Trik Gadget Android Aksesibel Bagi Tunanetra

13 Oktober 2011 / 09.00 WIB

Posts by PSIBK

Jakarta – Perangkat komunikasi bernyawa Android sudah banyak beredar di pasaran. Umumnya gadget tipe ini dioperasikan dengan layar sentuh dan jarang dilengkapi tombol navigasi fisik. Inilah yang menghambat tunanetra untuk dapat menggunakannya, namun bukan berarti tunanetra tak dapat memanfaatkannya.

Nah, artikel ini akan mengulas beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjadikan gadget Android “aksesibel” bagi tunanetra.

Sebelum teknologi layar sentuh diimplementasikan pada gadget komunikasi, tunanetra dapat dengan mudah menggunakan hampir sebagian besar produk komunikasi yang ada.

Mereka biasanya menghapal letak tombol, dan memanfaatkan teknologi pembaca layar yang dapat membacakan informasi di layar gadget.

Namun, saat teknologi layar sentuh mulai diperkenalkan, tunanetra pun dihadapkan pada kondisi di mana mereka tak lagi dapat menghapal letak tombol atau shortcut, mengingat pada gadget berlayar sentuh tak terdapat tombol berupa fisik. Kalau pun ada, biasanya hanya sebatas tombol ON/OFF, tombol Power, atau tombol untuk membesarkan dan mengecilkan volume.

Hal ini sudah mulai diatasi Apple (iPhone, iPad, Mac) yang telah mengusung teknologi pembaca layar bernama Voice Over. Tunanetra dapat memakai Voice Over untuk bernavigasi dan mengakses aplikasi yang disajikan di layar sentuh.

Android?

Lalu, bagaimana dengan platform besutan Google, Android?

Karena OS ini masih tergolong baru, ditambah lagi statusnya yang open source, maka pengembangan Accessibility API (pemrograman antarmuka yang memungkinkan aplikasi bagi tunanetra bekerja) pun belum seumur jagung alias masih dalam tahap pertumbuhan.

Keadaan semacam ini tentu membuat tunanetra tak dapat sepenuhnya menikmati gadget-gadget yang berjalan menggunakan OS Android, pasalnya sebagian besar perangkat Android menggunakan layar sentuh sebagai interface dan input informasi.

Namun, ada beberapa trik yang dapat dilakukan agar tunanetra bisa menggunakan gadget Android.

Perlu diperhatikan bahwa soal aksesibilitas pada sistem operasi Android masih dalam tahap WIP alias work in progress, artinya meski Android sudah dapat dipakai oleh tunanetra, namun tingkat aksesibilitasnya belum dapat disamakan dengan gadget OS Symbian atau Windows.

Contohnya, pembaca layar yang tersedia belum memiliki tombol shortcut, misalnya untuk mengeja kata, membaca per kalimat atau per paragraf, mengakses sinyal dan baterai, atau melakukan perintah spesifik lainnya yang harusnya dapat dieksekusi dengan menekan kombinasi tombol tertentu.

Selain itu, beberapa aplikasi bawaan Android seperti Browser, Camera, dan e-mail client masih belum dapat diakses pembaca layar, sehingga pengguna membutuhkan aplikasi pihak ketiga.

Tapi, tak ada salahnya untuk dicoba, khususnya bagi tunanetra yang penasaran ingin menjajal Android.

Memilih gadget yang tepat

Pilihlah gadget Android yang minimal memiliki tombol navigasi fisik untuk menggerakkan kursor ke atas bawah kiri kanan dan enter (trackball, trackpad, D-pad). Penulis merekomendasikan Google Nexus 1 yang masih memiliki tombol navigasi fisik, atau Motorola Milestone 2 yang memiliki keyboard QWERTY. Dua perangkat ini yang penulis gunakan untuk pengujian, dan sudah terbukti aksesibel bagi tunanetra.

Usahakan juga memilih gadget yang masih menggunakan menu standar bawaan Android. Contoh gadget yang tidak menggunakan menu standar Android adalah HTC Sense. Dikhawatirkan pembaca layar tak akan dapat berinteraksi dengan interface yang dikustomisasi oleh pihak ketiga, jadi penulis menyarankan untuk menghindari gadget yang menunya sudah dimodifikasi.

Jika ingin memilih produk lain (tetap harus ada tombol navigasi fisik), periksalah dulu di bagian Settings > Accessibility, apakah di dalamnya terdapat pembaca layar bawaan Android bernama Talkback. Kalau ada, silahkan gunakan gadget tersebut.
Pastikan juga gadget yang dipilih memiliki OS Android minimal versi 2.2.

Memasang aplikasi yang dibutuhkan

Banyak sekali aplikasi yang dapat digunakan tunanetra di Android, namun untuk kali ini penulis hanya memberikan yang penting saja, pokoknya pengguna tunanetra dapat mengakses fitur dasar dari Android.

Umumnya aplikasi yang penulis sarankan gratis dan langsung dapat diperoleh melalui Android market.

Pertama, install aplikasi Eyes-Free Shell agar home screen menjadi lebih mudah digunakan. Eyes-Free Shell memungkinkan tunanetra mengakses informasi seperti sinyal jaringan, tenaga baterai, daftar aplikasi, dan lain-lain.

Selanjutnya, install aplikasi Ideal Accessibility Installer. Program ini berfungsi memunculkan aplikasi mana saja yang perlu dipasang di gadget bagi pengguna tunanetra, sehingga tak perlu repot mencari-cari di market.

Berikutnya, install pembaca layar bernama Spiel. Ini tidak wajib, karena TalkBack sudah cukup memadai. Namun Spiel memiliki fitur tambahan yang diperlukan pengguna tunanetra yang aktif dan membutuhkan keterangan tambahan, misalnya informasi jumlah item pada menu.

Mengaktifkan pembaca layar

Mintalah orang berpenglihatan untuk mengaktifkan pembaca layar yang terdapat pada Settings > Accessibility. Jalankan Talkback sebagai pembaca layarnya, bisa juga mengaktifkan Soundback yang akan membunyikan suara bila jari menyentuh obyek di layar, atau Kickback yang akan menggetarkan gadget bila jari digerakkan dan menemukan obyek di layar.

Jika Spiel sudah terpasang, sebaiknya matikan Talkback dan gunakan Spiel sebagai pembaca layar utama. Tentu saja pengguna dapat berganti pembaca layar sesuai kebutuhan.

Empat tombol utama

Pada gadget Android terdapat empat tombol utama, baik berupa fisik maupun sentuh. Tiap gadget berbeda letak dan cara mengaktifkannya, namun untuk Google Nexus 1 tombol-tombol ini berbentuk sentuh dan letaknya ada di bagian bawah layar.

Ingatlah fungsi tombol-tombol ini karena akan sangat berguna dalam pengoperasian gadget.

BACK – Fungsinya untuk kembali ke layar sebelumnya. Jika jari diletakkan selama beberapa detik maka akan mengaktifkan home screen.

MENU – Memunculkan pilihan-pilihan, isinya akan menyesuaikan dengan aplikasi yang sedang dijalankan.

HOME – Mengembalikan posisi ke home screen (sesuai dengan yang terpasang atau terpilih). Jika jari diletakkan selama beberapa detik akan memunculkan daftar aplikasi yang terakhir digunakan.

SEARCH – Memunculkan kotak dialog search layaknya mesin pencari Google, dapat digunakan untuk pencarian website atau isi ponsel. Jika jari diletakkan beberapa detik maka akan muncul fungsi Voice Search.

Cara bernavigasi

Untuk menggerakkan kursor pada menu pilihan, gunakan trackball / D-Pad ke atas dan ke bawah. Kalau menunya berformat Grid, maka selain ke atas dan ke bawah, kursor dapat digerakkan ke kiri dan kanan.

Untuk mengaktifkan menu yang diinginkan, klik dengan tombol enter.

Akses ponsel dengan Free-Eyes Shell

Penulis menyarankan memasang home screen ini karena akan memudahkan tunanetra mengakses berbagai fungsi ponsel. Tekan tombol Home, maka Free-Eyes Shell akan aktif. Kalau di ponsel terpasang lebih dari satu home screen maka pilihlah Free-Eyes Shell.

Nah, letakkanlah jari di tengah-tengah layar. Bayangkan posisi tengah layar sebagai angka 5, berarti sebelah kirinya adalah 4, sebelah kanannya adalah 6, sebelah kiri atas adalah 1, sebelah atas adalah 2, sebelah kanan atas adalah 3, dan seterusnya (ingat-ingat pola tombol dial telepon).

Untuk mengetahui sinyal jaringan, letakkan jari di tengah layar (bayangkan posisi jari di angka 5), lalu geser ke atas (angka 2), lalu ke kiri (angka 1), dan lepaskan.

Untuk mengakses daftar aplikasi secara alfabetis, letakkan jari di tengah layar (angka 5), lalu geser ke bawah (angka 8), lalu lepaskan.

Untuk fungsi lain silahkan mengacu pada dokumentasi yang disertakan Free-Eyes Shell. Penulis hanya memberi contoh penggunaannya saja.

Penutup

Berhubung tiap gadget Android berbeda layout dan isinya, maka penulis tak dapat memberi penjelasan lebih detail mengenai bagaimana menemukan item tertentu. Penulis hanya dapat menjelaskan garis besarnya saja, dan semoga isi artikel ini dapat menjadi gambaran bagaimana kira-kira tunanetra dapat memfungsikan gadget Android.

Selain itu, keterbatasan perangkat membuat penulis tak dapat bereksperimen dengan gadget Android lain. Oleh karena itu diharapkan pembaca dapat membantu bereksperimen dengan gadget Android yang dijumpai dan sepertinya memiliki spesifikasi yang penulis sebutkan di atas.

Bila membutuhkan aplikasi yang lebih aksesibel, Anda dapat mengakses http://www.codefactory.es dan membeli Mobile Accessibility, aplikasi untuk Android berisi 10 program yang dapat digunakan oleh tunanetra (Web, kalender, GPS, dan lain-lain).

Bila Anda tertarik mendiskusikan langkah-langkah di atas, atau menemukan gadget Android lain yang aksesibel, silahkan menghubungi penulis via e-mail di ramavgm@gmail.com atau via Twitter di @ramadityaknight. Informasi dan saran yang diberikan akan sangat berguna bagi tunanetra di Indonesia yang ingin memakai gadget Android.

Selamat mencoba!

Sumber :
http://www.detikinet.com/read/2011/06/07/135318/1654751/398/trik-gadget-android-aksesibel-bagi-tunanetra

Ramaditya Tentang Penulis: Eko Ramaditya Adikara adalah blogger tuna netra yang menggemari dunia digital dan teknologi informasi. Blognya bisa dibaca di http://ramaditya.com/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s