Memahami Anak Tunalaras

21 Feb 2010, Post by : PSIBK USD

AYA seorang ibu rumah tangga dengan empat anak yang semuanya sudah beranjak besar.

Saya memiliki persoalan dengan salah seorang anak, yaitu anak yang ketiga. Sekarang usianya 15 tahun dan terus-terang sangat menguji kesabaran saya sebagai seorang ibu. Kadang saya berpikir bahwa saya sudah tidak sanggup untuk mengasah anak saya lagi. Perilakunya sering kali membuat saya merasa kesal, marah, dan kecewa. Ia sering membangkang, bolos sekolah, merokok sejak usia 13 tahun, sering pulang sampai larut dan prestasi sekolahnya sangat rendah karena tidak pernah belajar dan main tanpa aturan. Namun jika diberi tahu, ia terlihat seperti menurut, tetapi kemudian melanggar lagi. Sebenarnya ia masih memiliki beberapa teman yang punya perilaku baik.

Berbagai ikhtiar lahir dan batin rasanya telah saya lakukan. Tapi anak saya semakin jauh dan sifat buruknya semakin menjadi-jadi. Sementara suami saya tampaknya menyerahkan semua persoalan pada saya. Guru BP-nya di sekolah, mengatakan kemungkinan anak saya tunalaras. Apa maksudnya? Saya ingin memberikan pengasuhan yang baik, tetapi saya putus asa.

Terimakasih.

Febi di Bandung

PERSOALAN anak, terutama yang berhubungan dengan ma-salah perilaku, sering kali menyita energi yang cukup besar. Akan tetapi, satu hal yang harus dipahami oleh siapa pun, yaitu keyakinan bahwa setiap anak pada dasarnya terlahir fitrah. Jika ia masih dalam masa pertumbuhannya, semoga dapat kembali menjadi baik seperti yang Ibu harapkan. Menjadi orang tua tidak boleh menyerah, apa pun kondisi anak tidak akan mengubah mereka menjadi bukan anak Iata. Bagaimanapun anak adalah amanah.

Tunalaras

Memang bukan masalah yang sederhana untuk menentukan batasan mengenai anak yang mengalami gangguan perilaku atau yang dikenal dengan istilah tunalaras. Batasan definisi tunalaras itu sendiri berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang dan disiplin ilmu masing-masing. Akan tetapi, hampir semua yang dikemukakan para ahli menganggap bahwa tunalaras menampakkan suatu perilaku penentangan yang terus-menerus kepada masyarakat, kehancuran suatu pribadi, serta kegagalan dalam belajar di sekolah.

Sebetulnya kekhususan yang paling muncul dari anak yang mengalami gangguan perilaku, lebih ke arah kurang berkembangnya kemampuan sosial-emosi, dikaitkan anak kurang memahami secara adekuat mengenai nilai-nilai. Da-
lam perkembangannya pun, tergantung dari berat ringannya masalah. Jika dalam kasus putra Ibu. anak dikatakan masih sesekali dapat menurut dan patuh, kemungkinan besar anak masih dapat berubah ke arah yang baik.

Ciri dari anak tunalaras yang masih dapat dibantu dengan terapi konselor adalah anak masih bisa bergaul dengan orang lain, tetapi mereka mempunyai permasalahan pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah sekali dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan marah, cemas dan agresif, serta rasa bersalah di samping kadang-kadang mereka melakukan tindakan lain seperti yang dilakukan oleh anak unsocialized (mencuri, bermusuhan).

Sementara untuk kelompok gangguan yang lebih berat, biasanya sudah lebih memerlukan penanganan khusus yang bersifat holistik. Biasanya anak yang sudah menyimpang dari kehidupan nyai. dah tidak memiliki kesadaran diri. Adanya kondisi ini disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan. Oleh karena itu. lebih sulit penanganannya karena anak sudah sulit untuk diajak berkomunikasi.

Ciri yang menonjol pada anak tunalaras adalah kehidupan emosinya yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emi isinya secara tepat, dan pengendalian diri

yang kurang sehingga mereka sering menjadi sangat emosional. Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi sebagai akibat ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase perkembangan. Pada anak tunalaras. mereka tidak mampu belajar dengan baik dalam menghayati berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan. Kehidupan emosinya kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat mengerti dan menghayati bagaimana perasaan orang lain. Mereka juga kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik sehingga sering terjadi peledakan emosi. Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya mudah marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, brrprrilaku agresif, dan menarik diri. Perasaan-perasaan seperti ini tentu akan mengganggu situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi dirinya

Adapun prestasi akademiknya yang kurang baik, umumnya disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar akibat ma-salah gangguan emosi yang mereka alami. Bukan disebabkan oleh po-1 intelegensi yang mereka miliki. Namun, kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki taraf intelegensi yang rendah.

Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar, lambat laun dapat menjadikan anak frustrasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mem .in kompeasa-si yang sifatnya negatif, misalnya membolos, lari dari rumah, berkelahi, serta mengacau dalam kelas. Anak sulit memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi ae-hingga mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif.

Tindakan yang dapat Ibu lakukan sekarang adalah Menerima an*ak dengan segala kondisinya. Kemampuan menerima ini menjadi penting karena akan memudahkan Ibu dalam penanganan berikutnya. Jika ibu menolak anak (sekalipun terbersit dalam hati), sedikit banyaknya tidak akan terjadi perubahan positif pada anak.Memberi pengertian pada pasangan untuk tidak cuci tangan dan im sifatnya mutlak. Tidak ada tugas keayahbiindaan yang dapat didelegasikan.Kerja sama dengan kmueior untuk melakukan penanganan tahap-tahap pengelolaan perilaku dan sosial-emosi anak.

Kerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan pengawalan dalam protes akademisnya.

Tentunya dalam mengawal anak tunalarat diperlukan kesabaran dan keikhlasan yang sesungguhnya untuk menerima anak apa adanya * * *

Ringkasan Artikel Ini

Tunalaras Memang bokan masalah yang sederhana untuk menentukan batasan mengenai anak yang mengalami gangguan perilaku atau yang dikenal dengan istilah tunalaras. Sebetulnya kekhususan yang paling muncul dari anak yang mengalami gangguan perilaku, lebih ke arah kurang berkembangnya kemampuan sosial-emosi, dikaitkan anak kurang memahami secara adekuat mengenai nilai-nilai. Ciri dari anak tunalaras yang masih dapat dibantu dengan terapi konselor adalah anak masih bisa bergaul dengan orang lain, tetapi mereka mempunyai permasalahan pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Ciri yang menonjol pada anak tunalaras adalah kehidupan emosinya yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emi isinya secara tepat, dan pengendalian diri yang kurang sehingga mereka sering menjadi sangat emosional. Perasaan-perasaan seperti ini tentu akan mengganggu situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi dirinya Adapun prestasi akademiknya yang kurang baik, umumnya disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar akibat ma-salah gangguan emosi yang mereka alami. Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar, lambat laun dapat menjadikan anak frustrasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga anak mem .in kompeasa-si yang sifatnya negatif, misalnya membolos, lari dari rumah, berkelahi, serta mengacau dalam kelas.

Sumber :

http://bataviase.co.id/content/memahami-anak-tunalaras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s