Mustara Musa : Melatih dengan Hati

Senin, 20 September 2010 / 12.30 WIB

Posts by PSIBK USD

Dia memutuskan mengabdikan diri melatih berolahraga anak-anak tunagrahita atau ”down syndrome”. Mereka tak sekadar menggerakkan badan. Lewat dorongan Mustara Musa, anak-anak itu menjadi atlet yang mampu berprestasi di kancah internasional.

Mustara melayangkan ingatannya pada 22 tahun yang lalu. Tahun 1988 dia seorang aktivis di kampus IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta), bahkan menjadi Ketua Unit Kegiatan Olahraga IKIP Jakarta periode 1988-1990.

”Salah seorang dosen, Prof Ali Husein, mengajak saya melatih olahraga anak-anak tunagrahita. Ketika saya bertemu mereka, hati saya tersentuh. Mereka benar-benar membutuhkan kita, mereka bergantung kepada kita,” katanya.

Selama ini umumnya anak- anak tunagrahita dianggap sebagai beban keluarga. Padahal, mereka memiliki potensi luar biasa jika dilatih.

”Saya membaca banyak paper dan jurnal yang menyebutkan, olahraga bisa menjadi sarana bagi anak-anak itu untuk meraih prestasi. Anak yang sakit-sakitan, pemalas, dan tergantung pada antibiotik justru makin melemahkan mereka. Dengan berolahraga, perkembangan mereka lebih bagus. Melihat temannya berlari, dia akan ikut lari,” katanya.

Mustara pun meminta orangtua anak-anak itu untuk melatih anak-anak mereka bekerja di rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, dan menyetrika.

”Dengan bekerja, otomatis mereka melatih kemampuan motoriknya. Pekerjaan di rumah pun beres. Jadi, jangan meremehkan kemampuan anak-anak itu,” tambahnya.

Kesabaran

Agar anak tunagrahita bisa berprestasi, diperlukan kesabaran untuk melatih mereka. Tak hanya kesabaran pelatih, tetapi juga kesabaran orangtua. Karena itu, Mustara berharap para orangtua tak enggan mengantarkan anak-anak berlatih.

Di Indonesia, tunagrahita yang sudah dibina atau dilatih kurang dari sejuta orang, padahal penyandangnya sekitar 6 juta orang. Di Jakarta, baru sekitar 800 anak yang dibina.

”Agar bisa ikut Special Olimpics, ada aturan yang mau ikut berlomba harus berlatih 16 kali berturut-turut. Dalam seminggu biasanya mereka berlatih dua kali. Kalau terus berlatih selama dua bulan, mereka berhak mengikuti Special Olympics,” kata Mustara yang tak bosan menyemangati para orangtua anak-anak tunagrahita.

Latihan di Stadion Pemuda Rawamangun, Jakarta Timur, dilakukan setiap Kamis pukul 16.00-17.30 dan Sabtu pukul 07.00-08.30. Dengan rajin berlatih 16 kali, kata Mustara, fisik dan mental anak-anak tunagrahita akan berubah. Mereka bisa lebih sehat, metabolismenya lebih baik, fisiknya lebih kuat, dan mental untuk bekerja sama dengan teman sudah terbentuk.

”Kalau sudah disiplin berlatih, mereka pasti siap bertanding, siap menang, dan siap kalah,” katanya.

Beberapa cabang yang dipertandingkan dalam Special Olympics adalah atletik, tenis meja, bulu tangkis, sepak bola, basket, renang, bocce (permainan bola gelinding), dan MATP (Motor Activity Training Program).

MATP khusus untuk anak-anak dengan kemampuan rendah, misalnya yang duduk di kursi roda, jalannya tak seimbang, dan mereka yang diberi latihan dengan melempar benda-benda ringan atau senam sederhana.

”Saya senang, di Special Olympics semua anak bisa ikut bertanding,” ucapnya.

Mustara bercerita, selain panggilan hati, alasan utamanya melatih anak-anak tunagrahita itu juga karena sistem pembinaan dan kompetisinya sudah tertata. Special Olympics tingkat nasional (empat tahun sekali) diadakan untuk seleksi ke Special Olympics internasional (juga empat tahun sekali).

”Semula saya tak terlalu peduli dengan anak-anak itu. Namun, setelah dekat dengan mereka, saya justru terinspirasi. Anak yang semula tak mampu ketika sudah dilatih ternyata bisa. Di sini kuncinya adalah ketekunan dan latihan yang terus-menerus diulang-ulang,” katanya.

Ketekunan melatih anak-anak itu membuahkan prestasi. Pada International Special Olympics Award Summer Games 2007 di Shanghai, China, atlet tunagrahita Indonesia berhasil meraih sembilan medali emas. Rinciannya, tiga medali atletik, tiga medali bulu tangkis, dan tiga medali tenis meja.

Tak mulus

Melatih anak-anak tunagrahita memang tak mudah. Jalan tak mulus harus dilalui Mustara, baik karena masalah teknis maupun nonteknis.

”Masalah teknis misalnya saat melatih mereka, kami menjadi ’minoritas’. Tak ada sarana atau fasilitas khusus untuk mereka, kami harus menggunakan lapangan umum,” ucapnya. Sementara masalah nonteknis adalah hambatan terkait dengan psikologis anak-anak itu. ”Mereka punya karakter yang berbeda-beda dan setiap anak perlu penanganan yang berbeda pula.”

Mustara bercerita bagaimana menangani anak-anak yang sedang rewel. Pada 1995, saat pelatihan nasional ke Amerika Serikat, terpilih atlet tunagrahita putri asal Bali, Ni Luh. Pelatihnya mengantar dia sampai Jakarta, lalu kembali ke Bali.

”Begitu tahu pelatihnya pergi, dia menangis terus. Para guru dan psikolog mencoba menenangkan dia, tetapi tak berhasil. Saya mencoba mendekati dia dan ikut menangis. Semakin kencang dia menangis, makin kencang juga saya menangis. Lalu dia bilang, ’Bapak jangan nangis ya.’ Dia pun berhenti menangis. Kuncinya, kita mau masuk ke dunianya,” tuturnya.

Cerita lain tentang Rizal, atlet yang ikut International Special Olympics Award Summer Games 2007 di Shanghai, China, yang mempunyai kebiasaan merokok. Dengan pendekatan tegas, Mustara berhasil membuat Rizal berhenti merokok. Bahkan, dia lalu mengingatkan orang-orang di sekitarnya agar tidak merokok.

”Kami melakukan semua itu dengan tulus, tidak berfokus pada hasil. Di sini yang harus dilakukan adalah membuat proses itu tak berhenti. Saya juga mengajak para mahasiswa UNJ untuk bergabung melatih mereka,” katanya.

Ya, Mustara memang tidak berhenti. Selain sibuk melatih anak-anak tunagrahita, lewat Yayasan Puspor Jaya dia menggelar Kejuaraan Atletik Bulanan Pelajar se-DKI Jakarta.

Sumber : www.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s