Hari Pendidikan Nasional dan Sejumput Harapan Siswa SLB (Sekolah Luar Biasa)

Pendidikan, menjadi pilar penting dalam kemajuan sebuah negara, itulah prinsip yang sering digadang oleh banyak kalangan. Namun, hal tersebut sepertinya menjadi tidak berarti di negara kita. Pendidikan menjadi nomor kesekian dan bahkan tidak merata dalam banyak hal. Mulai dari fasilitas, tenaga pengajar sampai kesempatan memperoleh hak belajar juga masih belum terjamin. Hal tersebut juga terjadi pada saudara dan teman-teman kita yang berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Memang tidak bisa dipungkiri jika akhir-akhir ini, pihak pemerintah sudah memberikan perhatian kepada pihak SLB, tetapi hal tersebut dirasa masih kurang dan bahkan jauh dari yang seharusnya. Semisal dari segi fasilitas, masih banyak sekolah yang belum dilengkapi dengan berbagai sarana pendidikan yang seharusnya. Terkesan asal saja mendirikan sekolah dan ujung-ujungnya supaya pihak tertentu mendapatkan aliran dana dari pemerintah untuk diselewengkan. Kurang meratanya pembangunan SLB di daerah-daerah juga menjadi hambatan bagi berkembangnya pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus.

Poin kedua adalah masalah tenaga pengajar atau guru. Dalam hal ini, pemerintah juga enggan untuk memberikan perhatian secara khusus. Kekurangan guru menjadi isu penting terkait dengan hal ini. Minat para pengajar muda dirasa kurang sehingga banyak sekolah yang notabene memperkerjakan tenaga pengajar secara berlipat atau dibebani dengan pengajaran di beberapa kelas. Padahal murid yang mereka bimbing adalah siswa berkebutuhan khusus dan memerlukan penanganan lebih istimewa dibanding dengan yang lain. Oleh karena itu, adanya penambahan jam dan perbedaan kelas mengajar (tunanetra lalu tunarungu) tentu akan sangat berpengaruh pada kualitas pengajaran. Dalam hal ini, sudah barang tentu muridlah yang menjadi korban utamanya.

Satu hal lagi yang juga dirasa memprihatinkan dalam dunia pendidikan Indonesia adalah adanya ketidakseimbangan kesempatan belajar. Di kota besar, semua fasilitas ada, tetapi seringkali siswa miskin dipinggirkan dan itu terjadi pula pada siswa berkebutuhan khusus. Di bagian daerah lain, tidak hanya kesempatan belajar tetapi juga bersekolah seperti dirampas. SLB tidak didirikan atau hanya sekedar berdiri saja tanpa ada kualitas pendidikan. Lalu adanya program sekolah inklusi, ini juga dirasa setengah jalan. Sekolah yang seharusnya menerima murid berkebutuhan khusus hanya semacam diberi wewenang tanpa ada pembinaan secara khusus sehingga hasilnya pun mentah. Sekali lagi, muridlah yang menerima resikonya.

Meskipun demikian, memang tidak bisa dipungkiri bahwa usaha pemerintah dalam memajukan pendidikan sudah ada, tetapi sama sekali belum maksimal. Torehan prestasi para siswa kadang dianggap angin lalu saja.

Di Hari Pendidikan Nasional ini, ada sejumput harapan dan doa yang terucap dari berbagai kalangan pendidikan, termasuk para punggawa dan keluarga SLB. Harapan kecil dimana mereka menginginkan adanya kemajuan dalam hal pendidikan. Tak banyak asa terucap karena lelah dengan segala janji yang terucap. Semoga kelak bangsa ini menjadi lebih berpendidikan. (ewd)

*dihimpun dari berbagai sumber

Kami segenap keluarga besar Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengucapkan SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL….(02 Mei 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s