Autisme Tidak Pandang Golongan Ekonomi

Senin, 06 September 2010 / 12.05 WIB

Post by PSIBK USD

Jakarta (ANTARA News, Sabtu, 17 April 2010) – Gejala autisme yang menyerang masyarakat muncul di Indonesia sekitar tahun 1990 dengan tidak memandang ras dan golongan ekonomi, kata Ketua Yayasan Autisme Dr. Melly Budhiman.

“Gejala ini muncul pada siapa saja, tidak peduli ras, pendidikan maupun golongan ekonomi-sosial,” kata Dr. Melly Budhiman yang juga psikiatri anak pada seminar yang membahas autisme, Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang autisme membuat penanganan yang dilakukan tidak maksimal, sedangkan penanganan autisme adalah jangka panjang, tidak bisa dengan cara singkat.

“Hal ini disebabkan kurangnya penaga profesional untuk menangani anak autisme di Indonesia. Di Indonesia, hanya ada 40 psikiater anak yang menangani masalah autisme” kata Dr. Melly.

Pihaknya saat ini terus akan melakukan sosialisme mengenai autisme sehingga masyarakat bisa memahami secara benar informasi dan penanganannya.

Bertempat di Graha Sucofindo, Jakarta Selatan, selain diselenggarakan seminar membahas berbagai masalah yang dialami oleh anak autis juga diadakan bazar dan stand yang menjual hasil lukisan anak penyandang autis.

“Dari seminar tersebut, para orangtua dapat berdiskusi dan berbabgi pengalaman orangtua lain yang serupa, yang dapat memberi semangat dan dorongan dalam menangani autistik pada anak mereka agar dapat mandiri,” kata Dr. Melly.

Dengan adanya sosialisasi masalah autisme, diharapkan dapat mengedukasi masyarakat yang belum mengerti mengenai autisme, sehingga tidak ada lagi penghinaan, ejekan, maupun pelecehan terhadap para penyandang autisme.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, mengatakan pemerintah akan mencanangkan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk penyandang autisme.

Pemerintah mentargetkan 1000 sekolah khusus bagi penyandang autisme pada tahun 2014 dari sekitar 200 sekolah khusus yang ada.

Dalam penyelenggaraan pendidikan bagi individu autistik, sekolah tidak hanya dapat mempersiapkan materi yang tepat, tetapi juga siap salam menjembatani masalah hambatan komunikasi, dan penanganan masalah perilaku yang mungkin aja terjadi di sekolah.

Pemerintah bahkan memberikan insentif khusus bagi sekolah umum yang bersedia menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus.

“Pendidikan ini dimaksudkan untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus disekolah umum bersama teman-teman lainnya yang normal,” kata Fasli.

Sumber : Antara News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s