Anak Autis : Pandanglah kami sebagai orang Normal…

Post by PSIBK USD | 14 April 2010 | 12:09 PM

Tak sedikit pun kata keluar dari mulut Sue (28). Tatapannya semata terpaku pada tetesan air yang memenuhi sendok plastik kesayangannya. Ditumpahkannya dan kembali tetesan air kran yang mengalir di satu sudut rumahnya di Amerika Serikat ditadah lagi dengan sendok berwarna putih itu.

Cukup sering Sue sendirian melakukan hal itu. Baginya, aktivitas itu membuatnya tenang dan tenteram. Terkadang, Sue melanjutkannya dengan berdiri di depan pintu masuk rumahnya, meski tak jelas apa yang dilihat, dan bersandar setelahnya.

Ini adalah cuplikan film dokumenter yang berkisah tentang anak autis, digelar dalam orasi ilmiah bertajuk “Perspektif Positif dalam Memahami Autis” oleh Dr Adriana S Ginanjar, MS, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Selasa (3/3).

Sue hanyalah salah satu dari sekian ratus anak autis di Amerika Serikat. Adapun jumlah anak autis di Indonesia, menurut Adriana, bertambah cukup pesat. Ini terlihat dari makin banyaknya pusat terapi yang menangani anak-anak autis, juga pembahasan di media massa, dan seminar-seminar. Sayangnya, belum ada data resmi dari pemerintah tentang jumlah anak autis.

“Di Amerika Serikat, sekitar satu dari 166 anak yang lahir tergolong anak autis. Nah, sayangnya pemerintah kita belum punya data jumlah anak autis seluruh Indonesia. Padahal ini diperlukan untuk memandang seberapa urgent hal ini harus mendapat perhatian agar anak autis tidak dimasukkan pada sekolah normal, seperti yang saat ini terjadi,” terang Adriana.

Lebih lanjut, Adriana memaparkan, faktanya sekolah-sekolah normal ternyata belum mampu menangani anak autis. Cara memasukkan anak autis ke sekolah normal memang memberikan kebanggaan si orangtua bahwa anaknya normal.

“Sementara di lain sisi tidak ada kesiapan dari pihak sekolah dalam menangani anak autis termasuk teman-temannya yang kerap memperlakukan si anak autis dengan cara berbeda,” terangnya.

Karena itu, menurut Adriana, perlu penanganan khusus terhadap anak autis. Memang, lanjut Adriana, menangani anak autis tidak mudah. Perlu ada kerja sama lebih baik dari guru dan orangtua yang berorientasi pada pengembangan diri dan menjauhkan anak dari bullying.

Orangtua perlu serius menemukan keunggulan anaknya melalui konsep multiple intelligence bahwa kecerdasan bisa beragam. Ada kecerdasan matematis, kinetik, matematis dan verbal. Setiap anak autis memiliki ciri khusus dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda.

“Ini adalah keunggulan anak autis yang layak dikembangkan,” terang ibu Atmazka Ginanjar yang juga menderita autis. Dengan demikian, tak heran cukup banyak anak yang menunjukkan kemampuan di bidangnya, seperti musik, seni, matematika, komputer, dan menggambar. Sebagian individu autis memiliki kemampuan luar biasa tanpa melalui proses belajar yang disebut savant, seperti mampu menghafal kamus ensiklopedia secara rinci.

“Sayangnya, penanganan anak autis di Indonesia cenderung menekankan pada kekurangan (defisit), bukan pada penggalian dan pengembangan potensi,” lanjut Adriana. Padahal, pengembangan potensi dapat digunakan sebagai kompensasi dari defisit yang ada.

Karena itu, cara terbaik memahami mereka adalah dengan berusaha mengenali mereka tanpa prasangka tertentu, apalagi membandingkan mereka dengan individu normal.

“Kita juga harus menggunakan perspektif holistik dan positif, yaitu memandang anak autis sebagai individu yang utuh dan memiiki potensi kreatif,” pungkasnya.

Kenali individu autis lebih dalam, hargai keunikan mereka, serta percaya bahwa mereka juga mampu berpikir dan mengembangkan diri, maka kita akan membantu mengembangkan individualitas dan potensi mereka secara optimal. Demikian penjelasan Adriana.

“Kita bisa saksikan individu autis yang sukses seperti Oscar Dompas-autis asal Indonesia yang sekarang menjadi pengusaha sekaligus penulis buku, Jasmine Lee O’Neil-penulis perempuan autis, Donna Williams-perempuan penulis autis,” ujarnya.

Jadi, kenali penderita Autis dengan cara berbeda. Adriana mengimbau, pandanglah bahwa mereka memiliki keunggulan tersendiri.

Sumber:

9 responses to “Anak Autis : Pandanglah kami sebagai orang Normal…

  1. Aku mencintai mereka tanpa syarat. mereka (anak ASD) memiliki dunia sendiri, bahasa sendiri, keinginan sendiri yang kita dapat pahami dan masuki lewat kerendahan hati…. Aku sungguh bangga dapat mendampingi mereka dan menjalin relasi yang intens. (Therapi center for Special Needs : RUMAH GRAHITA. Bandar Lampung)

    • mereka adalah bagian terindah dari isi dunia ini, berbahagialah dan berbanggalah krn anda bisa membantu mereka meraih masa depan dgn menerima mereka tanpa syarat.

  2. Keluarga kami akan pindah ke bandar lampung. Saya membutuhkan info mengenai tempat terapi bagi anak dengan gejala autis di Bandar Lampung, usianya 2,5 tahun. Mohon bantuan dan infonya, terimakasih.

    • terimakasih untuk komentarnya.
      kami sudah berusaha untuk mencarikan informasi mengenai tempat terapi autis di lampung, kami kirimkan hasilnya via email ibu koesoemo.

  3. Dimana saya bisa mendapatkan informasi mengenai tempat terapis bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Bandar Lampung khususnya yang menangani para anak penyandang autis. Mohon bantuannya. Dikirim via email saja. Terimakasih..

    • terimakasih atas komentarnya, nanati akan kami carikan info mengenai tempat penanganan anak autis di daerah lampung dan akan kami kirim via email.

  4. saya membutuh daftar sekolah2 untuk anak berkebutuhan khusus (autis) yang di bandar lampung. karena saya ada penelitian tentang mereka yang luar biasa. terima kasih😛

  5. Saat ini anak saya pun bersekolah di sekolah Autis,tapi saya yakin suatu saat nanti ia bisa hidup normal layaknya anak2 normal lainnya…

  6. saya membutuhkan informasi dimana sekolah untuk anak autis dibandarlampung yang ada asrama agar anak sy umur 6thn dpt mengikuti sekolah secara kontinyu krn sy jauh dilampung utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s