Melukis, Terapi Untuk Autisme

Rabu, 03 Desember 2008 | 10:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Rampung sudah 12 lukisan di tangan Edwin Makarim (Edo), 13 tahun. Dalam “keterbatasannya”, sejak Februari 2008 murid Sekolah Dasar Al-Falah Ciracas, Jakarta Timur, itu aktif menyapukan spons di atas kanvas Rumah Lukis Pak Alianto. “Saya melukis setiap Sabtu dan libur dari pukul 9 hingga selesai,” katanya. Baginya, menggoreskan warna di atas kanvas mempunyai makna lebih dibandingkan dengan bagi anak-anak pada umumnya.

Saat lahir, Edo mengalami penurunan jumlah butir darah merah yang berakibat cedera pada otak—karena kurangnya pasokan oksigen. Walhasil, bocah hitam manis itu harus berjuang memperbaiki sistem motorik tubuhnya. Jalan yang dipilih bundanya, Revita Tantri, adalah mengajak Edo berlatih melukis. Pilihan ini tepat. Cita-cita menjadi pelukis andal bukanlah mimpi bagi Edo. Sang guru, Alianto—Ketua Sanggar Anyelir Merah—mengatakan Edo bertalenta besar dalam bidang melukis. “Setiap anak sepertinya harus diarahkan jika memiliki bakat melukis,” ujar Alianto, pada jumpa media pameran lukisan dan lelang bertajuk “Kasih Bunda Mengantar Pelukis Muda”, pekan lalu di Hotel Crown, Jakarta.

Kini goresan tangan Edo bergantung dan berderet sejajar dengan 29 karya seniman muda lain. Di kanvas, Edo mendirikan sebuah masjid putih dengan tiga kubah kuning di berandanya. Masjid itu ada di atas bukit dekat pantai yang ditumbuhi pepohonan hijau rimbun. Dengan langit kuning merona, menandai turunnya mentari dari singgasananya.

Menurut Alianto, kombinasi warnanya begitu luar biasa. Adapun karya itu dibuat Edo selama tiga minggu dalam waktu 6 jam, atau tepatnya dalam tiga kali pertemuan. Pelukis Lampung itu mengajari Edo dengan pendekat an intensif. Ia memberi obyek menarik dan mencontohkan dengan kesabaran. “Coba satu obyek saja dulu,” katanya. Setelah anak menunjukkan minat, ia mengarahkan. Biasanya Alianto membimbing murid mulai usia 5 tahun. Sedikit demi sedikit, tidak sampai 3,5 tahun, biasanya anak sudah menghasilkan karya lukis yang baik. Dia menilai anak berkebutuhan khusus memiliki talenta yang harus digali.

Menurut Ketua Yayasan Autisma Indonesia dr Melly Budhiman, melukis memang sebuah terapi efektif bagi anak berkebutuhan khusus.

“Kebanyakan dari mereka, motorik halusnya jelek sekali,” katanya. Melukis dapat menyentuh emosi sehingga bocah lebih tenang. Karena membikin saraf kognitif tergerak, terutama saat mereka mencampur warna di atas kanvas. Kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar juga bisa disalurkan lewat karya ini. Selain itu, dunia lukis merupakan wadah bagi ibu untuk menunjukkan dukungannya terhadap anak. Ditambah juga bisa memupuk kepercayaan diri anak lewat hasil goresan tangannya. Di sekitar kita, kata Melly, sesungguhnya banyak anak penderita autis. Namun, belum pernah ada survei resmi yang menunjukkan prevalensinya.

Lewat sebuah studi baru-baru ini, tim peneliti dari Departemen Radiologi Rumah Sakit Anak Philadelphia mengungkapkan, otak pada anak autis bereaksi lebih lamban terhadap suara dibanding anak normal. Timothy Roberts, yang memimpin penelitian, menyebut kan temuan ini mendukung bukti teori besar bahwa autisme merupakan gangguan pada koneksivitas pada otak.

Robert dan timnya meneliti 30 anak autis berusia 6-15 tahun. Partisipan diminta mendengarkan suara dan suku kata, kemudian medan magnet kecil yang diproduksi elektrik otak pun dimonitor. Studi menggunakan teknik magnetoencephalography (MEG), mirip helm yang digunakan untuk mendeteksi aktivitas otak.

Ketika dibandingkan dengan otak anak normal, otak anak autis lebih lamban 20-50 persen saat merespons. Untuk satu suku kata dalam sebuah kata yang memiliki beberapa suku kata, ia memerlukan waktu sekitar 0,25 menit untuk mengucapkannya. Robert menyebutkan kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada koneksivitas dalam otak. “Kalau digambarkan mungkin seperti jalan tol yang padat sehingga sulit untuk dilalui,” ia memaparkan pertemuan Masyarakat Radiologi Amerika Utara belum lama ini. Seperti dikutip dari YahooNews, ia menyebutkan keterlambatan dalam merespons ini dapat dijadikan sebagai tanda awal dari pasien autis. Karena lebarnya spektrum kelainan ini, pasien pun memiliki tingkat gangguan yang beragam. Heru Triyono

Sumber:

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2008/12/03/brk,20081203-149375,id.html

One response to “Melukis, Terapi Untuk Autisme

  1. thanks for the reading, I can understand him.ok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s