Akbar Dahali, Menumbuhkan Kepedulian.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU
Akbar Dahali

Kamis, 12 November 2009 | 03:26 WIB

Jangan iba atau mengasihani penyandang cacat, tetapi bantulah para penyandang cacat. Kembangkan potensi dirinya sehingga mereka juga berkesempatan menjalani hidup seperti orang-orang normal lainnya. Ester Lince Napitupulu

Pesan itu senantiasa ditanamkan Akbar Dahali, yang mengalami kebutaan setelah lulus SMA, setiap kali ia bertemu orang lain. Akbar yang menjabat Ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, bertekad membangun kepedulian masyarakat untuk terus membantu penyandang cacat berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.

”Saya suka kesal kalau datang ke pejabat yang sering memberi uang ke saku saya. Bukan saya menolak rezeki, tetapi saya ingin ditanya dulu apa program untuk memberdayakan penyandang cacat, bukan untuk meminta-minta. Jangan saat menghadapi orang cacat, yang ditonjolkan rasa kasihan. Saya mau ubah pemikiran masyarakat yang demikian itu,” kata Akbar.

Selama ini program-program pemerintah di daerahnya bagi penyandang cacat lebih didorong rasa kasihan atau iba. Ketika ada bantuan yang disalurkan dinas sosial, misalnya, tak ada pendampingan dan pelatihan kepada penyandang cacat supaya bantuan itu membuahkan hasil kemandirian secara sosial dan ekonomi.

Penyandang tunanetra yang masih mampu melihat setitik cahaya itu tidak lelah terjun ke kampung-kampung, guna menyadarkan masyarakat agar memberikan pendidikan buat penyandang cacat. Dia gigih beraudiensi dengan para petinggi di Kabupaten Enrekang, anggota DPRD, hingga pengurus partai politik, untuk menumbuhkan kepedulian. Dengan cara ini, dia berharap agar dalam kebijakan, mereka berpihak pada pemberdayaan para penyandang cacat.

Buah perjuangan Akbar setidaknya terlihat dari mulai terbukanya sekolah-sekolah umum di Enrekang bagi anak-anak penyandang cacat atau anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk belajar bersama anak-anak normal.

”Hanya ada satu sekolah luar biasa (SLB) yang lokasinya di ibu kota kabupaten. Tidak semua anak cacat bisa bersekolah di sana karena jauh dan butuh biaya besar. Saya senang karena sekolah-sekolah umum sudah mau menerima anak-anak cacat. Dinas pendidikan dan guru di sini semakin terbuka soal pendidikan inklusi dengan pelatihan dari Hellen Keller International,” ujarnya bersemangat.

Akbar memaklumi jika masih banyak guru di sekolah reguler yang mengeluh harus memberi perhatian ekstra untuk ABK di kelasnya.

”Saya cuma bisa menyentuh hati para guru itu. Saya selalu bilang kepada para guru supaya jangan menganggap ABK itu beban,” tutur Akbar, yang menopang kehidupan keluarganya dengan menjadi penyalur seprai di Enrekang dan sekitarnya dari sebuah toko di Jakarta.

Tak jarang, Akbar juga mesti membujuk orangtua yang punya anak cacat untuk menyekolahkan anaknya. Dia memberikan pemahaman, anak-anak cacat juga berhak bersekolah dan bisa menjadi orang yang berhasil.

Perlahan-lahan kesadaran masyarakat untuk menghargai hak-hak penyandang cacat dan mendukung mereka mandiri tumbuh. Di desanya, di Bolang, yang jumlah penyandang cacat cukup banyak, Akbar sering mendatangkan temannya penyandang cacat yang sukses menjadi sarjana dan pegawai.

Akbar ingin selalu ada contoh bahwa keterbatasan seseorang tetap bisa diatasi dengan kegigihan. Meski tunanetra dan bekerja dengan meraba-raba, Akbar mengelola tanaman coklat. Dia juga menjual air dari sungai untuk disalurkan ke rumah-rumah warga.

”Saya juga mau memotivasi masyarakat supaya terdorong maju, enggak malas-malasan. Mereka akhirnya bisa melihat, jika orang cacat saja bisa berhasil dan mandiri, apalagi yang normal,” jelas Akbar.

Tersadar dan berbuat

Tak pernah tebersit dalam pikiran Akbar jika dirinya harus ambil bagian untuk memperjuangkan hak-hak penyandang cacat. Pria yang memiliki masalah penglihatan sejak lama ini tidak menduga dirinya akan buta. Sebab, dari pemeriksaan rutin yang dia lakukan ke rumah sakit mata di Makassar dan Jakarta, dokter menyatakan bahwa dia tak terancam buta.

Kenyataan berubah sekitar dua tahun setelah dia tamat SMA di Jakarta. Penglihatannya semakin buruk dan hanya mampu melihat setitik cahaya.

Merasa tak yakin mampu meraih cita-citanya menjadi tentara, Akbar memilih kembali ke kampung halamannya, Enrekang. Dia berencana menjalani pengobatan alternatif agar kedua matanya bisa berfungsi kembali.

Meski menjadi buta, Akbar tak membiarkan dirinya depresi. Dia memilih untuk membantu ibunya berjualan pakaian di Toraja dan Enrekang.

Kesadarannya untuk membentuk organisasi penyandang cacat bermula dari terdatanya Akbar oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai penyandang cacat penerima bantuan dinas sosial setempat tahun 2002. Ia termasuk penyandang cacat yang berhak menerima 10 ekor ayam.

”Ada 40 penyandang cacat yang menerima bantuan. Tiba-tiba saya merasa terdorong untuk menghimpun penyandang cacat supaya bisa diperhatikan dan diakui hak-haknya. Jadi, tak sekadar diberi bantuan begitu saja,” katanya.

Sebagai langkah awal, Akbar membuktikan dirinya mampu mengembangkan bantuan dinas sosial. Dia serius mengurus ayamnya hingga berkembang menjadi 50 ayam petelur.

”Saya cuma mau menunjukkan, penyandang cacat bisa mandiri. Yang penting, penyandang cacat diberi pendidikan dan pembekalan, pasti bisa memanfaatkan bantuan dengan baik,” katanya.

Keinginan Akbar untuk menghimpun para penyandang cacat dalam suatu organisasi semakin besar. Dia mencari-cari informasi. Pada 2004 dia diberi tahu tentang keberadaan PPCI Sulawesi Selatan yang diketuai Bambang Permadi.

Dengan bersemangat, Akbar menemui Bambang di Makassar. Ia semakin mantap untuk membuka PPCI di Enrekang. Apalagi, dari data statistik diperkirakan ada sekitar 2.000 penyandang cacat dan baru 300 orang yang tergabung di PPCI.

Aktivitas dan advokasi kepada berbagai pihak dia lakukan. Dia berhasil meminta bantuan bupati di Enrekang untuk menggelontorkan dana guna mendukung keberangkatan atlet cacat yang tergabung dalam Badan Pembina Olahraga Cacat Enrekang untuk bertanding di Bone.

Akbar ingin mengawal keberpihakan pada penghilangan sikap diskriminatif terhadap penyandang cacat itu, dengan cara apa pun.

”Saya ingin kepedulian untuk membantu penyandang cacat berkembang sesuai potensinya itu, tumbuh di hati semua orang,” ujarnya lirih.

AKBAR DAHALI

• Lahir: Makassar, 12 Januari 1966 • Pendidikan: – Pondok Pesantren, Maros, Sulawesi Selatan – SMP Sari Buana, Makassar – SMAN 1 Jakarta, 1987 • Istri: Suryani (39) • Anak: – 1. Maulana (14) – 2. Mutmainah (13) – 3. Musadiq (3) • Organisasi: – Ketua PPCI Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, 2006-kini – Pembina Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Enrekang – Ketua Umum Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa, 2004

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/12/03261726/akbar.dahali.menumbuhkan.kepedulian

3 responses to “Akbar Dahali, Menumbuhkan Kepedulian.

  1. salam hormat saya untuk anda, Pak Akbar. Semoga sukses selalu.

  2. Saluut untuk Pak Akbar!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s