Ketika Siswa-Siswi Tunarungu Dena Upakara Pentaskan Sendratari Ramayana


Saturday, 01 November 2008

Keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkreasi. Seperti halnya siswi Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu (LPAT) Dena Upakara Wonosobo ini. Mereka menggelar pertunjukan sendratari Ramayana dalam Pesta 70 Tahun Dena Upakara di aula sekolah setempat. Siswa yang tidak memiliki pendengaran normal itu mampu menari sesuai alur cerita secara apik.

Bunyi gamelan mengalun, tirai panggung di aula itu pun terbuka. Sejumlah penari membawa gunungan muncul dari sisi kanan dan kiri panggung. Lantas mengalirlah sendratari 4 babak berjudul Brubuh Alengka yang dipersembahkan siswi kelas 3 dan kejuruan Dena Upakara.

Dikisahkan Rama (diperankan Tika) dan Sinta (Apri) tengah berkelana di hutan ditemani Lesmana (Danik) adiknya. Muncul kijang kencana penjelmaan Kalamarica utusan Rahwana yang menggoda hati Sinta. Rama mengejar kijang dan meninggalkan Sinta yang ditemani Lesmana.

Melihat Sinta sendirian Rahwana berkeinginan membawanya kabur dengan cara menjelma sebagai seorang kakek tua. Burung jatayu berusaha merebut Sinta, tetapi tidak berhasil. Jatayu tewas setelah kalah melawan Rahwana. Dibantu raja kera Hanoman bersama prajuritnya Rama berhasil mengalahkan Rahwana dan membawa kembali Sinta ke pangkuannya.

TRAGIS – Adegan kematian burung jatayu disaksikan Rama dan Lesmana dalam sendratari Ramayana yang ditampilkan murid-murid Dena Upakara Wonosobo.

Nyaris sempurna penampilan murid-murid perempuan Dena Upakara itu. Mereka menari gemulai berpadu dengan gamelan yang dibawakan guru-guru LPATR Dena Upakara. Meski tak mampu mendengar suara gamelan, tarian yang dibawakan cukup kompak dan harmonis dengan musik pengiringnya. Bahkan dalam adegan perkelahian antara Hanoman dan Anggada -diperankan Ambar dan Erin- ditampilkan gerakan jumpalitan. Lantas bagaimana cara mengatur perpindahan gerak?

Ternyata, selain hapal gerakan tari yang akan dibawakan, mereka selalu melihat kode-kode yang diisyaratkan oleh pelatihnya, Mulyani. Guru tari itu berada di depan panggung berbaur dengan murid-murid Dena Upakara yang menyaksikan pertunjukan. Tangannya sibuk memberi kode kapan saatnya berganti gerakan, kapan pula harus keluar panggung atau masuk kembali.

Ia tampak tegang, berkonsentrasi penuh dengan penampilan anak-anak. Terlihat pula, para penari di atas panggung sesekali melihat ke arah Mulyani. Jika penari normal memperhatikan musik pengiring untuk berganti gerakan tari, anak-anak tunarungu ini mengandalkan kode selain harus hapal gerakannya.

Para tamu undangan yang menyaksikan seperti Bupati Wonosobo H. A Kholiq Arif, Pembina Yayasan Dena Upakara Suster Antoni PYM, tamu dari Belanda Mr. Ton, Nicholin dan Marriet tampak terkesan dengan penampilan mereka.

“Melatih mereka tidak berbeda dengan anak-anak normal. Karena mereka juga bisa berkomunikasi. Hanya saja, untuk memberikan pemahaman mengenai karakter masing-masing tokoh yang agak lama,”aku Mulyani di sela-sela pertunjukan kemarin.

Sebanyak 33 anak yang terlibat sendratari itu sudah sejak 2 tahun lalu mulai berlatih. Hanya saja latihan intensif dilakukan selama sebulan sebelum pertunjukan. Hampir tiap hari anak-anak berlatih, kadang pagi dan sore terus-menerus. Untuk memberikan gambaran mengenai cerita yang akan dibawakan, anak-anak diajak menyaksikan sendratari Ramayana di Candi Prambanan.

Dari situlah muncul gambaran di benak anak-anak seperti apa peran yang nantinya dibawakan. Mengenai gerakan tari, kata dia tidak ada masalah, anak-anak cepat hapal. Namun diakuinya, sebagai guru harus memiliki kesabaran ekstra. Kendati mampu berbicara, tidak sesempurna anak-anak yang normal. Sehingga dia harus menjelaskan secara ekstra apa yang diinginkan dalam sendratari itu.

“Harus mampu menjelaskan apa yang saya maksudkan sehingga mereka bisa menerima,”kata dia.

Anak-anak Dena Upakara pernah mencatat prestasi di bidang tari di tingkat Jateng. Pernah menyabet juara 2 tari Bondan Tani dan juara 4 di ajang Porseni anak cacat. Sementara itu ulang tahun Dena Upakara ke-70 dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang rangkaiannya telah digelar beberapa waktu lalu. Dan ditutup dalam Pesta 70 tahun Dena Upakara tersebut.

Selain sendratari, anak-anak LPATR yang dipimpin Kepsek Prasetyo Hadi itu juga menampilkan pentas pianika. Sedangkan dari siswa tunarungu sekaligus tunanetra SLB/G-AB Helen Keller Jogjakarta menampilkan tari kipas. Friska, nama siswa tersebut meskipun tidak mendengar dan buta tetap tampil percaya diri menari tari kipas. Lembaga Dena Upakara didirikan 15 Maret 1938 atas prakarsa Mgr. A. Hermus yang saat itu menjabat sebagai Direktur Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu St. Michielsgestel Nederland. Murid-muridnya yang berasal dari berbagai kota di Indonesia dilatih berbicara dengan bahasa lisan sehingga dapat berkomunikasi secara wajar.(Lis Retno)

Sumber:

http://www.e-wonosobo.com/content/view/423/82/lang,id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s