Kurangnya Lembaga Pencegah Tuna Rungu

Jumat, 17 September 2010 / 11.00 WIB

Posts by PSIBK USD

Liputan6.com, Jakarta: Perkembangan penyakit anak-anak tuna rungu sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan intervensi dini. Namun upaya penanganan seperti itu terganjal oleh minimnya lembaga pendidikan anak-anak tuna rungu, khususnya yang berusia di bawah empat tahun. Hal itu diutarakan Prof. dr. Hendarto Hendarmin, Ahli Telinga, Hidung, dan Tenggorokan di Jakarta, Senin (11/9).

Menurut Hendarto, kenyataan kurangnya lembaga tuna rungu menunjukkan rendahnya peran serta masyarakat dalam mempersiapkan kemandirian anak-anak penderita gangguan atau kelainan pendengaran. Padahal, kehadiran lembaga pendidikan seperti itu lebih mampu dan efektif menangani anak-anak itu sejak mereka masih berusia satu setengah tahun.

Hendarto menegaskan, penanganan tuna rungu memang mesti sudah dilakukan sejak dini. Kalau tidak demikian, perkembangan penyakit ini akan memburuk dan menyebabkan kendala dalam kehidupan anak-anak itu di masa depan. Misalnya, kendala komunikasi, bahasa, serta kendala pengembangan kemampuan intelektual.

Saat ini sudah ribuan penderita tuna rungu di Indonesia. Hendarto mengungkapkan, jumlah orang cacat di Indonesia saat ini adalah sekitar 3,5 persen dari seluruh penduduk. Sekitar 0,1 persennya adalah penderita kelainan atau gangguan pada organ pendengaran yang juga disebut penyakit tuli ini.(HFS/Insan Kamil dan Adi Iskarpandi)

Sumber : Liputan 6.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s