Meski Tunarungu, Mia Nurkanti Raih Doktor

20 September 2011 / 14.45 WIB

Posts by PSIBK

BANDUNG, (PRLM).- Mia Nurkanti (50 tahun) terlahir normal, namun sejak tahun 2002 kehilangan pendengaran karena sakit sehingga menjadi tunarungu. Meski demikian, kekurangannya tidak menghentikan wanita kelahiran Bandung 18 Januari 1961 ini berprestasi. Ia bahkan meraih “doktor”, gelar akademik tertinggi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI), Selasa (23/8/2011).

Putri kelima dari enam bersaudara pasangan H. Ondi Djuhandi Kartawiria (Alm.) dan Hj. O. Harnilah Nur (almh.) ini mempertahankan disertasi berjudul, “Pengembangan Program Pembelajaran IPA Biologi MIVI untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SMALB Tunarungu”, di hadapan sidang terbuka yang dipimpin Asisten Direktur SPS UPI Prof. Dr. Didi Suryadi. Para penguji terdiri atas Prof. Dr. Nuryani Y. Rustaman, M.Pd.; Dr. Zaenal Alimin, M.Ed.; Prof. Dr. Suroso Adi Yudianto, M.Pd.; Prof. Dr. Hj. Sri Rejeki, M.Pd.; dan Dr. Totok Bintoro, M.Ed.

Mia Nurkanti melakukan penelitian tentang pengembangan program pembelajaran IPA Biologi MIVI (multimedia interaktif visual) untuk membantu mengatasi kesulitan guru membelajarkan siswanya sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik IPA dan kesulitan siswa belajar IPA di SMALB Tunarungu. Ia menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang melibatkan sejumlah guru dan siswa SMALB di Kota Bandung sebagai subjek penelitian. Instrumen penelitian disiapkan terdiri atas panduan wawancara, lembar validasi, tes pemahaman konsep sebagai hasil belajar dan angket respons.

Istri Dr. Maman Rusmana, M.Pd. ini berupaya memberikan pembekalan kepada beberapa orang guru tentang program pembelajaran MIVI, kemudian guru membelajarkannya kepada siswa. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pembelajaran yang diawali dengan pretest dan diakhiri dengan posttest siswa. Sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan catatan peneliti, kemudian hasilnya dianalisis dengan metode Single Subject Research (SSR).

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa program pembelajaran IPA Biologi MIVI yang meliputi monopoli, multimedia, dan praktikum dapat menjadi salah satu contoh pemodelan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar sains siswa berupa kognitif dan sikap ilmiah.

Dikatakan, anak berkebutuhan khusus atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai “children with special needs”, merupakan anak yang memiliki keterbatasan sehingga membutuhkan layanan khusus baik dalam bidang pendidikan maupun dalam kegiatan kehidupan sehari-hari (activity of daily lives). Masyarakat awam biasa menyebutnya “anak luar biasa”. Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) pada saat ini masih dipusatkan pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Meski sudah ada beberapa yang mengikuti layanan pendidikan terintegrasi ataupun pendidikan inklusi.

“Mendidik anak berkebutuhan khusus membutuhkan perjuangan yang besar, tidak hanya semata-mata mengikuti kurikulum dan metode mengajar seperti pada sekolah umum. Guru harus mempunyai kreativitas yang tinggi sehingga senantiasa mengembangkan berbagai macam inovasi dalam pembelajaran, baik pada metode, maupun media pembelajaran,” kata ibu dari Yasundari (kuliah di Fikom Unpad) dan Fadila Ramadhini (Manajemen Unpar) ini.(Chu/A-147)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/156126

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s