Metode Pengajaran Bahasa Bagi Anak Tunarungu

KLASIFIKASI DAN JENIS KETUNARUNGUAN

SERTA METODE PENGAJARAN BAHASA

BAGI ANAK TUNARUNGU


Easterbrooks (1997) mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis utama ketunarunguan menurut lokasi ganguannya:

  1. Conductive loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarkannya gelombang bunyi ke bagian dalam telinga.
  2. Sensorineural loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau syaraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak. (Ketunarunguan Andi tampaknya termasuk ke dalam kategori ini.
  3. Central auditory processing disorder, yaitu gangguan pada sistem syaraf pusat proses auditer yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinganya itu sendiri. Anak yang mengalami gangguan pusat pemerosesan auditer ini mungkin memiliki pendengaran yang normal bila diukur dengan audiometer, tetapi mereka sering mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya.

Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi, Ashman dan Elkins (1994) mengklasifikasikan ketunarunguan ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Ketunarunguan ringan (mild hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 dB (desibel). Mereka sering tidak menyadari bahwa sedang diajak bicara, mengalami sedikit kesulitan dalam percakapan.
  2. Ketunarunguan sedang (moderate hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB. Mereka mengalami kesulitan dalam percakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar (hearing aid).
  3. Ketunarunguan berat (severe hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 65-95 dB. Mereka sedikit memahami percakapan pembicara bila memperhatikan wajah pembicara dengan suara keras, tetapi percakapan normal praktis tidak mungkin dilakukannya, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
  4. Ketunarunguan berat sekali (profound hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras. Mendengar percakapan normal tidak mungkin baginya, sehingga dia sangat tergantung pada komunikasi visual. Sejauh tertentu, ada yang dapat terbantu dengan alat bantu dengar tertentu dengan kekuatan yang sangat tinggi (superpower).

Survey tahun 1981 di Australia menemukan bahwa 59% dari populasi tunarungu menyandang ketunarunguan ringan, 11% sedang, 20% berat, dan 10% tidak dapat dipastikan (Cameron, 1982, dalam Ashman dan Elkins, 1994).

Perlu dijelaskan bahwa decibel (disingkat dB) adalah satuan ukuran intensitas bunyi. Istilah ini diambil dari nama pencipta telepon, Graham Bel, yang istrinya tunarungu, dan dia tertarik pada bidang ketunarunguan dan pendidikan bagi tunarungu. Satu decibel adalah 0,1 Bel.

Bagi para fisikawan, decibel merupakan ukuran tekanan bunyi, yaitu tekanan yang didesakkan oleh suatu gelombang bunyi yang melintasi udara. Dalam fisika, 0 db sama dengan tingkat tekanan yang mengakibatkan gerakan molekul udara dalam keadaan udara diam, yang hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan instrumen fisika, dan tidak akan terdengar oleh telinga manusia. Oleh karena itu, di dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 dB klinis atau 0 audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan. Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz (Ashman & Elkins, 1994).

Metode dan Pendekatan Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Perdebatan tentang cara terbaik untuk mengajar anak tunarungu berkomunikasi telah marak sejak awal abad ke-16 (Winefield, 1987). Perdebatan ini masih berlangsung, tetapi kini semakin banyak ahli yang berpendapat bahwa tidak ada satu sistem komunikasi yang baik untuk semua anak (Easterbrooks, 1997). Pilihan sistem komunikasi harus ditetapkan atas dasar individual, dengan mempertimbangkan karakteristik anak, sumber-sumber yang tersedia, dan komitmen keluarga anak terhadap metode komunikasi tertentu.

Metode Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu

Terdapat tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, yaitu dengan membaca ujaran, melalui pendengaran, dan dengan komunikasi manual, atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.

1)   Belajar Bahasa Melalui Membaca Ujaran (Speechreading)

Orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya. Akan tetapi, hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir (Berger, 1972). Di antara 50% lainnya, sebagian dibuat di belakang bibir yang tertutup atau jauh di bagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan, atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembaca bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi-bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi, orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu prabahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non-tunarungu tanpa latihan dapat membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini (Ashman & Elkins, 1994).
Kelemahan sistem baca ujaran ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran (speechreading).

Delapan bentuk tangan yang menggambarkan kelompok-kelompok konsonan diletakkan pada empat posisi di sekitar wajah yang menunjukkan kelompok-kelompok bunyi vokal. Digabungkan dengan gerakan alami bibir pada saat berbicara, isyarat-isyarat ini membuat bahasa lisan menjadi lebih tampak (Caldwell, 1997). Cued Speech dikembangkan oleh R. Orin Cornett, Ph.D. di Gallaudet University pada tahun 1965 66. Isyarat ini dikembangkan sebagai respon terhadap laporan penelitian pemerintah federal AS yang tidak puas dengan tingkat melek huruf di kalangan tunarungu lulusan sekolah menengah. Tujuan dari pengembangan komunikasi isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Cued Speech telah diadaptasikan ke sekitar 60 bahasa dan dialek. Keuntungan dari sistem isyarat ini adalah mudah dipelajari (hanya dalam waktu 18 jam), dapat dipergunakan untuk mengisyaratkan segala macam kata (termasuk kata-kata prokem) maupun bunyi-bunyi non-bahasa. Anak tunarungu yang tumbuh dengan menggunakan cued speech ini mampu membaca dan menulis setara dengan teman-teman sekelasnya yang non-tunarungu (Wandel, 1989 dalam Caldwell, 1997).

2)   Belajar Bahasa Melalui Pendengaran

Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa individu tunarungu dari semua tingkat ketunarunguan dapat memperoleh manfaat dari alat bantu dengar tertentu. Alat bantu dengar yang telah terbukti efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali adalah cochlear implant. Cochlear implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna, dan komponen internal (rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukkan ke dalam cochlea (ujung organ pendengaran) di telinga bagian dalam. Komponen eksternal dan internal tersebut dihubungkan secara elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan pendengaran dengan langsung memberikan stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran (Laughton, 1997).

Akan tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur sintaksis dan fonologi bahasa itu terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang dipergunakannya. Di samping itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibat kehabisan batrai dan earmould yang tidak cocok.

3)   Belajar Bahasa secara Manual

Secara alami, individu tunarungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universalitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa komunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang eksklusif.

Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu

Pengajaran bahasa secara terprogram bagi anak tunarungu harus dimulai sedini mungkin bila kita mengharapkan tingkat keberhasilan yang optimal. Terdapat dua pendekatan dalam pengajaran bahasa kepada anak tunarungu secara dini, yaitu pendekatan auditori-verbal dan auditori-oral.

Pendekatan Auditori verbal

Pendekatan auditori-verbal bertujuan agar anak tunarungu tumbuh dalam lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkanya menjadi warga yang mandiri, partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Falsafah auditori-verbal mendukung hak azazi manusia yang mendasar bahwa anak penyandang semua tingkat ketunarunguan berhak atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan menggunakan komunikasi verbal di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Pendekatan auditori verbal didasarkan atas prinsip mendasar bahwa penggunaan amplifikasi memungkinkan anak belajar mendengarkan, memproses bahasa verbal, dan berbicara. Opsi auditori verbal merupakan strategi intervensi dini, bukan prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam pengajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk mengajarkan prinsip-prinsip auditori verbal kepada orang tua yang mempunyai bayi tunarungu (Goldberg, 1997).

Prinsip-prinsip praktek auditori verbal itu adalah sebagai berikut:

  • Berusaha sedini mungkin mengidentifikasi ketunarunguan pada anak, idealnya di klinik perawatan bayi.
  • Memberikan perlakuan medis terbaik dan teknologi amplifikasi bunyi kepada anak tunarungu sedini mungkin.
  • Membantu anak memahami makna setiap bunyi yang didengarnya, dan mengajari orang tuanya cara membuat agar setiap bunyi bermakna bagi anaknya sepanjang hari.
  • Membantu anak belajar merespon dan menggunakan bunyi sebagaimana yang dilakukan oleh anak yang berpendengaran normal.
  • Menggunakan orang tua anak sebagai model utama untuk belajar ujaran dan komunikasi lisan.
  • Berusaha membantu anak mengembangkan sistem auditori dalam (inner auditory system) sehingga dia menyadari suaranya sendiri dan akan berusaha mencocokkan apa yang diucapkannnya dengan apa yang didengarnya.
  • Memahami bagaimana anak yang berpendengaran normal mengembangkan kesadaran bunyi, pendengaran, bahasa, dan pemahaman, dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu anak tunarungu mempelajari keterampilan baru.
  • Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak dalam semua bidang.
  • Mengubah program latihan bagi anak bila muncul kebutuhan baru.
  • Membantu anak tunarungu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun sosial bersama-sama dengan anak-anak yang berpendengaran normal dengan memberikan dukungan kepadanya di kelas reguler.

Hasil penelitian terhadap sejumlah tamatan program auditori verbal di Amerika Serikat dan Kanada (Goldberg & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997) menunjukkan bahwa mayoritas responden terintegrasi ke dalam lingkungan belajar dan lingkungan hidup “reguler”. Kebanyakan dari mereka bersekolah di sekolah biasa di dalam lingkungannya, masuk ke lembaga pendidikan pasca sekolah menengah yang tidak dirancang khusus bagi tunarungu, dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Di samping itu, keterampilan membacanya setara atau lebih baik daripada anak-anak berpendengaran normal (Robertson & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997).

Pendekatan Auditori Oral

Pendekatan auditori oral didasarkan atas premis mendasar bahwa memperoleh kompetensi dalam bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif, merupakan tujuan yang realistis bagi anak tunarungu. Kemampuan ini akan berkembang dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan di mana bahasa lisan dipergunakan secara eksklusif. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan rumah dan sekolah (Stone, 1997).

Elemen-elemen pendekatan auditori oral yang sangat penting untuk menjamin keberhasilannya mencakup:

  • Keterlibatan orang tua. Untuk memperoleh bahasa dan ujaran yang efektif menuntut peran aktif orang tua dalam pendidikan bagi anaknya.
  • Upaya intervensi dini yang berfokus pada pendidikan bagi orang tua untuk menjadi partner komunikasi yang efektif.
  • Upaya-upaya di dalam kelas untuk mendukung keterlibatan anak tunarungu dalam kegiatan kelas.
  • Amplifikasi yang tepat. Alat bantu dengar merupakan pilihan utama, tetapi bila tidak efektif, penggunaan cochlear implant merupakan opsi yang memungkinkan.

Mengajari anak mengunakan sisa pendengaran yang masih dimilikinya untuk mengembangkan perolehan bahasa lisan merupakan hal yang mendasar bagi pendekatan auditori oral. Meskipun dimulai sebelum anak masuk sekolah, intervensi oral berlanjut di kelas. Anak diajari keterampilan mendengarkan yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu deteksi, diskriminasi, identifikasi, dan pemahaman bunyi. Karena tujuan pengembangan keterampilan mendengarkan itu adalah untuk mengembangkan kompetensi bahasa lisan, maka bunyi ujaran (speech sounds) merupakan stimulus utama yang dipergunakan dalam kegiatan latihan mendengarkan itu. Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik (mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat). Pengajaran bahasa dilaksanakan secara naturalistik dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada diri anak, tidak dalam setting didaktik. Pada masa prasekolah, pengajaran bagi anak dan pengasuhnya dilakukan secara individual, tetapi pada masa sekolah pengajaran dilaksanakan dalam setting kelas inklusif atau dalam kelas khusus bagi tunarungu di sekolah reguler. Setting pengajaran ini tergantung pada keterampilan sosial, komunikasi dan belajar anak.

Keuntungan utama pendekatan auditori-oral ini adalah bahwa anak mampu berkomunikasi secara langsung dengan berbagai macam individu, yang pada gilirannya dapat memberi anak berbagai kemungkinan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Geers dan Moog (1989 dalam Stone, 1997) melaporkan bahwa 88% dari 100 siswa tunarungu usia 16 dan 17 tahun yang ditelitinya memiliki kecakapan berbahasa lisan dan memiliki tingkat keterpahaman ujaran yang tinggi. Kemampuan rata-rata membacanya adalah pada tingkatan usia 13 hingga 14 tahun, yang hampir dua kali lipat rata-rata kemampuan baca seluruh populasi anak tunarungu di Amerika Serikat.

ditulis oleh Administrator Dinas Pendidikan Luar Biasa Provinsi Jawa Barat
(Dicuplik dari http://dtarsidi.blogspot.com/2007/08/studikasustunarungu.html, oleh Kurnaeni)



40 responses to “Metode Pengajaran Bahasa Bagi Anak Tunarungu

  1. Terima kasih atas uraian dr pada ATR , saya sebagai gr SLB Pembina yg haus terhdp ttg pengetahuan mengenai ATR karena saya mengajar pada ATR jadi sekarang mencari model2 yg paling jitu untuk menghadapi ATR saya adalah guru pencita ATR. wr. wb.

  2. sebagai ortu yag memiliki anak art saya ingin sekali memberi pendidikan dan pengajara yang maksimal bagi anak saya .akan tetapi pengetahuan yang terbatas tenatang apa dn bagai mana mendidik anak itu yang menjadikan saya sulit mencari formula yang memadai .mungkin akan lebih jelas jika dr mau menguraikan dengan lebihspecifik apa dan bagai manaya .. jug abagai mana mencari modul .. atau acuan pelajaran yang bisa diterapkan dirymah sebagai bentuk pengajaran bagi anak yang akan sangat membantu tugas guru disekolah ..

  3. Terimakasih atas muatan infonya….sangat berquality dan penting sekali dan sangat membantu sekali dalam penanganan abk tunarungu…give us more….

  4. linksalam@yahoo.com

    mohon infonya sekolah yang mengajarkan bahasa arab kepada anak tunarungu

    • kami akan mencoba untuk mencarikan info mengenai sekolah yang mengajarkan bahasa arab.
      namun, jika memang sulit menemukan, kami usulkan agar anda menyekolahkan anak anda di sekolah/slb yang berciri khas keislaman.
      menurut kami, di slb tersebut biasanya diajarkan mapel bahasa arab.
      terimakasih

  5. ada g metode pembelajaran ketika seorang guru megajar dikelas dalam bdg studi tertentu yang diterapkan di dlm kls ketika belajar ?

  6. Elly Kurniasary

    Anak saya lulus sma(slb) skrg sdg mencari referensi utk kelanjutan studinya.dia bercita2 ingin mnjadi sarjana. Trimaksh tulisan anda sgt mmbantu sy yg sdg kebingungan mncari fakultas yg cocok utk anak saya.

  7. anak tuna rungu yang baru sj menjd mhswa di universitas kami membutuhkan pendampingan belajar di kelas, dan dilingkungan kami mulai digalakan pelatihan b. isyarat untuk bisa berkomunikasi dengan mhswa tuna rungu tsb.
    tetapi kami sbg fasilitator ingin menjembatani mhs tsb untuk bisa mendapatkan matrikulasi pembelajaran b.arab n matakuliah lainnya yang dianggap “sulit” oleh mereka.
    mohon infonya…penelitian yang berkaitan dengan Kebutuhan Matrikulasi Pembelajaran bahasa Asing atau matakuliah ttt di sebuah PT.
    trims
    PSLD UIN SUKA

  8. Dana Christianti

    bisa minta tolong gak??
    saya mencari buku tentang tuna rungu,jadi total smua’a tu membahas tunarungu saja
    dari pendidikan,diagnosis,arti dari tunarungu itu sndri,dll
    wlopun d internet byk ttg tunarungu,tp saya bingung
    dan saya cm butuh buku ttg tunarungu tsb

    • beberapa referensi buku yg bisa dicari adalah :
      1. teaching deaf children (techniques and methods) ; karangan danielle.m.sanders ; a college hill pub. ; 1988
      2. cognition, education, and deafness ; karangan david.s.martin ; gallaudet college press ; 1985

  9. apakah buku referensi yg disebutkan diatas bisa di dapat di gramedia atau toko-toko buku yg lain???
    terima kasih :)

    • Kami sendiri juga belum melihat disana, tetapi sepertinya tidak ada karena itu buku cetakan lama. Kalo semisal mau mencari coba saja ke perpustakaan di kampus-kampus atau perpustakaan daerah, kemungkinan disana tersedia.

  10. Sekitar setahun yang lalu, dari hasil bera dokter memvonis putri pertama kami ATR . saat itu kami masih kesulitan untuk mengajarkan anak kami berkomunikasi , apa yang harus kami lakukan di rumah agar putri kami dapat memahami komunikasi verbal dengan baik? Trmksh

  11. Anak sy sudah umur 9 tahun dan 4 tahun, cara untuk mengajar di rumah supaya mengenal huruf atau angka

  12. Saya ingin menanyakan sekolah penyelenggara inklusif di bandung yang di dalamnya ada anak tunarungu. saya ingin melihat secara langsung proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah tersebut. terimakasih.

  13. Gimna dgn ortu yg tdk bs dtng k sekolah sehingga tdk bs menjd model bg pembelajran d skolah?

  14. anak sy umur 11 th bgai mana cara mengatasi emosi anak tuna rungu.trms

  15. Terima kasih atas pengetahuan nya…
    Sangat berarti bagi kami sebagai orang tua memiliki anak yg memiliki pendengaran yang sempurna,segala upaya telah dilakukan demi melihat anak bisa berbicara, mendengar, bisa menjalani aktifitas seperti anak normal lain nya.

  16. sya mempunyai anak didik yg atr, tp dr segi kognitif,fisik motorik dia bgus..pdhl skulah tmpat sya mengajar adlh skul umum tp anak trsbut bsa mengikuti semua materi yg diberikan dngan ckup baik.mgkin bsa ad info seminar atw pelatihan ttg psikologi anak atr coz biasanx yg kurang max adlah social emocionalnya

  17. saya ortu dari anak kami yang mengalami maslah pendengaran jd info seperti ini sangat asaya butuhkan guna buat perkembangan anak kami sekarang usianya baru menginjak 3tahun saya mohon info sekolah yang pas buat pendidikan dia kedepan yang saya butuhkan trims sebelumnya

  18. Hallo semua.. Saya relawan bahasa isyarat yang peduli kaum tunarungu. Saya mau perkenalkan bahan ajar bntuk DVD isyarat, yang berdasarkan Kitab Suci tetapi diperuntukkan kepada siapa saja, ini dapat diunduh di web: http://www.jw.org/id (klik publikasi, klik bahasa isyarat) disitu ada 4 DVD isyarat yg mengajarkan tentang Pencipta dan moral atau tingkah laku. Silakan dicoba. Semoga bermanfaat. Jika ingin berdiskusi dengan saya berikut email saya: fchrestin@gmail.com
    Terimakasih

  19. Apakah di PSIBK ada referensi literatur bagi orangtua anak tunarungu? Mohon bantuannya. Terimakasih

  20. kakak saya menderita tuna rungu dan tuna wicara, kemungkinan akibat saat kecil sering panas tinggi sehingga syaraf pendengarannya putus, tahun ini dia lulus sma, saya mohon infonya mengenai univ maupun jurusan yang ada di indonesia untuk melanjutkan studinya, khususnya solo

  21. linda s, anak saya menderita tunarungu. tadi diatas disebutkan klo penderita tunarungu berat bisa ditolong dng operasi / alat bantu dengar khusus. klo bisa info itu bisa tahu detailnya bisa hubungi siapa & dimana. my email. linda.susiyanti@yahoo.co.id. atau no hp 081347420974. tolong bantu infonya karena itu sangat bermanfaat bagi keluarga kami. thanks

  22. saya ingin memberikan pendidikan kesehatan gigi pada siswa tunarungu dimana saya bisa lakukan dan kira2 metode apa yang paling tepat agar pen.kes. saya bisa dimengerti dan diterapkan… trims atas infonya..

    • bu maaf sekedar memberikan informasi coba saja mensosialisasikan pendidikan kesehatan gigi tersebut di SLB khusus untuk tunarungu biasanya di SLB _B, metode yang tepat tentunya dengan menggunakan media gambar bu , supaya mereka lebih faham ,karena anak tunarungu ini sangat mengandalkan kempuan visual mereka , semoga bermanfaat ..

  23. saya seorang pengajar bimbel. saya bingung ketika dihadapkan dengan seorang anak yang belum bsa membaca.. saya perhatikan fisiknya normal. namun setelah saya pelajari ternyata dia mengalami kesulitan untuk mengungkapkan suara atau bunyi2 an yang saya lontarkan… saya cari blog yang dapat membantu mengatasi masalah saya.. makasi atas sarannya semoga saya bisa menerapkan saran anda untuk mengatasi masalah saya… thanks your information…

  24. Kami membutuhkan cara mengajar anak tuna rungu sedini mungkin…tlng d bantu.thanx

  25. sangat membantu sekali materinya. terimakasih.
    saya mau sekalian bertanya bagaimana ciri-ciri khusus dalam membuat soal untuk ATR.
    mohon penjelasannya

  26. saya punya anak atr dan atd,saya agak kesulitan mengatur waktu untuk keduanya..apa yang harus saya lakukan? adakah yang bisa bantu?

  27. apakah ada ATR yang akhirnya bisa mendengar tanpa ABD dan berbicara lancer? mohon infonya dong. Anakku umur 2 tahun, terkena virus campak saat dalam kandungan yang berimbas ke pendengarannya, saat ini virusnya sedang di obati dan tidak menggunakan ABD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s