Penggolongan Cabang Paralimpiade 2012

Setelah pesta akbar Olimpiade usai digelar, giliran Paralimpiade yang mengambil alih London.

Dalam pesta olahraga penyandang cacat itu -yang sering juga disebut dengan orang dengan kemampuan berbeda- akan dipertandingan 20 cabang olahraga, namun tidak semua penyandang cacar bisa ikut berpartisipasi.

Semua cabang yang dipertandingkan memiliki syarat dan klasifikasi masing-masing.

PANAHAN

Panahan terbuka untuk diikuti para atlet dengan keterbatasan fisik namun katagorinya dibagi menjadi tiga kelas.

ARW 1: Atlet yang menggunakan kursi roda dengan cacat di seluruh keempat tungkai.

ARW 2: Atlet pengguna kursi roda namun kedua tangan masih berfungsi baik.

Paralimpiade

ARST (berdiri): Para atlet berkompetisi sambil berdiri termasuk mereka yang membutuhkan alat bantu berdiri karena keseimbangan yang buruk.

ATLETIK

Semua kelompok penyandang cacat bisa mengikuti cabang ini dan untuk membedakan mereka maka digunakan sistem huruf dan angka.

Huruf F adalah untuk atlet lapangan, T menjadi tanda mereka yang berlomba di lintasan dan nomor digunakan untuk menunjukkan jenis cacat yang disandang

11-13: Para atlet lapangan dan trek yang memiliki masalah penglihatan. Para atlet tuna netra berkompetisi di kelas 11, mengenakan penutup mata dan dibantu seorang pemandu.

Para atlet kelas 12, adalah mereka yang juga memiliki masalah penglihatan namun masih bisa memilih apakah akan menggunakan bantuan pemandu atau tidak.

20: atlet lapangan dan trek yang memiliki keterbatasan berpikir. Di London terdapat tiga nomor yang dipertandingkan di kelas ini yaitu lari 1500m, lompat jauh, dan tolak peluru.

31-38: katagori khusus untuk para atlet yang menderita kelumpuhan otak atau gangguan lain yang mengganggu fungsi kordinasi dan kontrol otot.

Atlet yang termasuk katagori 31-34 berkompetisi dengan posisi duduk sedangkan atlet katagori 35-38 berkompetisi dengan berdiri.

40: Para atlet nomor lapangan dan lintasan yang memiliki kelainan tinggi badan.

42-46: Khusus untuk para atlet yang mengalami amputasi. Dalam kelas 42-44, atlet yang diamputasi kakinya dan kelas 45-46 adalah untuk mereka yang mengalami amputasi tangan.

T51-54: Adalah katagori atlet nomor lintasan yang menggunakan kursi roda. Atlet di kelas 51-53 menderita cacat baik di tungkai atas atau bawah, sementara atlet-atlet katagori T54 menderita gangguan fungsi di sebagian kaki dan tubuh.

F51-58: Atlet nomor lapangan yang menggunakan kursi roda. Para atlet di kelas F51-54 memiliki fungsi bahu, lengan dan tangan yang terbatas serta kaki dan pinggul yang tak berfungsi.

Sementara atlet berkatagori F54 memiliki fungsi tangan dan lengan yang normal, sedangkan di katagori F55-58 fungsi kaki dan pinggul sedikit lebih baik.

BOCCIA

Paralimpiade

Boccia atau semacam permainan bowling juga terbuka untuk atlet dengan kelumpuhan otak serta gangguan fisik berat lainnya yang bertanding menggunakan kursi roda dengan empat klasifikasi.

BC1: Para pemain dengan kerusakan otak yang mampu menggunakan tangan atau kaki untuk secara konsisten menggerakkan bola dalam permainan. Para atlet katagori ini didampingi pemandu untuk memberikan bola sebelum mereka melakukan lemparan.

BC2: Para atlet dengan kelumpuhan otak namun mampu menggunakan tangan dan kaki jauh lebih baik dibanding atlet katagori BC1.

BC3: Para atlet dengan kelumpuhan otak atau disfungsi gerak lain di keempat tungkai yang tak mampu melempar atau menendang bola dalam permainan sehingga diperbolehkan menggunakan alat bantu untuk menggerakkab bola di dalam permainan dan dibantu seorang asisten yang bertugas menyusun jalur lemparan bola.

BC4: Para atlet yang tak memiliki masalah kelumpuhan otak namun memiliki gangguan fungsi gerak lain di keempat tungkai dan memiliki kemampuan fungsional seperti atlet BCS. Kondisi seperti distrofi otot, kelainan spina bfida (tulang belakang terbuka), tetraplegia, berada dalam katagori ini.

BALAP SEPEDA

Cabang balap sepeda terbuka untuk para atlet yang mengalami amputasi, para les autres (atlet yang tak bisa dimasukkan katagori lain), atlet dengan kelumpuhan otak dan gangguan penglihatan.

Mereka akan berlaga baik di nomor jalan raya dan nomor lintasan.

Para atlet dengan gangguan fisik berlomba dengan sepeda (jalan raya dan lintasan), sepeda tangan dan sepeda roda tiga (hanya untuk nomor jalan raya). Sementara atlet dengan masalah penglihatan turun di cabang tandem dengan didampingi seorang pemandu.

Sepeda tangan kelas H1-4: Para atlet di kelas H1-3 berlomba dengan posisi berbaring. Atlet H1 adalah mereka yang tak memiliki fungsi pinggang dan kaki yang hanya mengandalkan fungsi tangan.

Paralimpiade

Sementara katagori H3 tidak memiliki kaki namun memiliki fungsi pinggul dan lengan yang baik. Sedangkan atlet H4 duduk di atas lutut mereka dan menggunakan lengan serta pinggulnya.

Sepeda roda tiga T1-2: Balapan bagi atlet yang tak mampu menaiki sepeda karena kondisi yang mempengaruhi keseimbangan dan kordinasi mereka.

Para atlet di katagori T1 memiliki masalah kordinasi yang lebih serius dibanding para atlet katagori T2.

Nomor sepeda C1-5: Diikuti para atlet yang menderita kelumpuhan otak atau mengalami amputasi. Para atlet C1 memiliki keterbatasan yang lebih banyak sementara atlet C5 hanya memenuhi kriteria cacat yang sangat minim.

BERKUDA

Semua atlet penyandang cacat bisa ambil bagian dalam nomor berkuda yang dibagi dalam lima tingkatan.

Tingkat Ia: Para atlet yang menyandang gangguan berat pada tungkai dan kontrol pinggang yang buruk. Mereka biasanya menggunakan kursi roda dalam kehidupan sehari-hari.

Tingkat Ib: Para atlet berkuda yang fungsi kontrol pinggangnya mulai menurun dan kondisi tungkai atas yang sangat minim serta kondisi tungkai bawah yang buruk. Beberapa dari atlet ini menggunakan kursi roda.

Tingkat II: Atlet dalam katagori ini memiliki fungsi kedua tungkai bawah yang buruk namun memiliki keseimbangan pinggang yang baik. Kondisi lain adalah fungsi tungkai atas dan bawah yang sedikit terganggu. Beberapa dari mereka sehari-hari menggunakan kursi roda.

Tingkat III: Di katagori ini para atlet bisa berjalan tanpa bantuan namun memiliki gangguan di kedua tangan atau tak memiliki tangan. Atlet yang memiliki gangguan di keempat tungkainya juga masuk bersama para atlet berkuda tuna netra dan atlet yang memiliki masalah tinggi badan.

Tingkat IV: Para atlet yang mampu berjalan sendiri namun memiliki masalah penglihatan, berkurangnya kemampuan gerak atau menurunnya kekuatan otot serta fungsi tangan dan kaki yang terganggu.

SEPAKBOLA

Cabang sepakbola dimainkan dengan lima atlet yang memiliki gangguan penglihatan di setiap timnya. Sementara itu sepakbola dengan tujuh pemain di masing-masing tim diperuntukkan bagi para atlet dengan gangguan saraf motorik yang menghambat koordinias gerakan atau celebral palsy.

Dalam tim berisi lima pemain, mereka harus mengenakan penutup mata kecuali penjaga gawang. Namun penjaga gawang tidak boleh meninggalkan daerahnya. Aturan offside juga ditiadakan.

Bola yang digunakan dalam pertandingan dilengkapi peralatan khusus untuk menghasilkan bebunyian saat bola bergerak.

Sedangkan dalam cabang sepakbola dengan tujuh pemain, terdiri dari para atlet katagori C5, C6, C7, dan C8. Penentuan pemain sangat tergantung kemampuan mengontrol bola dan masalah kordinasi tubuh saat berlari.

Semua katagori cabang sepakbola terdiri atas para atlet yang mampu berdiri sendiri. Sementara di nomor lima pemain diisi para atlet yang setidaknya secara fisik mampu bermain.

Dalam setiap pertandingan setidaknya ada satu atlet katagori C5 atau C5 dan setiap tim tak diperkenankan menggunakan lebih dari dua pemain katagori C8 di lapangan.

BOLA GAWANG

Permainan ini dirancang untuk para atlet tuna netra dan dengan aturan khusus maka cabang ini tak memerlukan klasifikasi.

Para pemain mengenakan penutup mata untuk memastikan apakah seseorang terganggu penglihatan atau buta total supaya bisa berkompetisi secara adil. Penutup mata akan diperiksa selama pertandingan berlangsung.

Bola yang digunakan dilengkapi lonceng di dalamnya untuk mengarahkan para pemain dan sebagai akibatnya maka permainan ini dimainkan dalam keheningan.

JUDO

Cabang judo hanya diikuti para atlet yang memiliki keterbatasan penglihatan. Tak ada kategorisasi karena peserta dipisahkan menurut berat badan.

Bedanya adalah para pejudo ini memulai pertandingan dengan saling ‘mencengkeram’ dan tidak berdiri terpisah seperti judo pada umumnya.

ANGKAT BESI

Paralimpiade

Cabang ini terbuka untuk semua atlet dengan keterbatasan fisik dan dibagi menurut berat badan peserta.

Para atlet yang berkompetisi adalah mereka yang memiliki keterbatasan di tungkai bawah atau pinggang, termasuk mereka yang lumpuh, mengalami kerusakan saraf otak dan amputasi.

Baik atlet putra dan putri akan berkompetisi dalam 10 kelas yang berbeda.

DAYUNG

Cabang dayung dibagi ke dalam empat kelas perahu.

AM1x: Perahu dayung satu kursi untuk putra. Atlet bisa menggerakkan lengannya secara maksimal.

AWIx: Perahu dayung satu kursi untuk putri. Atlet hanya bisa menggunakan lengannya secara maksimal.

TA2x: Dua atlet campuran dengan kemampuan lengan dan pinggang.

LTA4+: Perahu berisi dua atlet putra dan dua atlet putri ditambah seorang pengemudi di atas tempat duduk geser. Nomor ini terbuka bagi para atlet yang memiliki keterbatasan penglihatan namun memiliki pergerakan kaki, pinggang, dan lengan. Di atas setiap perahu hanya dimungkinkan dua atlet yang memiliki keterbatasan penglihatan dan selalu mengenakan penutup mata selama latihan dan kompetisi.

LAYAR

Cabang layar bisa diikuti atlet dengan berbagai keterbatasan mulai dari mereka yang diamputasi, kerusakan saraf otak, keterbatasan penglihatan, menggunakan kursi roda dan kelompok lain yang tidak bisa dimasukkan ke dalam katagori manapun.

Terdapat tiga kelas yang dipertandingkan yaitu: kelas sonar dengan tiga awak, Skud-18 dengan dua atlet, dan 2,4mR yang hanya membutuhkan satu awak.

Peringkat peserta didasarkan sistem angka satu hingga tujuh dengan angka terendah diberikan untuk atlet yang memiliki keterbatasan fisik tinggi sedang angka tertinggi untuk atlet yang tingkat keterbatasan fisiknya rendah.

Dalam kelas dengan tiga orang awak maka maksimum nilai untuk ketiganya adalah 14.

Dalam katagori Skud-18. satu awak memiliki tingkat keterbatasan sangat buruk (sama dengan kelas satu atau dua) sementara kru lainnya harus memiliki level keterbatasan yang lebih rendah demi menjaga keadilan dalam berkompetisi.

Dalam kelas satu orang kru, maka pesertanya harus memiliki level keterbatasan fisik yang sama.

MENEMBAK

Para atlet menembak akan dibagi dalam kelas kursi roda dan kelas berdiri.

Paralimpiade

Kedua kelas ini kemudian dibagi dalam enam sub kelas yang masing-masing kelas dibedakan dengan alat bantu gerak yang boleh digunakan para atlet.

SH1: Untuk nomor pistol dan senapan yang tak membutuhkan alat bantu berdiri khusus.

SH2: Untuk para atlet yang memiliki gangguan tungkai bagian atas dan membutuhkan alat bantu berdiri.

RENANG

Renang adalah satu-satunya olahraga yang menggabungkan antara kondisi tak memiliki tungkai, keterbatasan kordinasi dan gerakan tubuh, serta berbagai jenis kelumpuhan dan keterbatasan fisik lainnya.

1-10: Diperuntukan bagi atlet dengan satu keterbatasan fisik. Semakin rendah nomor yang digunakan semakin kompleks pula keterbatasan fisik atlet itu.

11-13: Untuk atlet dengan gangguan penglihatan.

14: Ditujukan untuk para atlet yang memiliki keterbatasan intelektual.

Akhiran S menunjukkan kelas gaya bebas, gaya punggung, dan kupu-kupu. SB untuk gaya dada dan SM untuk gaya ganti perseorangan.

Awalan dan nomor digunakan untuk membedakan klasifikasi. Perenang dengan multi keterbatasan fisik (S1, SB1, SM1) serta bagi atlet dengan keterbatasan fisik minim menggunakan S10, SB9, SM10.

Dalam setiap kelas, perenang mungkin start dengan melompat atau sudah berada di dalam kolam, yang dipertimbangkan saat pengelompokan para atlet.

Para perenang mungkin memiliki penggolongan yang beragam sesuai dengan nomor yang mereka ikuti -misalnya satu perenang masuk penggolongan yang berbeda untuk gaya dada, gaya punggung.

Kelas 14 kembali dipertandingkan di Paralimpiade London setelah sempat dicabut di Athena dan Beijing.

TENIS MEJA

Paralimpiade

Para atlet yang memiliki keterbatasan fisik dan intelektual boleh mengikuti cabang ini, yang dibagi dalam 11 kelas.

1-5: Atlet yang bertanding dengan kursi roda, kelas satu dengan kondisi terburuk dan lima yang paling kurang cacat.

6-10: Para atlet yang bisa bergerak dengan kelas enam yang menderita keterbatasan paling buruk.

11: Untuk para atlet yang menderita keterbatasan intelektual.

BOLA VOLLEY DUDUK

Bola Volley duduk dipertandingkan oleh para atlet yang memiliki keterbatasan fisik dengan dua kelas Penyandang Cacat Minimal (MD) dan Penyandang Cacat (D). Setiap tim hanya memiliki satu MD di lapangan dan lima pemain lain harus dari kelas D.

BOLA BASKET KURSI RODA

Bola basket terbuka untuk para atlet dengan kursi roda yang menderita amputasi di bawah paha, saraf motorik, maupun polio.

Atlet digolongkan berdasarkan dengan kemampuan fisik dan mendapat satu peringkat poin antara satu dan 4,5. Satu dengan cacata yang amat buruk dan 4,5 yang paling kurang.

Setiap tim terdiri dari lima pemain namun jumlah poin dari satu tim maksimal 14 dalam satu kesempatan.

ANGGAR KURSI RODA

Paralimpiade

Anggar terbuka untuk atlet yang menggunakan kursi roda yang kondisinya tidak memungkinkan mereka untuk bertandang dengan atlet dengan kemampuan fisik penuh.

Kategori A: Atlet dengan kemampuan keseimbangan yang baik dan pergerakan tubuh yang utuh.

Kategori B: Atlet dengan keseimbangan yang buruk namun kemampuan penuh untuk satu atau kedua tungkai atas.

RUGBY KURSI RODA

Atlet rugby kursi roda digolongkan berdasarkan sistem poin, yang paling buruk 0,5 poin dan yang paling mampu 3,5 poin.

Setiap tim terdiri dari empat pemain dan nilai total poin bisa sampai delapan.

TENIS KURSI RODA

Tenis dimainkan oleh atlet kursi roda dengan dua kelas: terbuka dan kuad (ketidakmampuan di tiga tungkai atau lebih)

Dalam kompetisi tenis kursi roda, para pemain dibolehkan mementalkan bola dual dengan pentalan perada berada di dalam lapangan.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2012/08/120731_paralympics.shtml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s