Bagaimana Mengenali Disleksia?

Jumat, 03 September 2010 / 12.15

Post by PSIBK USD

Konsultan Neuropediatri dari Asosiasi Disleksia Indonesia, dr Purboyo Solek, Sp A (K) mengatakan, terlambat mengenali tanda-tanda disleksia pada anak berakibat pada pelabelan yang melekat pada si anak. Bagi guru atau orang yang tidak mengetahui mengenai disleksia, mereka akan memberi cap kepada anak tersebut sebagai anak yang bodoh. Padahal, penyandang disleksia inteligen dalam tingkat yang normal atau bahkan di atas normal. Mereka hanya mengalami kesulitan berbahasa, baik itu menulis, mengeja, membaca, maupun menghitung.

“Kalau terlambat, anak akan terlanjur dilabeli sebagai anak bodoh. Kalau ini terus terjadi, akan menyebabkan si anak putus asa. Akibatnya, dia tidak bisa tampil dengan IQ normalnya,” terang Purboyo.

Ia memaparkan, penyandang disleksia mengalami kesulitan belajar spesifik meski memiliki tingkat kecerdasan normal atau di atas rata-rata. “Kalau IQ di bawah normal, dia bukan disleksia. Mengetahui IQ ini penting karena akan membedakan treatment,” ujarnya.

Ia mengingatkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua, di antaranya menyingkirkan adanya kelainan-kelainan perkembangan dan saraf anak, menentukan kemampuan potensi akademik pada anak yang kita duga sebagai anak disleksia, dan memerhatikan ada atau tidaknya gangguan perilaku pada anak tersebut.

Panduan berikut ini mungkin akan memudahkan bagi para orangtua dan guru dalam membaca perkembangan anak dan melakukan deteksi dini atas tanda-tanda disleksia:

  1. Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
  2. Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya esai
  3. Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, dan ’s’ tertukar ’z’
  4. Daya ingat jangka pendek yang buruk
  5. Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
  6. Tulisan tangan yang buruk
  7. Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
  8. Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
  9. Kesulitan dalam mengingat kata-kata

10.  Kesulitan dalam diskriminasi visual

11.  Kesulitan dalam persepsi spatial

12.  Kesulitan mengingat nama-nama

13.  Kesulitan/lambat mengerjakan PR

14.  Kesulitan memahami konsep waktu

15.  Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan

16.  Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol

17.  Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari-hari

18.  Kesulitan membedakan kanan-kiri

19.  Membaca lambat lambat dan terputus-putus serta tidak tepat misalnya

  • Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
  • Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
  • Tidak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
  • Tertukar-tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)

Sumber : KOMPAS (http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/03/09521420/Menemukenali.Disleksia.Sejak.Dini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s