Asa Muncul di Atas Kaki Palsu


Senin, 14 Desember 2009 | 02:51 WIB

Peristiwa tanggal 20 November 1992 masih melekat dalam ingatan Anim (38). Anim yang berprofesi sebagai kernet truk tengah duduk di samping sopir. Di sebuah jalan menurun yang terjal, truk melaju tanpa kendali. Keseimbangan hilang, truk terguling. Kaki kiri Anim tertimpa bak truk.

Telapak kiri Anim nyaris lepas. Tinggal satu otot lagi penahannya. Seharusnya, Anim mendapatkan perawatan intensif. Apa daya, orangtuanya tidak sanggup membiayai perawatan di rumah sakit dan meminta Anim berobat jalan.

Sepekan berselang, kaki itu rupanya membusuk. Kaki kiri Anim harus diamputasi hingga paha. Sejak saat itulah dia berjalan dengan satu kaki. ”Saya sempat patah semangat mengetahui kaki harus diamputasi. Tapi, toh saya tidak bisa terus-menerus sedih,” ucap ayah dua putra itu.

Tahun 1996 Anim masuk Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) di Cengkareng untuk mengikuti pelatihan selama setahun. Dia belajar menjahit. Keterampilan inilah yang akhirnya menjadi mata pencariannya saat ini. Di PSBD pula Anim mulai memakai kaki palsu.

Hingga kini, dia sudah tiga kali mengganti kaki palsu. Dua kaki palsu sebelumnya rusak. Terakhir, Anim menjadi satu dari 2.009 penerima bantuan kaki palsu gratis dari Yayasan Peduli Tuna Daksa. Yayasan ini lantas mencatat rekor pemberi kaki palsu terbanyak dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri), Minggu (13/12).

Selain Anim, Diding (29) juga menerima bantuan kaki palsu. Kaki berwarna krem itu menjadi perpanjangan kaki kirinya yang tidak sempurna sejak lahir. Dua bulan terakhir Diding mulai berjalan dengan dua kaki.

Diding dapat berjalan tanpa tongkat, berlari, bahkan melompat. Tidak hanya itu, ayah dari satu anak ini juga bisa mengendarai sepeda motor.

Perkembangan yang dialami Diding saat ini tidak pernah dibayangkannya. Ketika bocah, Diding baru masuk SD pada usia 10 tahun. Diding kecil minder dengan kondisi tubuhnya.

Ketika remaja dulu mudah mencari pacar, Diding justru kesulitan mendekati perempuan. Diding sempat frustrasi.

Lama-kelamaan, Diding pun bisa menerima segala kekurangan fisiknya. Malah dia tidak menjadikan kekurangan sebagai hambatan. Setelah setahun belajar menyablon dari kawan, Diding memutuskan untuk membuka usaha sablon sendiri. Kini usahanya sudah berusia tiga tahun. Dari sablon inilah Diding menghidupi keluarganya.

Asa juga muncul dalam diri Ilham (11) setelah kaki palsu kanan dipakainya. Bocah kelas V SD ini bisa beraktivitas seperti teman-temannya, termasuk mengikuti pelajaran olahraga.

Sebagai anak yang masih dalam masa perkembangan, Ilham harus mengganti kaki palsu setidaknya dua tahun sekali. Kaki palsu yang baru dibuat mengikuti ketinggian tubuhnya yang terus bertambah.

Lain halnya dengan Fitri Wahyuni (23). Fitri mengalami lumpuh layuh pada kaki kanannya sejak usia 7 bulan. Kaki kanannya tidak sanggup menopang tubuh lantaran ada kesalahan injeksi vaksin polio. Baru lima bulan terakhir Fitri menggunakan penyangga kaki (brize). ”Sekarang masih dalam tahap penyesuaian. Nanti kalau sudah terbiasa, saya tidak perlu pakai tongkat lagi,” ucap Fitri.

Manajer Operasional Yayasan Peduli Tuna Daksa Simran Nandwani mengatakan, kaki palsu, tangan palsu, serta penyangga kaki yang dibagikan secara gratis itu merupakan produksi dalam negeri. Semoga ini bisa memberikan pencerahan bagi penyandang tunadaksa. (ART)

Sumber :

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/14/02514833/asa.muncul.di.atas.kaki.palsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s