Tinjau UASBN, Seto Mulyadi Usulkan Paduan Braille dan Inklusi

Laporan wartawan KOMPAS Adi Sucipto
Selasa, 12 Mei 2009 | 14:39 WIB

SUGIHARTO/SURYA DAILY

Ilustrasi: Bicko, Siswa SMALB Yayasan Penddikan Anak Buta (YPAB) Surabaya, dipandu pengawas UN mengerjakan soal-soal ujian beberapa waktu lalu (20/4). Pelaksanaan UASBN bagi siswa penyandang tuna rungu pun memerlukan bantuan guru.

GRESIK, KOMPAS.com — Seto Mulyadi, pemerhati anak yang juga anggota tim Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP), bersama Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Rasiyo, Selasa (12/5), meninjau siswa Sekolah Dasar Luar Biasa Bhayangkari Gresik yang melaksanakan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN). Kali ini, ujian di sekolah tersebut hanya diikuti tiga peserta berkebutuhan khusus.

Seto Mulyadi menyarankan agar dalam pendidikan anak tuna netra sebaiknya dilakukan dengan pendekatan braille yang dipadukan dengan sekolah inklusi. “Meskipun materi braille masih sulit, namun dengan pendekatan braille akan melatih anak untuk lebih mandiri. Tentu secara inklusi juga perlu diberikan,” ujarnya.

Kepala SDLB Bhayangkari Gresik Masruroh Afnan mengatakan, peserta UASBN terdiri dari dua siswa tunarungu dan satu siswa tunanetra. Pelaksanaan ujian bagi siswa tunarungu masih memerlukan bantuan guru. Peserta UASBN tunanetra diikutkan UASBN inklusi bersama siswa normal lain di SD Negeri 1 Singosari.

Menurut Masruroh, kemampuan siswa tunanetra itu di atas rata-rata, tetapi perlu orang lain untuk membacakan soal dan menandai jawaban di lembar jawaban. “Dari sisi kemampuan, siswa yang bersangkutan tidak kalah karena, dari try out yang diikuti, hasilnya di atas rata-rata,” katanya.

Selain meninjau pelaksanaan UASBN di SDLB Bhayangkari Gresik, Seto dan Rasiyo juga meninjau pelaksanaan UASBN di SDN Kebomas, SD Muhammadiyah GKB dan MI Fuluhatul Ulum Manyar.

Rasio menyatakan, pelaksanaan ujian di Gresik berlangsung lancar. Dia menambahkan, untuk soal standar nilai kelulusan diserahkan kepada sekolah masing-masing.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Gresik, Sakiran, menyatakan, standar nilai kelulusan UASBN SD di Gresik beragam. Standar kelulusan tertinggi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA 5,5, Matematika tertinggi 5,0.

Namun, ada juga sekolah yang mematok standar kelulusan 3,5. Di Gresik, peserta UASBN tingkat SD tahun ajaran 2008/2009 mencapai 19.559 peserta. Pelaksanaan UASBN kali ini terbagi dalam 18 subrayon dari 1.387 lembaga SD, MI, dan SDLB. (ACI)

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2009/05/12/14390450/tinjau.uasbn.seto.mulyadi.usulkan.paduan.braille.dan.inklusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s