Jebakan “Shopping Therapy” pada Penyandang Autisme

Jumat, 11 Maret 2011 / 10.30 WIB

Posts by PSIBK

Minggu, 6 Februari 2011

Mempunyai seorang anak autistik tak ubahnya seperti menghadapi kerang besar yang menyimpan mutiara indah di dalamnya. Cangkang kerang yang keras dan tertutup rapat itu mesti dibuka pelan-pelan dengan usaha yang besar.

Begitulah presenter M Farhan (41) menggambarkan perasaannya sebagai ayah Ridzky (11), putra sulungnya yang terdeteksi autistik. ”Karena usaha kita dahsyat, begitu cangkang itu terbuka sedikit saja, rasanya luar biasa,” ujar ayah dua anak yang juga kondang sebagai penyiar radio itu.

Ridzky mulai mendapat terapi sejak usia 18 bulan dan mengucapkan kata pertamanya, ”ayah”, pada usia 4 tahun. Walau lebih dekat dengan sang ibu, kata ”ibu” baru bisa diucapkan belakangan karena memang kata itu lebih sulit dilafalkan.

Memiliki anak autistik, diakui Farhan, merupakan masalah sekaligus berkah. Masalah, karena bukan hal mudah membuat anak autistik dapat beradaptasi dengan dunia yang ada—bukan dunia dalam benaknya sendiri.

Namun, mendampingi mereka tumbuh dan berkembang juga tak ubahnya mengalami keajaiban berkali-kali. Itu yang dirasakan Farhan, misalnya, ketika tiba-tiba Ridzky menyanyikan ”Beyond the Sea”, lagu tema film Finding Nemo yang ia gemari.

”Lebih dahsyat lagi ketika melihat bagaimana Ridzky berinteraksi dengan Bisma, adiknya yang tidak autistik,” ujarnya.

Keajaiban

Autisme merupakan salah satu hal yang menyebabkan seorang anak dikategorikan berkebutuhan khusus. Anak yang mengalami kesulitan belajar, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), hingga tunarungu atau tunagrahita juga digolongkan sebagai anak berkebutuhan khusus.

”Keajaiban” seperti yang dirasakan Farhan ini tergambar dalam acara temu anak spesial yang diselenggarakan Yayasan Peduli Anak Spesial dan Harry Darsono Foundation di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (5/2).

Dalam acara ini, anak-anak yang semula tersisih, dianggap bodoh, bahkan dipandang cacat, karena mereka berkesulitan belajar menampilkan bakat dan kemampuan yang luar biasa.

Kesulitan mereka untuk belajar sama sekali bukan disebabkan tingkat kecerdasan yang rendah. Marie Fauzan (13) yang kini duduk di bangku kelas I sebuah SMP di pinggiran Jakarta, misalnya, sudah lima kali dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya. Padahal, IQ-nya mencapai 120 atau di atas rata-rata.

Anak-anak ini berbeda dan berkebutuhan khusus, tetapi mereka juga kaya akan potensi. Brandon (9) yang kata ibunya sangat bandel, misalnya, bisa membaca buku atau majalah dalam bahasa apa pun dengan mata tertutup kain tebal. ”Membaca” dengan rabaan tangan itu merupakan salah satu kemampuan Brandon yang juga sering disebut sebagai anak indigo.

Brandon pula yang mencengangkan para undangan di acara temu anak spesial ini dengan ceramahnya dalam dua bahasa tanpa teks.

”Apa teman-teman pernah membayangkan apa jadinya kalau alam semesta dan semua yang ada di dalamnya hanya berwarna merah? Tentu tidak indah. Pelangi saja punya banyak warna, musik punya banyak nada, jari-jari kita pun tidak sama. Kami juga berbeda, tetapi kami punya banyak bakat,” ujarnya.

Penampilan Young Boys juga tak kalah mengagumkan. Empat remaja: Andreas, Kenan, Yongki, dan Clyde, yang bergabung dalam kelompok ini bukan sekadar pemain piano, mereka juga komposer dan arranger. Mereka bukan hanya berprestasi di ajang nasional, melainkan juga mengukir prestasi hingga ke luar negeri.

Di Gedung Bentara, keempat remaja ini memainkan dua piano yang ditata saling membelakangi. Lantunan lagu klasik hingga tradisional Jawa disajikan dengan sangat atraktif. Misalnya, mereka memainkan tuts piano sambil bertukar posisi, bahkan sambil berdiri dengan masing-masing tangan memencet tuts di piano berbeda.

Jalan untuk menemukan dan mengasah mutiara memang tidak pernah mudah. Selalu ada kekhawatiran membayangi orangtua ketika anaknya dikategorikan berkebutuhan khusus.

Aji yang mempunyai dua anak berkebutuhan khusus, misalnya, tak luput dari kesedihan ketika kedua anaknya didiagnosis begitu. Namun, ia menyadari Tuhan tak salah mengamanatkan dua anak istimewa itu kepadanya.

”Dua bintang kan pangkat yang lebih tinggi dari satu bintang,” ujarnya berkelakar.

Kata Harry Darsono, doktor dan perancang adibusana yang serba bisa, yang sempat belasan tahun menjalani terapi sebagai pengidap ADHD, ketakutan ini mesti ditepis dengan keyakinan. Tuhan pasti memberikan kemampuan kepada anak-anak istimewa ini untuk menemukan jalan mereka sendiri menuju kemandirian.

Nur Hidayati

Sumber : http://health.kompas.com/index.php/read/2011/02/06/13153172/Mencari.Mutiara.di.Balik.Cangkang

4 responses to “Jebakan “Shopping Therapy” pada Penyandang Autisme

  1. Yanti Kristyanti

    Anak pertama saya adalah anak berkebutuhan khusus, mnrt diagnosa dokter , anak sy termasuk ADD… anak sy saat ini 7 th tp blm bisa mengikuti sekolah normal, krn hrs memakai helper sementara sekolah di Bdg blm banyak yang konsen kpd masalah ABK ini.Akhirnya sy melakukan privat calistung di rumah,dengan jasa guru yang sdh biasa menhadapi ABK,namun keliatannya guru2 tsb merasa blm mampu menghadapi anak saya,krn seringnya marah dan tantrum,dan seringkali anak sy menyakiti gurunya spt mencakar,mencubit dll. Harus dibawa kemana anak sy untuk berobat / terapi agar dia bisa berkonsentrasi dlm belajar , dan untuk menghilangkan kebiasaan yang tidak seharusnya spt berteriak2,menyakiti dirinya dan menyakiti orang lain..mohon tanggapannya, terima kasih…

  2. Anak saya di diagnosis global delayed development. Sekarang usianya 7 tahun, sekolah TK a di sekolah inklusi di depok. Dikarenakan suami mau pindah dinas di surabaya, saya mohon bantuan info tempat terapi dan sekolah inklusi (TK dan SD) maupun sekolah khusus di di daerah sidoarjo (sidoarjo kota, gedangan, juanda dan sekitarnya) dan surabaya. Terima kasih sebelumnya. Saya menunggu jawaban nya secepatnya, karena saya mau mencari kontrakan rumah yang dekat dengan tempat terapi dan sekolah anak saya nantinya.

    • maaf ibu, admin kami baru sempat membuka website kembali, 1 bulan lalu kami disibukkan dengan acara pelatihan sehingga tidak bisa membalas komentar ibu secepatnya.
      ini kami infokan beberapa sekolah inklusi di daerah sidoarjo, maaf jika sudah terlambat.

      1. SDN Percobaan Surabaya 8 KAB. SIDOARJO 2
      Jln Sedati Km ,2 Komp Lampus UNESA
      Kec. Gedangan, Kab- Sidoarjo
      Telp. (031) 8915929
      2. SDN Gedangan I –
      Jln. Jenggala 68 RT. 01/05 Gedangan
      Sidoarjo
      3. SDN Gedangan 11
      Jln. Jenggala No. 68 RT. 01/05 Kec. Gedangan. Kab Sidoarjo
      Telp.(031)890068
      4. SDN Ketajen 1
      Jln. Sedati 1 No. 24 b Rt. 01 /05
      Kec. Gedangan, Kab. Sidoarjo
      Telp. (031) 8914128
      5. SDN Ketajen II
      Jln. Ketajen 24 B Rt. 01/05 Gedangan
      Sidoarjo
      6. SDN Wed
      Jln. Pasir Tengah No- 01 Wedi, Gedangan
      Sidoarjo Telp. (031) 8912771
      7. SD Swasta TPI Gedangan
      Jln. Raden Kanjeng Jimat No. 1
      Kec. Gedangan, Kab. Sidoarjo
      Telp. (031) 8912247
      8. SD Khusus Veteran
      Jln. Raya Wonoayu, Sidoarjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s