ANAK LUAR BIASA, ANAK GIFTED

Kata ‘gifted’ bukan lah merupakan kata baru merupakan sudah ada semenjak tahun 1869. Pencetus awal gifted adalah Sir Francis Galton pada tahun 1869 yang merujuk pada bakat istimewa tidak biasa yang dimiliki manusia yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Galton berpendapat bahwa keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Anak-anak yang menunjukkan bahwa mereka memiliki bakat istimewa ini disebut sebagai gifted children (anak gifted).

Seiring berjalannya waktu, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140. Berdasarkan penelitiannya, meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak hanya disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga karena faktor-faktor non-kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk “Gifted Children, Their Nature and Nurture” . Dalam buku ini ia mengungkapkan bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, dan tidak akan pernah teraktualisasi.

Saat ini, gifted merupakan kata yang diberikan untuk menjelaskan kondisi sebagian kecil orang dari populasi umum yang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu jauh di atas rata-rata dari orang-orang seusianya. Diperkirakan, sekitar 5% populasi manusia adalah gifted.

Oleh sebab itu, mahasiswa PGSD angkatan 2014 yang bernama Niken Anggraini, Theresia Tri Wiyanti, Haris Mardiyanto, dan Fransiscus Deo Putra S, menyusun instrumen observasi dan wawancara untuk menggali pengetahuan mengenai anak gifted. Mereka melakukan observasi di salah satu sekolah yang memiliki siswa yang merupakan anak gifted.

Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru maupun orangtua, ditemukan bahwa anak gifted memiliki kemampuan berbahasa, dan mengungkapkan keinginan dengan bahasa verbal yang baik. Kemudian mereka juga mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap segala aspek ilmu pengetahuan, memiliki kemampuan yang tinggi dalam berpikir logis dan kritis, memiliki kemauan belajar yang tinggi dan berkerja secara mandiri. Mereka mampu menyelesaikan permasalahan tanpa putus asa, memiliki tujuan yang jelas pada setiap langkah yang diambil, serta suka mengamati hal atau objek benda dengan cermat dan teliti. Lalu, mereka dapat memikirkan beberapa alternative pemecahan masalah, memiliki minat yang sangat luas dengan daya imaginasi tinggi, mampu belajar dengan mudah dan cepat, dapat mengungkapkan dan mempertahankan pendapatnya jika merasa benar, serta mampu mempertahankan konsentrasi dalam setiap langkah yang diambil dan aktif.

Gifted juga memiliki sisi negatif dari diri mereka yaitu biasanya mereka menggunakan humor sebagai manipulasi, sering menganggap mudah sebuah masalah, dan bosan jika harus mengulang-ulang masalah tertentu tanpa adanya pencapaian yang tinggi. Biasanya mereka juga suka mendominasi diskusi pembicaraan, dan kalau aktivitas tidak memenuhi standar mereka atau kurang dari yang mereka harapkan, anak akan menjadi bingung hendak melakukan apa lagi, dan akan membuat mereka terlihat sebagai anak yang pemalas.

Gifted sendiri merupakan kondisi yang seharusnya membuat para orangtua bahagia dan bangga karena mereka memiliki anak yang luar biasa cerdas. Hanya saja, sebagian besar orangtua tidak memahami potensi tersebut, begitu pula dengan lingkungan. Orangtua dan lingkungan yang tidak memahami potensi yang dimiliki anak gifted akan berakibat pada terjadinya hambatan dalam perkembangan anak gifted. Padahal, jika orangtua dapat membimbing dengan baik dan tepat maka anak gifted akan menjadi anak yang luar biasa.

Ignatia Rohan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s