PENYANDANG TUNADAKSA

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Penyandang cacat penghuni Asrama Swa Prasidya Purna di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rosita, memerhatikan gambar saat dirinya bertemu Ibu Tien Soeharto yang terpajang di pintu kamarnya, Selasa (9/2). Rosita adalah salah satu penyandang cacat yang pernah belajar keterampilan di sanggar yang kini hendak dirobohkan.

Berharap Ada Tempat Mengasah Keterampilan

Jumat, 12 Februari 2010 | 03:29 WIB

Sudirman (56) masih ingat ketika dia pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta, tahun 1975. Ketika itu, sebagai penyandang tunadaksa, Sudirman berharap bisa mempelajari keterampilan yang bisa menghidupinya kelak.

Bersama sekitar 80 penyandang tunadaksa, Sudirman menjadi angkatan pertama di Sanggar Swa Prasidya Purna, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sanggar yang digagas Ibu Tien Soeharto itu menjadi tempat belajar khusus tunadaksa.

Sudirman berkisah, sanggar didirikan di atas tanah seluas hampir 3 hektar. ”Tanah ini merupakan hibah dari Pemda DKI Jakarta dan dikelola Yayasan Harapan Kita,” katanya.

Di sanggar itulah, Sudirman belajar teknik percetakan. Setelah setahun belajar di dalam sanggar, Sudirman dikirim belajar di Pusat Grafika Indonesia selama tiga bulan. Seusai dari Pusat Grafika Indonesia, Sudirman kembali ke sanggar untuk memantapkan keterampilan. ”Tahun 1978, saya memutuskan keluar dari sanggar dan hidup mandiri. Sampai sekarang, keterampilan itu berguna karena saya bekerja di percetakan,” papar Sudirman penderita polio di kaki kanannya.

Keterampilan di bidang percetakan pernah mengantarkan penyandang tunadaksa ini sebagai pencetak surat suara dalam pemilu tahun 1970. Pada masa kejayaan itu, sanggar kerap dikunjungi tamu mancanegara yang ingin mencontoh keberhasilan pemerintah memberikan keterampilan kepada penyandang tunadaksa.

Rosita Ahmawati (55), rekan seangkatan Sudirman, mengakui, sanggar memberinya keterampilan. ”Saya belajar menjahit di sini,” ucap Rosita yang juga menderita polio di kaki kiri dan patah kaki di kaki kanan.

Bersama rekan-rekan yang belajar menjahit, Rosita mengerjakan banyak pesanan, antara lain, seragam untuk pekerja Pertamina. Dari hasil menjahit, Rosita bisa mengantongi Rp 35.000 per bulan. Upah menjahit ini menjadi uang saku para penyandang tunadaksa lantaran kebutuhan hidup sehari-hari sudah terpenuhi oleh pengelola sanggar. Lantaran nyaman, sebagian penghuni betah tinggal di sanggar yang kemudian menjadi asrama itu. Sejumlah penghuni bahkan memboyong istri atau suami serta anak dan cucu mereka ke asrama ini.

Kejayaan konfeksi tidak berlangsung lama. Ketika konfeksi dihapuskan dari asrama, Rosita dipekerjakan sebagai tenaga penjilid di percetakan. Setelah itu, dia masih sempat bekerja di pengemasan gelas. Namun, kejayaan itu akhirnya runtuh juga. Krisis ekonomi di republik ini ikut membuat pihak yayasan kesulitan mengoperasikan asrama. Tahun 1998, asrama ditutup.

Sehari-hari, Rosita kini menghabiskan waktu di atas kursi roda. Semua jenis pekerjaan yang pernah dilakoninya sudah tidak ada lagi. Akhirnya, dia tidak mendapatkan penghasilan lagi. ”Sekarang, saya cuma dapat uang saku dari kiriman mami saya,” katanya.

Memang ada sebagian penyandang tunadaksa yang masih bekerja. Suyadi (46), misalnya, masih mengerjakan kemasan karton untuk bungkus onderdil di sebuah perusahaan otomotif. Pembuatan kemasan dikerjakan di dalam asrama bersama sembilan rekan lainnya. Mereka mendapatkan pekerjaan ini dari Maryono, pengusaha yang juga ”alumnus” Swa Prasidya Purna. Dari pekerjaan ini, Suyadi dan rekan-rekannya mendapatkan upah sesuai upah minimum Provinsi DKI Jakarta.

Segera sirna

Kejayaan Swa Prasidya Purna bakal sirna seiring rencana YHK mengosongkan asrama akhir Februari. Pihak YHK memberikan ganti rugi Rp 3 miliar bagi 80 penghuninya. Saat ini, kondisi asrama mengenaskan. Bangunan yang dihuni penyandang tunadaksa tidak terawat. Plafon mulai rusak dan bolong, taman di sekitar bangunan ditumbuhi rumput tinggi, dan sebagian lokasi dijadikan tempat pembuangan sampah.

”Kami rela asrama dihancurkan. Tetapi, kami berharap akan ada tempat bagi penyandang tunadaksa yang masih muda dan belum berketerampilan agar mereka bisa mandiri seperti kami,” kata Sudirman. (ART)

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/12/03290057/berharap.ada..tempat.mengasah.keterampilan#

One response to “PENYANDANG TUNADAKSA

  1. Pingback: Pendidikan Khusus (Tunanetra, Tunarungu, Tunawicara) | librarians2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s