Penyandang Cacat Mengaku Belum Diperhatikan

Jumat, 4 Desember 2009 | 16:42 WIB

BANDUNG, KOMPAS – Penyandang cacat di Jawa Barat merasa belum diperhatikan dalam kebijakan pemerintah daerah. Alasannya, mereka belum mendapatkan kesempatan kerja yang luas layaknya warga yang tidak cacat. Padahal, Jabar telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006 tentang Perlindungan dan Kesejahteraan Penyandang Cacat.

“Kami merasakan belum ada perubahan signifikan dengan adanya perda tersebut terhadap kesejahteraan kami. Hal-hal kecil, semisal kemudahan menikmati pelayanan publik seperti kendaraan umum, belum bisa kami rasakan,” kata Jumono, Koordinator Forum Perjuangan Difabel Bandung Raya, Kamis (3/12).

Pada perayaan Hari Penyandang Cacat Internasional, 3 Desember, Jumono mengharapkan pemda tidak hanya memaknainya dalam kegiatan seremonial. “Perubahan sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti kewajiban adanya sarana bagi penyandang cacat di gedung pemerintah dan swasta sehingga kami bisa mengaksesnya,” katanya.

Hal lain yang krusial adalah kesempatan kerja yang setara dengan warga lain. Kelompok difabel, ujar Jumono, tidak memiliki kesempatan setara untuk bersaing dalam lapangan kerja.

“Padahal, Undang-Undang Nomor 4 tentang Kesejahteraan Penyandang Cacat mewajibkan setiap perusahaan mempekerjakan satu penyandang cacat dari setiap 100 pegawainya,” katanya.

Pemerintah harus tegas memberikan sanksi bagi perusahaan yang tidak menerapkan aturan itu. Sanksi untuk pelanggaran itu ialah penjara dan denda Rp 200 juta. Namun, peraturan itu hanya jadi macan kertas yang belum menampakkan keberpihakannya kepada kelompok difabel.

Ada diskriminasi

Upaya lain bisa dilakukan pemda untuk memberdayakan penyandang cacat, misalnya dengan dukungan modal usaha dan pelatihan keterampilan. “Sayangnya, upaya itu lebih banyak berupa proyek yang tidak berkelanjutan. Setelah pelatihan diberikan, kami ditinggalkan begitu saja dan tanpa pendampingan untuk pemasaran produk sehingga kegiatan itu menjadi percuma,” ujar Jumono yang kedua kakinya cacat karena kecelakaan.

Sejumlah penyandang cacat berprestasi, khususnya di bidang olahraga, juga merasakan diskriminasi. Usep Supendi, atlet lari penderita kelainan otak yang menjadi juara paralympic tingkat Asia Tenggara (2001 dan 2005) hingga sekarang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Itu berbeda dengan rekan-rekan Usep lain yang tidak cacat. “Mereka mendapatkan promosi untuk bisa bekerja sebagai pegawai negeri sipil,” katanya.

Asisten Tiga Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Pery Soeparman mengakui, penerapan Perda Penyandang Cacat belum optimal. “Kami berupaya terus berkoordinasi dengan dinas tenaga kerja untuk memberdayakan penyandang cacat,” janjinya. (REK)

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/04/16423961/Penyandang.Cacat.Mengaku.Belum.Diperhatikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s