Jukir Tuna Rungu Berkomunikasi lewat SMS

SEPINTAS penampilan Agus Kriz Andriyanto (31), Agus Sulistyo (28), dan Rewang Beki Zempar (29) seperti pemuda pada umumnya. Lincah dan mudah bergaul serta murah senyum.

Ketiganya dijumpai saat sedang bekerja sebagai juru parkir (jukir) di kompleks rumah toko (ruko) Jalan Honggowongso, Solo, Senin (23/1) malam. Mereka tampak terampil.

Tak ada kesan canggung, ketika mereka menata motor serta melayani pemilik kendaraan yang hendak parkir di lokasi itu.

”Saya tak mengira bila ketiga pemuda itu penyandang tuna rungu. Mereka melayani seperti juru parkir pada umumnya,”  jelas Antok, warga Kadipiro yang hendak menyewa VCD di Movie Time, salah satu ruko di lokasi itu.

Sejumlah pengunjung lain sangat mungkin juga tidak mengetahui kondisi sebenarnya dari para jukir itu. Mereka mengira, Kriz, Agus dan Rewang adalah pemuda normal.

Sebab, ketiga orang yang tercatat sebagai warga Solo itu, mampu menjalankan tugas dengan baik. Dalam amatan sepintas, Kriz Cs sejauh ini memang memilih menghindari percakapan dengan para tamunya.

Malam itu, ketiganya mendapat kunjungan dari Jayeng dan Sugeng, sesama penyandang tuna rungu. Ketika Suara Merdeka mendekat, mereka tersenyum, lantas mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan.  Namun, tak sepatah kata pun salam meluncur dari bibir mereka.

”Sugeng Ndalu, Mas,” ulang Suara Merdeka.

Ketiganya sempat saling pandang. Sebelum suasana membeku, tiba-tba Agus menempelkan jari telunjuk ke mulutnya. Jari itu, rupanya sebagai isyarat bahwa mereka tak mampu berbicara secara verbal.

Sempat muncul kesulitan, manakala kita ingin mengorek lebih dalam informasi tentang ketiga pemuda ramah itu. Apalagi, Suara Merdeka juga tak mampu memahami bahasa isyarat.

”Mas, coba saja tulis pesan lewat hp, mereka bisa menjawab dengan tulisan,” papar Sapto, salah satu petugas keamanan di lokasi itu.

Saran itu ternyata mujarab. Sebab setelah dipraktikkan, Kriz begitu antusias menjawab semua pertanyaan yang ditampilkan lewat screen seluler. Saling balas, saling membaca pesan.

Sukarela

Menurutnya, dia dipekerjakan dengan imbalan Rp 50 ribu per bulan. Biaya parkir di lokasi itu, sebenarnya digratiskan.

Bahkan pesan gratis itu ditempelkan di punggung jaket orange yang mereka kenakan. Namun, banyak di antara pengunjung yang secara sukarela memberikan uang tip atas pelayanan dari Kriz dan teman-temannya. ”Syukurlah, setiap hari rata-rata kami mendapat Rp 20 ribu-an per orang,” papar Agus.

Kemampuan melaksanakan pekerjaan semacam itu, menurut Dyah Ayu Wecaningsih, volunteer dari Gergatin (gerakan untuk kesejahteraan tuna rungu Indonesia) Solo, membuktikan sejatinya para penyandang tuna rungu, memiliki kecerdasan yang sama dengan manusia normal.  ”Sebenarnya, mereka seperti kita. Asal ada guru pendamping, mereka bisa masuk sekolah umum. Kekurangannya hanya soal berkomonunikasi saja,” paparnya.

Sejauh ini, peluang kerja dan belajar, penyandang cacat masih terpinggirkan.Dia menyebutkan di Solo Raya terdapat 237 orang tuna rungu. Karenanya, ia berharap ada kepedulian dari pemerintah untuk para penyandang tuna rungu. Misalnya, terus dilakukan kampanye tentang bahasa isyarat, sehingga dengan semakin dikenalnya bahasa khusus itu di tengah masyarakat keberadaan para bisu tuli semakin bisa diterima. (Budi Santoso-27,26)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s