Tidak Bisa Mendengar Bukan Halangan Ikut Ujian

Senin, 20 April 2009 | 14:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rosdianah Dewi

————————————————————————–

Walau menderita Tuna Rungu, Arif Suryono tidak merasa minder dengan teman-temannya. Ia bahkan yakin akan lulus dalam UN tahun 2009.

Ujian hari pertama baru saja usai. Arif Suryono, siswa SMU 66, berbondong-bondong keluar kelas bersama teman-temannya. Arif tidak nampak berbeda dengan siswa lainnya. Ia mengenakan seragam putih-putih dengan ransel di pundaknya dan tampak bercengkerama dengan rekan sebayanya.

Arif adalah satu-satunya siswa SMU 66 dengan kebutuhan khusus yang mengikuti UN hari ini. Siswa kelas XII IPA 3 ini adalah penderita tunarungu. Namun, kekurangannya itu tidak membuatnya minder bergaul atau pun menghilangkan semangat belajarnya. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan pada hari pertama UN.

Dengan sedikit terbata-bata dan kadang dibantu seorang guru, Arif mengaku bisa mengerjakan sebagian besar soal-soal ujian. Soal-soal yang mudah, dia selesaikan dulu agar tidak menghabiskan waktu. Baru setelah itu soal-soal sulit digarapnya. Arif yakin bakal lulus ujian. Setiap hari ia belajar selama 10 jam guna mempersiapkan ujian akhir ini.

Kekurangan fisik bukanlah alasan untuk tidak mempunyai cita-cita. Kelak, setelah  lulus SMU, Arif ingin belajar mengenai sistem informasi. Ia ingin menjadi seorang programmer. Ia mengaku, minatnya memang pada bidang itu. Selama ini ia belajar mengenai bahasa pemrograman secara otodidak dan telah berhasil menciptakan anti-virus.

Peran orangtua

Semangat dan rasa percaya diri yang tumbuh dalam diri Arif tidak lepas dari peran kedua orangtuanya, Maryono (60) dan Aryati (52). Menyadari putra bungsunya membutuhkan perhatian khusus, mereka dengan telaten merawat dan membesarkan Arif. “Harus lebih telaten, jika ingin mengajarinya saya harus membuat ia melihat saya. Kalau tidak, ia tidak akan mendengar apa yang saya katakan,” kata Aryati.

“Dulu waktu baru mau masuk SMP, ia merasa takut dengan lingkungan baru, sempat juga

ia diremehkan oleh teman-temannya. Setiap dapat nilai bagus, dicurigai nyontek,” tambah Aryati.

Pandangan sinis, cemooh, dan tudingan miring hanya bisa dijawab dengan hasil semangat belajar. Arif dapat membuktikan, meski ia memiliki kekurangan, namun ia dapat mengikuti pelajaran secara mandiri seperti murid lainnya, bahkan mampu mendapatkan nilai bagus tanpa mencontek. Di bangku SMU, ia bahkan masuk dalam kelas IPA, kelas yang kerap dianggap menakutkan oleh siswa-siswa lain.

Pipih Priyatna, guru Biologi Arif, mengakui bahwa anak didiknya ini tidak mengalami kesulitan belajar. “Dia selalu dapat mengikuti materi yang saya berikan. Kalau dia tidak bisa, dia akan menanyakan kepada teman-temannya, kalau bisa akan ia serap sendiri. Tapi saya lihat ia lebih sering menyerap pelajaran sendiri,” terang Pipih.

“Nilai-nilainya pun termasuk bagus rata-rata tujuh. Sesekali memang dia ikut remedial, tapi masih dalam hitungan yang wajar. Yang normal saja banyak yang lebih parah karena menyepelekan pelajaran,” imbuh Pipih.

Pihak sekolah juga tidak memberikan perlakuan yang istimewa kepada Arif. Ia diberikan pembelajaran yang sama dengan siswa-siswa lain. Menurut Pipih, hal itu dimaksudkan agar Arif terbiasa dengan dunia nyata sehingga saat benar-benar memasuki dunia yang sesungguhnya, ia telah siap dan tidak akan merasa minder. Melihat ketekunan dan kegigihan Arif, Pipih yakin, siswanya itu akan lulus dalam UN. RDI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s