Handicapped Gifted

24 Februari 2010, 11:58 wib

Posted by : PSIBK USD

Sumber diambil dari : http://puskat.psikologi.ui.ac.id/index.php/artikel/Handicapped-Gifted.html


A. Definisi Handicapped Gifted

Apa yang dimaksud dengan Handicapped Gifted? Sesuai dengan arti katanya, DR. Reni Akbar-Hawadi Psi, Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menjelaskan handicapped gifted adalah seseorang yang cacat sekaligus berbakat, mempunyai talenta yang luar biasa [2].

Menurut Yewchuk dan Lupart (dalam Heller, 1993)[3] gifted handicapped adalah individu yang memiliki kemampuan luar biasa atau potensi yang dapat mencapai performa yang tinggi, meskipun memiliki ketidakmampuan seperti dalam hal pendengaran, penglihatan atau kerusakan tulang (orthopedic), gangguan emosional, atau kesulitan belajar.

Clark menyatakan (dalam Heller, 1993), terminologi ”gifted handicapped” mengacu pada anak-anak yang memiliki dua set karakteristik: berbakat dan kecacatan. Mereka mengalami kerusakan pada satu atau lebih kondisi spesifik yang diantaranya termasuk: kesulitan belajar (learning disabled), kerusakan pendengaran, kerusakan penglihatan, kerusakan sistem saraf, gangguan emosional, dan kerusakan motorik (Whitmore & Maker, 1985; Yewchuk, 1985 dalam Heller, 1993).

Sama halnya dengan Clark, Lawrence (1985)[4] menyatakan the handicapped gifted adalah anak yang terdefinisikan keduanya, yaitu memiliki ketidakmampuan dan berbakat. Setiap set karakteristiknya ditampilkan oleh satu individu.

B. Karakteristik Handicapped Gifted

Anak handicapped yang berbakat merupakan manifestasi dari berbagai karakteristik; beberapa.karakteristik positif, dan beberapa karakteristik negatif. Lebih lanjut, pada beberapa kasus, kualitas positif dapat diinterpretasikan secara negatif oleh orang dewasa yang bekerja dengan anak tersebut (Friedrichs, 1990 dalam Yewchuk & Lupart, 1993).

Beberapa karakteristik positif biasanya diasosiasikan dengan keberbakatan. Hal tersebut menyangkut hal-hal di bawah ini (Udall, 1985; Whitmore, 1981, Whitmore & Maker, 1985 dalam Yewchuk & Lupart, 1993):

  • Superior memory dan pengetahuan umum
  • Memiliki kemampuan analitis yang tinggi, dan  keahlian memecahkan masalah yang kreatif
  • Terkemuka akan apa yang diketahuinya, atau menguasai
  • Memiliki kemampuan berbahasa yang tinggi, baik lisan maupun tertulis
  • Memiliki kemampuan pemahaman yang luar biasa
  • Memiliki rasa humor yang tinggi
  • Tekun di dalam pencarian akademis atau tugas-tugas intelektual
  • Menyadari dan memiliki kemampuan untuk mempergunakan kekuatan diri.

Sedangkan pada sisi negatifnya, karakteristik tersebut sering kali diasosiasikan dengan anak handicapped yang berbakat, diantaranya (Meisgeier, Mesgeier, & Werblo, 1978; Nielsen & Mortorff-Albert, 1989; Vespi & Yewchuk, 1992; Whitmore & Maker, 1985 dalam Yewchuk & Lupart, 1993):

Berjuang atas penerimaan diri

  • Konsep diri yang rapuh
  • Merasakan ketidaknyamanan sosial, keadaan memalukan, malu
  • Memiliki intensi frustasi dan marah
  • Kebutuhan untuk melepaskan energi yang tertahan
  • Memiliki kesulitan interpersonal dengan teman sebaya, guru-guru dan keluarga
  • Kesulitan akademik pada area skill tertentu.

Pada beberapa individu, karakteristik-karakteristik negatif ini dapat berkembang menjadi kesulitan emosional atau perilaku. Sementara yang lainnya dapat menjadi terisolasi secara sosial, baik melalui sikap menarik diri atau perilaku agresif (Meisgeier, Meisgeier, & Werblo, dalam Yewchuk & Lupart, 1993).

Bagian dari kesulitan emosional yang dihadapi individu anak berbakat yang memiliki hambatan ini terlihat pada area locus of control, kebergantungan atau kemandirian, motivasi berprestasi dan learned helplessness (Bireley, dalam Yewchuk & Lupart, 1993).

Didalam situasi dimana individu-individu handicapped gifted diperlakukan sebagai orang yang memiliki hambatan/ketidakmampuan tanpa melihat kemampuan intelektual mereka, Bireley (dalam Yewchuk & Lupart, 1993) mengasumsikan kalau “handicapped” atau pola immature akan tampil, tapi di lingkungan atau situasi sebaliknya, pola “gifted” akan tampil.

Efek dari Interaksi Antara Karakteristik Gifted & Handicapped

Gifted karakteristik Handicapped karakteristik Efek
Areas of strength

Perfectionism

High aspirations

Few gifted peers

Drive and determination

Desire for independence

Keen sensitivity

High career ambitions

Handicaps

Low achievement

Low expectations

Few handicapped peers

Limited outlets

Handicap

Self-criticism

Limited access

Uneven profile

Frustration

Inner conflict

Social problems

Pent-up energy

Creative problem solving

Fragile self-concept

Feelings of exclusion

(Friedrichs, 1990; Tannebaum & Baldwin, 1983; Whitmore, 1981 dalam Yewchuk & Lupart, 1993)

Perilaku belajar paling menonjol dan karakteristik-karakteristik motivasi dari anak handicapped gifted ini telah dirangkum didalam suatu checklist yang dinamakan Teacher Observational Items (TOI) yang terdiri atas item-item berikut ini (Pledgie dalam Yewchuk & Lupart, 1993):

  • Eksprsif dan memiliki kosa kata yang luas
  • Dapat mengingat dan mengambil informasi dengan mudah
  • Mengetahui hubungan sebab akibat dan dapat menanyakan juga memberikan informasi
  • Berpikir divergen, dapat mengeneralisasikan dan memberikan lebih dari satu jawaban benar
  • Memiliki rentang perhatian yang panjang dan tekun
  • Penasaran, memiliki banyak minat, dan suka mengambil resiko yang tinggi
  • Menampilkan rasa humor.

Berdasarkan http://portal.cbn.net.id, karakteristik dari handicapped gifted adalah:

  • Perfeksionis
  • Hipersensitif
  • Kurangnya keterampilan sosial
  • Terisolasi secara sosial
  • Ekspektasi diri yang tidak realistis
  • Harga diri rendah
  • Hiperaktif
  • Mudah terpecah konsentrasinya
  • Psikomotor tidak efisien
  • Tidak ada pemusatan perhatian secara kronis
  • Frustrasi oleh tuntutan kelas
  • Gagal menyelesaikan tugas secara utuh
  • Bersikap kritis yang berlebih-lebihan terhadap diri/orang lain
  • Menentang metode pengajaran yang repetisi
  • Meremehkan tugas yang harus dilakukan
  • Dominasi dalam diskusi dan “peka” pada satu area

C. Identifikasi

Menurut Alexander dan Muia (dalam Hawadi, 2002)[5], proses pengumpulan dan analisis untuk pengambilan keputusan tentang siapa yang akan masuk anak berbakat intelektual dapat dibedakan dengan dua kategori umum, yaitu pengumpulan informasi dengan data yang objektif dan pengumpulan informasi dengan data yang subjektif. Pengumpulan informasi dengan cara yang objektif adalah dalam bentuk perolehan data dari hasil tes sehingga data yang tersedia bersifat kuantitatif. Biasanya untuk hal ini selanjutnya dilakukan standarisasi norma kelompok. Sumber-sumber data yang bersifat objektif adalah tes inteligensi, tes prestasi belajar, dan nilai prestasi akademik, sedangkan data yang subjektif meliputi ceklis perilaku, rekomendasi, dan rujukan-rujukan yang didapat dari putusan yang bersifat pribadi atas kemampuan dan penampilan individu.

Bagaimana mengenali handicapped gifted? Menurut Whitmore dan Marker (1985, dalam http://portal.cbn.net.id) tidak mudah, setidaknya ada empat hambatan, yaitu:

(1)     Adanya stereotip pengharapan dari masyarakat pada anak cacat sebagai orang yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata.

(2)     Adanya perkembangan yang tertunda, baik perkembangan kognitif, fungsi intelektual dan perkembangan bahasa dapat menghambat anak didalam mengakses informasi, kesempatan dan sumber (Maker, Yewchuk & Lupart, 1993). Hambatan yang terjadi juga berdasarkan pada jenis kerusakan ataupun ketidakmampuan yang diderita anak. Contoh, adanya perkembangan yang tertunda dalam daerah verbal, sehingga anak cacat yang memiliki kemampuan intelektual tinggi tidak terdeteksi, mengingat tes yang digunakan bersifat lisan.

(3)     Informasi yang tidak lengkap tentang anak, sehingga yang terlihat justru kekuatan anak dalam bidang nonakademik.

(4)     Tidak adanya kesempatan untuk membuktikan adanya kemampuan yang superior pada anak, karena tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk lisan dan untuk pendidikan.

Sedangkan menurut Yewchuk dan Lupart (1993), selain adanya stereotip pengharapan dan perkembangan yang tertunda, ada faktor lain yang menghambat identifikasi anak cacat yang berbakat.

(1)     Handicapping Effects. Kondisi cacat dapat menyamarkan potensi dan kemampuan anak sebenarnya, dan  menghalangi ekspresi dari karakteristik-karakteristik yang menampakkan keberbakatan (Gerken, 1979; Maker, 1976, dalam Yewchuk dan Lupart, 1993).

(2)     Prosedur identifikasi yang tidak sesuai. Tiga prosedur yang sering dipakai untuk mengidentifikasi program anak berbakat adalah nominasi guru, tes-tes prestasi, dan tes IQ (Cox, Daniel, & Boston, 1985, dalam Yewchuk dan Lupart, 1993), terkadang dilengkapi dengan sumber informasi tambahan dari tes kreativitas atau berpikir kritis, maupun nominasi orang tua. Namun, alat ukur seperti tes IQ dan tes-tes prestasi yang telah distandarisasikan pada anak normal (nonhandicapped) mungkin tidak sesuai untuk digunakan pada anak yang handicapped. Setiap anak handicapped yang berbakat, akan mendapatkan tes yang berbeda. Hal tersebut disesuaikan dengan jenis kerusakan atau ketidakmampuan yang diderita anak tersebut. Sehingga indikator dari tesnya pun dapat berbeda. Contoh, karakteristik seperti pemahaman konsep abstrak dan persepsi lingkungan bukanlah indikator yang sesuai untuk anak  gifted yang menderita kerusakan penglihatan.

Contoh tes yang digunakan:

·         The Hiskey Nebraska Test of Learning Aptitude For Deaf Children

·         Perkins-Binet for Blind Children

·         WISC-R performance scale, The Leiter International Performance Scale, Raven’s Progressive Matrice è seseuai untuk anak gifted dengan kerusakan pendengaran.

(3)     Kurangnya tenaga profesional yang terlatih. Guru-guru, psychologists, dan pihak lain yang bekerja di lapangan tidak cukup terlatih untuk mengidentifikasi anak handicapped yang berbakat (Karnes & Johnson, dalam Yewchuk dan Lupart, 1993).

Berdasarkan hambatan-hambatan yang telah dipaparkan sebelumnya didalam mengidentifikasi anak handicapped yang berbakat, ada beberapa saran untuk diperhatikan/ditonjolkan oleh personel sekolah (Yewchuk dan Lupart, 1993):

  • Harus mengenali karakterististik-karakteristik dari keberbakatan dan talenta, dan bagaimana hal tersebut bisa bermanifestasi dengan anak yang kondisinya handicapped
  • Gunakan berbagai sumber acuan dan prosedur pemeriksaan, baik secara formal maupun informal
  • Bandingkanlah anak handicapped yang berbakat dengan teman sebaya lainnnya yang handicapped, bukan dengan populasi umum dari anak yang berbakat maupun teman sebaya yang tidak handicapped
  • Ciptakanlah situasi dimana anak yang handicapped mendapatkan kesempatan untuk menampilkan bakat dan perilaku talentanya
  • Memodifikasi prosedur pemeriksaan untuk memenuhi kemungkinan anak yang handicapped dapat berespon tanpa bias dari kemampuan sebenarnya.
  • Memasukkan penilaian dari handicapped serupa dalam proses pemeriksaan
  • Kalau anak yang handicapped menyembunyikan performanya pada alat ukur pemeriksaan konvensional, berikan perhatian pada karakteristik yang mengelakkan atau menggantikan akan kondisi handicapping/ketidakmampuan
  • Gunakan prosedur pemeriksaan/pengukuran yang dinamis dan interaktif untuk mengembangkan profil yang komprehensif dari fungsi total anak tesebut.

Pengukuran intelektual nonverbal dan tes modifikasi perilaku perlu dilakukan agar sedini mungkin orangtua ataupun guru dapat menemukan anak yang handicapped, namun tergolong anak berbakat. Identifikasi memang tidak mudah, karena biasanya yang akan langsung terlihat menonjol adalah handicapped anak. Namun, bagi guru yang memiliki kemampuan memahami karakteristik anak berbakat akan dapat dengan mudah mengenali siswa yang tergolong anak berbakat (http://portal.cbn.net.id).

Untuk memastikan potensi keberbakatan yang dimiliki siswa tidak ada cara terbaik selain pemeriksaan psikologik. Hasil pengamatan orangtua, guru maupun orang sekitarnya akan diperkuat dugaannya oleh psikolog. Hal ini disebabkan karena psikolog memiliki metode dan instrumen untuk menggali potensi kecerdasan dan bakat individu. Sekolah mutu baik senantiasa memiliki seorang psikolog sekolah (school psychologist) (http://portal.cbn.net.id).

D. Primary Subgroups of Gifted Handicapped

1. Gifted Learning Disabled è Anak berbakat yang  kesulitan belajar

Memang tidak mudah untuk menjelaskan ciri-ciri tipikal anak-anak gifted-learning disabled (G/LD) karena terdapat banyak tipe pada berkemampuan (giftedness) dan banyak pula kemungkinan berketidakmampuan (learning diabilities). Problem terbesar dalam mengidentifikasi hal tersebut adalah, seringkali antara ketidakmampuan (disabilities) dan berkemampuan (giftedness) saling menutupi. Secara umum, seorang anak berkemampuan yang sekaligus memiliki ketidakmampuan belajar (gifted/learning disabled atau G/LD) ditandai dengan kelebihan pada beberapa hal dan ketidakmampuan pada hal yang lain (Widyorini, dalam http://gifted-disinkroni.blogspot.com).

Secara garis besar anak gifted learning disabled dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori (Widyorini, dalam http://gifted-disinkroni.blogspot.com ):

1.       Pertama, anak-anak berbakat yang memiliki beberapa kesulitan dalam belajar di sekolah dan sering dikatakan sebagai anak yang underachiever. Kelompok ini mudah teridentifikasi sebagai anak gifted atau berbakat karena memiliki prestasi tinggi atau punya skor IQ yang tinggi, yang dalam perkembangan selanjutnya terjadi kesenjangan yang besar antara harapan dengan prestasi yang ia capai. Anak pada kelompok ini mungkin akan mengejutkan dengan kemampuan verbal yang sangat bagus, sementara ia mengalami kesulitan besar pada kemampuannya menulis dan dikte. Kadang kala mereka amat pelupa, ceroboh, dan disorganized, sehingga pada tingkat lanjutan pertama, di mana tuntutan semakin tinggi maka makin sulitlah mereka untuk berprestasi. Mereka dapat mengatasi kesulitan dengan usaha keras, namun kenyataannya banyak dari mereka tidak tahu cara untuk mengatasinya, karena dikategorikan sebagai anak berkemampuan tinggi.

2.       Kelompok kedua, adalah anak-anak yang diketahui berkesulitan belajar, dan tidak pernah teridentifikasi sebagai anak gifted. Ketidaktepatan pengukuran dan atau tertekannya skor IQ sering menyebabkan dugaan yang keliru (underestimation) pada kemampuan intelektualnya. Jika bakat yang luar biasa tidak diketahui, maka kelebihan-kelebihannya tidak pernah menjadi fokus dalam pendidikannya, sehingga tidak pernah teraktualisasikan.

3. Kelompok ketiga, adalah anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak berbakat maupun sebagai anak berkesulitan belajar. Mereka lebih nampak sebagai anak yang berprestasi rata-rata. Kemampuan inteligensi yang tinggi seringkali membantu kesulitan atau kelemahannya, sehingga anak ini tidak teridentifikasi sebagai anak bergangguan. Di sini superioritas kemampuannya menutupi kelemahannya. Sebaliknya, kelemahannya menutupi kelebihannya. Bakat atau talenta yang dimiliki kemungkinan dapat berkembang bila terstimulasi oleh situasi kelas yang diajar oleh guru yang menggunakan metode belajar yang kreatif. Kelompok terakhir ini mungkin kelompok terbesar. Mereka berprestasi pada level yang tidak menguntungkan, jauh di bawah potensi yang dimilikinya (Baum, 1990; Broudy & Mills, 1997 dalam http://gifted-disinkroni.blogspot.com).

Karakteristik Anak G/LD Anak dengan keistimewaan ganda ini adalah suatu tipikal pelajar yang seringkali dikarakteristikkan sebagai anak yang cerdas, tapi mempunyai problem sekolah. Keadaan ini diikuti oleh perasaan frustrasi, agresif, ceroboh dan sering tidak mampu menyelesaikan tugas. Mereka juga sering membuat suasana kelas menjadi terganggu. Sebagian mereka bahkan mirip dengan anak LD yakni memori dan kemampuan perseptual terbatas serta sering gagal menyelesaikan tugas.

Sementara di bidang yang lain, mereka mampu menampilkan diri sebagai anak berkemampuan tinggi. Misalnya, mereka mungkin sangat pandai dalam berpikir abstrak (Baum, 1984 dalam http://gifted-disinkroni.blogspot.com), dapat mengkonseptualisasikan sesuatu dengan cepat, mampu melakukan generalisasi dengan mudah, dan menyukai tantangan untuk memecahkan suatu problems (Barton & Stanes, 1989 dalam http://gifted-disinkroni.blogspot.com). Biasanya hobi atau kesukaan mereka adalah hal-hal yang membutuhkan motivasi, tantangan dan perlu pemikiran yang kreatif. Di lingkungan sekolah mereka mengamati banyak hal, sementara prestasi sekolahnya buruk.

Silverman, direktur pusat studi anak berbakat di Denver, mengatakan bahwa anak-anak dengan keistimewaan ganda ini mempunyai karakter yang unik, mereka seringkali disebut visual-spatial learners dan memiliki long-term memory yang sangat bagus, yang membutuhkan metode diagnosis dan pengajaran yang berbeda. Mereka juga anak yang sangat sensitif dengan sikap guru.

Anak G/LD memandang dirinya sebagai anak yang tidak mampu di bidang akademik, sehingga meningkatkan motivasi untuk menolak tugas-tugas sekolah. Anak dengan keistimewaan ganda ini sering merasa malu dan memandang bahwa dirinya tidak mampu bersekolah. Inilah yang mematahkan semangat mereka. Tidak jarang dari mereka meneruskan perasaan tentang kegagalan ini di sekolah, sementara di rumah ia mampu belajar dan berkarya. Mereka sering memiliki konsep diri yang negatif dan membuat dirinya merasa bahwa sesungguhnya tidak sama dengan teman sebayanya.

2. Gifted Hearing Impaired è Anak berbakat dengan kerusakan pendengaran

Menurut Telford dan Sawrey (dalam Mangunsong, 1998) ketunarunguan tampak dari simtom-simtom yaitu:

a)       Ketidakmampuan memusatkan perhatian yang sifatnya kronis

b)       Kegagalan berespon apabila diajak berbicara

c)       Terlambat berbicara atau melakukan kesalahan artikulasi

d)       Mengalami keterbelakangan di sekolah

3. Gifted Retarded è Anak berbakat yang retarded

Kemampuan luar biasa orang-orang idiot yang terpelajar bermanifestasi menjadi beberapa hal yang berlainan seperti yang dikategorikan oleh Hill (1974 dalam Yewchuk & Lupart, 1993). Beberapa orang idiot unggul di satu macam keahlian, sementara lainnya dapat unggul di beberapa macam keahlian. Kategori yang paling dikenal baik adalah menghitung kalender, kemampuan artistik, kemampuan musikal, kemampuan mengingat fakta-fakta yang tidak jelas, kemampuan matematikal, kemampuan mekanikal dan diskriminasi sensorik.

Morishima dan Brown (1977 dalam Yewchuk & Lupart, 1993) mencatat bagaimana dibawah pengawasan dari pengajar-pengajar khusus, anak muda yang sangat terebelakang  dapat membangun keahlian observasi, grafik, dan artistik hingga menjadi illustrator serangga yang sangat terkenal di Jepang. Program-program pendidikan untuk orang-orang idiot yang terpelajar harus dapat menyediakan kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakat khusus selain melatih keahlian-keahlian yang normal dibutuhkan di masyarakat (Nishimura, 1989). Jika diberikan dukungan pendidikan inklusif yang saat ini sedang menjadi tren, sangat mungkin individual-individual tersebut akan lebih teridentifikasi dan diberikan kesempatan lebih besar untuk mengembangkan bakat-bakatnya.

4. Emotionally Disturbed Gifted è Anak berbakat dengan gangguan emosional

Banyak orang mengasumsikan bahwa anak cerdas mampu atau handal di dalam menyelesaikan masalah. Tidak hanya mampu menyelesaikan masalah akademis,                namun juga masalah sosial dan emosi tanpa diberikan pengarahan. Namun, pada kenyataannya anak berbakat menderita berbagai macam stress yang dapat menempatkan mereka pada posisi beresiko dalam berkembangnya gangguan perilaku dan emosional.

5. Preschool Handicapped Gifted. è Anak prasekolah berbakat dengan ketidakmampuan/memiliki hambatan.

Pada usia prasekolah anak handicapped dapat distimulasi untuk menunjukkan performa keahliannya dengan pendidik khusus yang sudah mengenali       karakteristik dari anak-anak gifted dan talented.

E. Program Intervensi

Anak cacat yang berbakat sangat membutuhkan intervensi. Mereka akan berespon positif terhadap lingkungan pendidikan yang menantang, menarik minat, terstruktur sehingga dapat mandiri dan membangun keunggulannya.

Mengoptimalkan area kekuatan, guru harus bekerja sama untuk memperbaiki area-area kelemahan individu. Siswa harus didukung untuk melakukan kompensasi terhadap kelemahan-kelemahan dirinya.

a. Individualized Education Program (IEP)

Apa yang dilakukan sekolah jika ternyata anak tergolong sebagai anak berbakat? Tidak ada cara terbaik selain memberikan anak Individualized Education Program (IEP) yang akan membawa anak kepada pendidikan khusus sesuai kebutuhan dirinya. Program pendidikan individual dibuat oleh tim yang mendapat masukan-masukan dari guru maupun orangtua berdasarkan kekuatan-keunggulan (strengths) yang dimiliki anak.

Tim yang terdiri dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan khusus dan guru anak berbakat akan bekerjasama membuat perencanaan dan pelaksanaan IEP tersebut. Anak-anak dengan kecacatan penglihatan, pendengaran, ataupun fisik, namun sekaligus tergolong anak berbakat dapat menggunakan kekuatan intelektualnya untuk mempelajari keterampilan-keterampilan lain yang dapat mengkompensasi kekurangan dirinya.

Anak berbakat dengan kesulitan belajar (Learning Disabilities) atau gangguan perilaku (behavior disorders) yang memiliki kecerdasan tinggi dibantu untuk dapat memecahkan masalah atau strategi metakognitif dalam tugas-tugas akademik dan tugas sosial, sehingga mereka dapat sukses di sekolah. Anak dengan kategori kesulitan belajar (LD) dapat digolongkan dalam handicapped gifted.

Biasanya penyebabnya tidak diketahui, dan penyembuhannya sampai saat ini masih terus dikembangkan agar anak dapat dengan sukses mengikuti pendidikan di sekolah. Secara umum biasanya pendekatan pendidikan bagi anak berbakat yang tergolong LD ini melalui analisis tugas-tugas akademik untuk melihat keunggulan dan kelemahannya. Siswa banyak membutuhkan keterampilan mengorganisasi, seperti manajemen waktu, mencatat, merekam pelajaran, sekuens topik-topik pelajaran, keterampilan dasar menulis, dan lain sebagainya.

b. The Retrieval and Acceleration of Promising Young Handicapped and Talented (RAPYHT) project

Proyek RAPHYT (Retrieval and Acceleration of Promising Young Handicapped and Talented) merupakan contoh model program untuk anak cacat berbakat yang paling dikenal luas. Model program tersebut terdiri dari 7 komponen; pemograman umum, identifikasi bakat, pemograman bakat, keterlibatan orangtua, kolaborasi interagen, prosedur transisional dan evaluasi.

Isi program utama dari RAPYHT adalah memasukkan satu set material yang didesain untuk menstimulasi kreativitas, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan evaluasi berpikir baik di kelas maupun dirumah. Aktivitas ini diperuntukkan untuk memberikan semangat rekognisi dan mengeluarkan bakat dan talenta pada anak handicapped yang berbakat (Yewchuk & Lupart, 1993).

c. Enrichment programming

omponen-komponen utama dari suksesnya program enrichment pada anak/murid berbakat yang kesulitan belajar mencangkup perkembangan mode alternatif untuk berpikir dan berkomunikasi, menggunakan strategi untuk mengidentifikasi area yang diminati, termasuk psikometri dan sumber-sumber informasi yang dinamis, menggunakan aktivitas-akktivitas yang memotivasi, dan menggunakan metode-metode instruksional student-friendly.

d. Program remedial

Pada pendidikan khusus yang konvensional, fokus utama terletak pada program remedial, daripada pengembangan sebagai kompensasi untuk keunggulan siswa.Guru-guru anak berbakat dapat memberikan instruksi tambahan dengan menggunakan keunggulan-keunggulan anak untuk menangkap minat-minat anak dan memotivasi mereka agar dapat mengikuti pelajaran yang lebih tinggi (advanced study) dan persistensi dalam tugasnya. Sedangkan pelayanan pekerja sosial dapat membantu anak di rumah untuk meningkatkan harga dirinya.

Akhirnya, guru anak berbakat dapat menyediakan layanan pendidikan pengayaan maupun percepatan belajar untuk membuat belajar lebih menantang dan menarik anak. Intinya dalam pendidikan anak cacat berbakat, guru memusatkan perhatian pada keunggulan diri anak, dan memberikan layanan yang sesuai sebagai hadiah atas kemampuannya yang tinggi.

Tujuan Program:

  • Agar anak memahami hakikat ketidakmampuan dirinya
  • Agar anak menerima kelebihan dan kelemahan dirinya
  • Agar anak mengembangkan konsep diri yang positif

Sumber Lain:

http://gifted-disinkroni.blogspot.com

Mangunsong, Frida. 1998. Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Depok: LPSP3 UI


[1] Penulis adalah Mahasiswi Program Magister Profesi Psikologi Pendidikan di Fakultas Psikologi UI. Angkatan 2007

[2] http://portal.cbn.net.id

[3] Yewchuk, Carolyn & Lupart, Judy L. (1993). ”Gifted Handicapped: A Desultory Duality”. Dalam Heller, Kurt., Monks, Franz, dan Passow, Harry (Ed). International Handbook of Research and Development of Giftedness and Talent. (237, 709-722). UK: Pergamon Inc.

[4] Coleman, Lawrence J. 1985. Schooling The Gifted. California: Addison-Wesley Publishing Company.

[5] Akbar-Hawadi, Reni. (2002). Identifikasi keberbakatan Intelektual melalui Metode Non-tes dengan pendekatan konsep Keberbakatan Renzulli. Jakarta: PT. Grasindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s