Membentuk Huruf dari Titik dan Garis

Rabu, 23 Desember 2009

Sejak Louis Braille menemukan sistem penulisan braille, membaca menjadi hal yang mungkin dilakukan kaum tunanetra.  Huruf braille merupakan huruf yang dibuat khusus untuk mereka yang keterbatasan dalam penglihatan. Huruf braille memiliki ciri-ciri khusus, dibuat seperti titik-titik yang timbul di atas selembar kertas.

Braille menemukan teknik membaca khusus bagi para tunanetra berawal ketika Charles Barbier, seorang kapten perang menemukan suatu metode menulis menggunakan titik dan tanda garis. Metode itu biasa digunakan ketika peperangan pada malam hari. Sayangnya, metode tersebut sulit untuk dipelajari. Berangkat dari permasalahan tersebut, Braille mencoba menganalisis kekurangan metode hasil pengembangan Barbier. Berdasarkan hasil analisisnya Braille menemukan metode itu terlalu banyak baris titik dan garis untuk membuat satu kalimat karena belum memiliki tanda baca.

Pada 1829 dia memperbaiki sistem tersebut dan menyebarkan metode yang dikembangkannya hingga dapat dipelajari oleh para tunanetra.  Sejalan perkembangan teknologi, penyandang tunanetra dapat membaca huruf braille dengan bantuan perangkat komputer lewat teknik alternatif yang dikenal sebagai refreshable braille display. Teknik itu harus ditopang sebuah perangkat keras (hardware) untuk mengonversi teks menjadi karakter braille yang dapat dibaca dengan cara perabaan pada bagian display-nya.  Alat tersebut harus dihubungkan ke central processing unit (CPU) pada sebuah personal computer (PC) untuk menerima data teks.  Informasi yang berada di layar monitor ditampilkan pada braille display itu baris demi baris. Sejauh ini, braille display yang sudah dikomersilkan hanya diproduksi untuk menayangkan satu baris karakter braille, yang bervariasi dari 18 hingga 80 karakter per baris.

Kini, penyandang tunanetra tanpa perangkat komputer pun dapat membaca lebih mudah dan begitu menyenangkan dengan My Learning Module (MLM) for the Blind. Alat itu juga menyediakan akses informasi yang lebih cepat. Karena itu, para tunanetra dapat membaca berbagai bacaan di setiap tempat, setiap waktu.  Untuk mengoperasikan MLM for the Blind langkah awal yang harus dilakukan ialah memasukkan kartu memori multi media card (MMC) yang telah terisi data bacaan ke sebuah slot.  Setelah itu, saklar on yang ada di bagian belakang alat dinyalakan. Di atas 42 braille cells terdapat tombol-tombol perintah, namun dari kesemua tombol itu hanya tujuh tombol perintah yang berfungsi, lima tombol secara berurutan ada di sebelah kiri dan dua tombol di sebelah kanan.  Tombol 1 (Esc) yang terletak di ujung paling kanan alat digunakan untuk mengoperasikan menu keluar dari bacaan yang dibaca. Tombol 2 digunakan untuk memilih bahan bacaan yang diinginkan.  Tombol 3 digunakan untuk menampilkan informasi pada halaman dan baris bacaan. Tombol 4 digunakan untuk menampilkan halaman informasi dan baris terakhir pada bacaan. Tombol 5 digunakan untuk sampai ke halaman dan membaca baris yang diinginkan pengguna.  Sedangkan tombol yang berada di ujung sebelah kanan, tombol 42 (Next) digunakan untuk menampilkan judul atau membaca baris berikutnya. Tombol 41 (Preview) digunakan untuk menampilkan judul atau garis-garis bacaan sebelumnya.

Didi Tasidi, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) menilai MLM for the Blind merupakan perangkat yang memudahkan para pembaca braille tanpa perangkat komputer. “Ide pembuatan MLM for the Blind itu sangat cemerlang karena dapat memberikan solusi bagi para tunanetra semakin melek huruf braille,” ujarnya. Dengan perangkat itu, penggunaan kertas sebagai media membaca huruf braille juga dapat dikurangi.

Penulis Berita : awm/L-2

Sumber:

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=40770

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s