfungsi gerak lain di keempat tungkai yang tak mampu melempar atau menendang bola dalam permainan sehingga diperbolehkan menggunakan alat bantu untuk menggerakkab bola di dalam permainan dan dibantu seorang asisten yang bertugas menyusun jalur lemparan bola.

BC4: Para atlet yang tak memiliki masalah kelumpuhan otak namun memiliki gangguan fungsi gerak lain di keempat tungkai dan memiliki kemampuan fungsional seperti atlet BCS. Kondisi seperti distrofi otot, kelainan spina bfida (tulang belakang terbuka), tetraplegia, berada dalam katagori ini.

BALAP SEPEDA

Cabang balap sepeda terbuka untuk para atlet yang mengalami amputasi, para les autres (atlet yang tak bisa dimasukkan katagori lain), atlet dengan kelumpuhan otak dan gangguan penglihatan.

Mereka akan berlaga baik di nomor jalan raya dan nomor lintasan.

Para atlet dengan gangguan fisik berlomba dengan sepeda (jalan raya dan lintasan), sepeda tangan dan sepeda roda tiga (hanya untuk nomor jalan raya). Sementara atlet dengan masalah penglihatan turun di cabang tandem dengan didampingi seorang pemandu.

Sepeda tangan kelas H1-4: Para atlet di kelas H1-3 berlomba dengan posisi berbaring. Atlet H1 adalah mereka yang tak memiliki fungsi pinggang dan kaki yang hanya mengandalkan fungsi tangan.

Paralimpiade

Sementara katagori H3 tidak memiliki kaki namun memiliki fungsi pinggul dan lengan yang baik. Sedangkan atlet H4 duduk di atas lutut mereka dan menggunakan lengan serta pinggulnya.

Sepeda roda tiga T1-2: Balapan bagi atlet yang tak mampu menaiki sepeda karena kondisi yang mempengaruhi keseimbangan dan kordinasi mereka.

Para atlet di katagori T1 memiliki masalah kordinasi yang lebih serius dibanding para atlet katagori T2.

Nomor sepeda C1-5: Diikuti para atlet yang menderita kelumpuhan otak atau mengalami amputasi. Para atlet C1 memiliki keterbatasan yang lebih banyak sementara atlet C5 hanya memenuhi kriteria cacat yang sangat minim.

BERKUDA

Semua atlet penyandang cacat bisa ambil bagian dalam nomor berkuda yang dibagi dalam lima tingkatan.

Tingkat Ia: Para atlet yang menyandang gangguan berat pada tungkai dan kontrol pinggang yang buruk. Mereka biasanya menggunakan kursi roda dalam kehidupan sehari-hari.

Tingkat Ib: Para atlet berkuda yang fungsi kontrol pinggangnya mulai menurun dan kondisi tungkai atas yang sangat minim serta kondisi tungkai bawah yang buruk. Beberapa dari atlet ini menggunakan kursi roda.

Tingkat II: Atlet dalam katagori ini memiliki fungsi kedua tungkai bawah yang buruk namun memiliki keseimbangan pinggang yang baik. Kondisi lain adalah fungsi tungkai atas dan bawah yang sedikit terganggu. Beberapa dari mereka sehari-hari menggunakan kursi roda.

Tingkat III: Di katagori ini para atlet bisa berjalan tanpa bantuan namun memiliki gangguan di kedua tangan atau tak memiliki tangan. Atlet yang memiliki gangguan di keempat tungkainya juga masuk bersama para atlet berkuda tuna netra dan atlet yang memiliki masalah tinggi badan.

Tingkat IV: Para atlet yang mampu berjalan sendiri namun memiliki masalah penglihatan, berkurangnya kemampuan gerak atau menurunnya kekuatan otot serta fungsi tangan dan kaki yang terganggu.

SEPAKBOLA

Cabang sepakbola dimainkan dengan lima atlet yang memiliki gangguan penglihatan di setiap timnya. Sementara itu sepakbola dengan tujuh pemain di masing-masing tim diperuntukkan bagi para atlet dengan gangguan saraf motorik yang menghambat koordinias gerakan atau celebral palsy.

Dalam tim berisi lima pemain, mereka harus mengenakan penutup mata kecuali penjaga gawang. Namun penjaga gawang tidak boleh meninggalkan daerahnya. Aturan offside juga ditiadakan.

Bola yang digunakan dalam pertandingan dilengkapi peralatan khusus untuk menghasilkan bebunyian saat bola bergerak.

Sedangkan dalam cabang sepakbola dengan tujuh pemain, terdiri dari para atlet katagori C5, C6, C7, dan C8. Penentuan pemain sangat tergantung kemampuan mengontrol bola dan masalah kordinasi tubuh saat berlari.

Semua katagori cabang sepakbola terdiri atas para atlet yang mampu berdiri sendiri. Sementara di nomor lima pemain diisi para atlet yang setidaknya secara fisik mampu bermain.

Dalam setiap pertandingan setidaknya ada satu atlet katagori C5 atau C5 dan setiap tim tak diperkenankan menggunakan lebih dari dua pemain katagori C8 di lapangan.

BOLA GAWANG

Permainan ini dirancang untuk para atlet tuna netra dan dengan aturan khusus maka cabang ini tak memerlukan klasifikasi.

Para pemain mengenakan penutup mata untuk memastikan apakah seseorang terganggu penglihatan atau buta total supaya bisa berkompetisi secara adil. Penutup mata akan diperiksa selama pertandingan berlangsung.

Bola yang digunakan dilengkapi lonceng di dalamnya untuk mengarahkan para pemain dan sebagai akibatnya maka permainan ini dimainkan dalam keheningan.

JUDO

Cabang judo hanya diikuti para atlet yang memiliki keterbatasan penglihatan. Tak ada kategorisasi karena peserta dipisahkan menurut berat badan.

Bedanya adalah para pejudo ini memulai pertandingan dengan saling ‘mencengkeram’ dan tidak berdiri terpisah seperti judo pada umumnya.

ANGKAT BESI

Paralimpiade

Cabang ini terbuka untuk semua atlet dengan keterbatasan fisik dan dibagi menurut berat badan peserta.

Para atlet yang berkompetisi adalah mereka yang memiliki keterbatasan di tungkai bawah atau pinggang, termasuk mereka yang lumpuh, mengalami kerusakan saraf otak dan amputasi.

Baik atlet putra dan putri akan berkompetisi dalam 10 kelas yang berbeda.

DAYUNG

Cabang dayung dibagi ke dalam empat kelas perahu.

AM1x: Perahu dayung satu kursi untuk putra. Atlet bisa menggerakkan lengannya secara maksimal.

AWIx: Perahu dayung satu kursi untuk putri. Atlet hanya bisa menggunakan lengannya secara maksimal.

TA2x: Dua atlet campuran dengan kemampuan lengan dan pinggang.

LTA4+: Perahu berisi dua atlet putra dan dua atlet putri ditambah seorang pengemudi di atas tempat duduk geser. Nomor ini terbuka bagi para atlet yang memiliki keterbatasan penglihatan namun memiliki pergerakan kaki, pinggang, dan lengan. Di atas setiap perahu hanya dimungkinkan dua atlet yang memiliki keterbatasan penglihatan dan selalu mengenakan penutup mata selama latihan dan kompetisi.

LAYAR

Cabang layar bisa diikuti atlet dengan berbagai keterbatasan mulai dari mereka yang diamputasi, kerusakan saraf otak, keterbatasan penglihatan, menggunakan kursi roda dan kelompok lain yang tidak bisa dimasukkan ke dalam katagori manapun.

Terdapat tiga kelas yang dipertandingkan yaitu: kelas sonar dengan tiga awak, Skud-18 dengan dua atlet, dan 2,4mR yang hanya membutuhkan satu awak.

Peringkat peserta didasarkan sistem angka satu hingga tujuh dengan angka terendah diberikan untuk atlet yang memiliki keterbatasan fisik tinggi sedang angka tertinggi untuk atlet yang tingkat keterbatasan fisiknya rendah.

Dalam kelas dengan tiga orang awak maka maksimum nilai untuk ketiganya adalah 14.

Dalam katagori Skud-18. satu awak memiliki tingkat keterbatasan sangat buruk (sama dengan kelas satu atau dua) sementara kru lainnya harus memiliki level keterbatasan yang lebih rendah demi menjaga keadilan dalam berkompetisi.

Dalam kelas satu orang kru, maka pesertanya harus memiliki level keterbatasan fisik yang sama.

MENEMBAK

Para atlet menembak akan dibagi dalam kelas kursi roda dan kelas berdiri.

Paralimpiade

Kedua kelas ini kemudian dibagi dalam enam sub kelas yang masing-masing kelas dibedakan dengan alat bantu gerak yang boleh digunakan para atlet.

SH1: Untuk nomor pistol dan senapan yang tak membutuhkan alat bantu berdiri khusus.

SH2: Untuk para atlet yang memiliki gangguan tungkai bagian atas dan membutuhkan alat bantu berdiri.

RENANG

Renang adalah satu-satunya olahraga yang menggabungkan antara kondisi tak memiliki tungkai, keterbatasan kordinasi dan gerakan tubuh, serta berbagai jenis kelumpuhan dan keterbatasan fisik lainnya.

1-10: Diperuntukan bagi atlet dengan satu keterbatasan fisik. Semakin rendah nomor yang digunakan semakin kompleks pula keterbatasan fisik atlet itu.

11-13: Untuk atlet dengan gangguan penglihatan.

14: Ditujukan untuk para atlet yang memiliki keterbatasan intelektual.

Akhiran S menunjukkan kelas gaya bebas, gaya punggung, dan kupu-kupu. SB untuk gaya dada dan SM untuk gaya ganti perseorangan.

Awalan dan nomor digunakan untuk membedakan klasifikasi. Perenang dengan multi keterbatasan fisik (S1, SB1, SM1) serta bagi atlet dengan keterbatasan fisik minim menggunakan S10, SB9, SM10.

Dalam setiap kelas, perenang mungkin start dengan melompat atau sudah berada di dalam kolam, yang dipertimbangkan saat pengelompokan para atlet.

Para perenang mungkin memiliki penggolongan yang beragam sesuai dengan nomor yang mereka ikuti -misalnya satu perenang masuk penggolongan yang berbeda untuk gaya dada, gaya punggung.

Kelas 14 kembali dipertandingkan di Paralimpiade London setelah sempat dicabut di Athena dan Beijing.

TENIS MEJA

Paralimpiade

Para atlet yang memiliki keterbatasan fisik dan intelektual boleh mengikuti cabang ini, yang dibagi dalam 11 kelas.

1-5: Atlet yang bertanding dengan kursi roda, kelas satu dengan kondisi terburuk dan lima yang paling kurang cacat.

6-10: Para atlet yang bisa bergerak dengan kelas enam yang menderita keterbatasan paling buruk.

11: Untuk para atlet yang menderita keterbatasan intelektual.

BOLA VOLLEY DUDUK

Bola Volley duduk dipertandingkan oleh para atlet yang memiliki keterbatasan fisik dengan dua kelas Penyandang Cacat Minimal (MD) dan Penyandang Cacat (D). Setiap tim hanya memiliki satu MD di lapangan dan lima pemain lain harus dari kelas D.

BOLA BASKET KURSI RODA

Bola basket terbuka untuk para atlet dengan kursi roda yang menderita amputasi di bawah paha, saraf motorik, maupun polio.

Atlet digolongkan berdasarkan dengan kemampuan fisik dan mendapat satu peringkat poin antara satu dan 4,5. Satu dengan cacata yang amat buruk dan 4,5 yang paling kurang.

Setiap tim terdiri dari lima pemain namun jumlah poin dari satu tim maksimal 14 dalam satu kesempatan.

ANGGAR KURSI RODA

Paralimpiade

Anggar terbuka untuk atlet yang menggunakan kursi roda yang kondisinya tidak memungkinkan mereka untuk bertandang dengan atlet dengan kemampuan fisik penuh.

Kategori A: Atlet dengan kemampuan keseimbangan yang baik dan pergerakan tubuh yang utuh.

Kategori B: Atlet dengan keseimbangan yang buruk namun kemampuan penuh untuk satu atau kedua tungkai atas.

RUGBY KURSI RODA

Atlet rugby kursi roda digolongkan berdasarkan sistem poin, yang paling buruk 0,5 poin dan yang paling mampu 3,5 poin.

Setiap tim terdiri dari empat pemain dan nilai total poin bisa sampai delapan.

TENIS KURSI RODA

Tenis dimainkan oleh atlet kursi roda dengan dua kelas: terbuka dan kuad (ketidakmampuan di tiga tungkai atau lebih)

Dalam kompetisi tenis kursi roda, para pemain dibolehkan mementalkan bola dual dengan pentalan perada berada di dalam lapangan.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2012/08/120731_paralympics.shtml