Oral Aural Kembangkan Keterampilan Berbahasa Lisan Tunarungu

Senin, 25 Mei 2009 | 20:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Metode “oral aural” yang diterapkan pada penyandang cacat tuna rungu mampu mengatasi permasalahan pendengaran dan tuna wicara.

“Metode tersebut lebih mengutamakan perkembangan ketrampilan berbahasa lisan,” kata Kepala Bidang Pendidikan Tuna Rungu Yayasan Santi Rama (YSR), Maria Susila Yuwati, di Jakarta, Senin.

Metode “oral aural”, akan efektif jika diterapkan pada anak usia dini setelah diketahui mempunyai kelainan tuna rungu sehingga orangtua cepat menanganinya.

“Dengan menangani tuna rungu sejak dini, keterlambatan daya tangkap dan kemampuan berkomunikasi akan terbantu,” jelas Maria.Tuna rungu sangat berpengaruh pada perkembangan kecerdasan anak.

Keterbatasan dalam komunikasi oral atau lisan tersebut berakibat pada lemahnya daya tangkap dan kemampuan berbahasa seseorang.

“Jika seorang anak lemah daya tangkapnya, ia akan merasa minder atau terganggu secara emosional serta hubungan sosialnya,” Maria menjelaskan.

Ada beberapa cara dalam metode ini. Yaitu, melakukan observasi dengan bertujuan mendeteksi kelainan pada organ pendengaran. Pada tahap ini, secara medis, dokter memasukkan alat tes pendengaran setelah kelahiran. Setelah itu,secara manual,dilakukan tes oleh guru yang ada di YSR.

“Cara manual dilakukan dengan memainkan bunyi-bunyian di belakang seorang anak,” kata Maria sambil memperagakan cara itu.

Dengan menggunakan sebuah alat, akan diketahui ukuran kepekaan pendengaran terhadap bunyi. Pada orang normal, mampu mendengar bunyi pada tingkat 30-60 desibel yang ditunjukkan alat tersebut.

Rata-rata para penyandang tuna rungu hanya mampu mendengar bunyi pada tingkatan 90 desibel, jika pada tingkatan 120 desibel disebut tuna rungu total, katanya.

Metode “oral aural” yang dilakukan di YSR adalah memanfaatkan sisa kemampuan pendengaran dengan menambahkan alat bantu dengar atau “hearing aid”.

Setelah kemampuan pendengaran diketahui, kemudian anak diajarkan cara berkomunikasi oral, yaitu dengan menirukan bentuk mulut, merasakan getaran suara di bagian dada, serta ekspresi atau raut muka lawan bicara.

“Anak-anak penyandang tuna rungu sering merasa frustrasi saat tidak bisa menirukan ucapan guru pembimbingnya di depan cermin,” kata Maria.

Ia menambahkan, bentuk bibir saat melafalkan kata kadang sudah benar, namun suara yang keluar tidak sesuai.

Setelah anak berlatih melafalkan kata-kata akan diajari pula penggunaan bahasa isyarat dengan tangan. Penanganan pada usia 0-6 tahun akan mempercepat kemampuan berkomunikasi dan daya tangkap otak, ia menjelaskan.

“Dengan metode “oral aural” anak-anak akan berkomunikasi dengan baik, interaksi tidak terganggu, dapat melanjutkan sekolah reguler hingga perguruan tinggi,” ujar Maria.

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2009/05/25/20531876/oral.aural.kembangkan.keterampilan.berbahasa.lisan.tunarungu

3 responses to “Oral Aural Kembangkan Keterampilan Berbahasa Lisan Tunarungu

  1. Thanks infonya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s