Atlet Golf Itu Penyandang “Down Syndrome”

R.A. KHAIRUN NISA

Atlet Golf Itu Penyandang “Down Syndrome”…

Minggu, 24 Januari 2010 | 13:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sehat, bugar, dan gembira. Itulah yang terlihat dari seorang Michael Rosihan Yacub, pegolf muda Indonesia yang memiliki kelainan down syndrome. Down syndrome adalah kelainan kromosom yang terjadi pada anak sehingga ia memiliki kelemahan dalam kecerdasan. Wajah mereka pun berciri “mongoloid”, di mana antara satu dan lainnya hampir sama. Selain itu, mereka juga memiliki otot-otot tubuh yang lemah.

Nah, walau memiliki keterbatasan, berkat perhatian dan dukungan penuh dari orangtuanya, Michael dapat tumbuh sehat dan mandiri layaknya anak normal. Apalagi dengan keberhasilannya memecahkan rekor Muri sebagai pegolf penyandang down syndrome satu-satunya di Asia, Minggu (24/1/2010) ini.

Aryanti Rosihan Yacub, ibunda Michael, mengatakan, putra bungsunya tersebut secara tidak sengaja telah mengenal olahraga golf sejak usia dua tahun. Ketika itu, Michael kecil sering diajak oleh ayah dan kedua kakaknya bermain di lapangan golf. Sejak itulah, kata Aryanti, Michael menunjukkan ketertarikan pada olahraga golf.

Bakat anaknya tersebut ditanggapi serius oleh dia. Sejak tahun 2004, Michael mulai serius bermain golf. “Mulai main tahun 2004, waktu itu masih sembilan hole, malah kadang-kadang tiga hole,” kata Aryanti kepada Kompas.com di Lapangan Golf Pondok Indah, Jakarta, siang ini.

Meski begitu, Aryanti tetap memantau dengan aktif perkembangan anaknya. Hingga pada tahun 2008, Michael berhasil menyelesaikan 18 hole layaknya pegolf normal.

Saat ini Michael yang berusia 20 tahun itu aktif belajar di Center of Hope Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI). Hari Senin sampai Jumat, Michael belajar penuh di sana. Ia mendapat berbagai pelajaran yang sifatnya aplikatif, menyenangkan, sehingga mudah dimengerti.

“Di Center, dia (Michael) dapat pelajaran masak, main angklung, drama, komputer, dan mengajarkan pola hidup sehat. Kalau di sekolah biasa, pelajarannya enggak masuk di dia, tidak relevan, yang penting dia bisa urus diri sendiri dulu,” tandas ibu tiga putra yang juga Ketua ISDI itu.

Di akhir pekan, Michael rutin latihan golf bersama ayahnya. Michael sempat menyalami Kompas.com sebelum ia latihan golf pagi ini. Mulai sekitar pukul 07.00, Michael yang diantar ibu dan ayahnya itu sudah terlihat bersiap.

Menurut Aryanti, Michael diajarkan mengurus dirinya sendiri sejak kecil. Aryanti, misalnya, memberikan contoh untuk mandi kepada Michael dengan menyediakan kaca di kamar mandi agar Michael tahu bagian tubuh mana yang harus dibersihkan. “Lama-lama dia terbiasa,” katanya.

Setelah 11 tahun menggeluti kegiatan sosial untuk anak-anak down syndrome, Aryanti menilai, peran orangtua anak down syndrome sangat penting. “Anak harus diajak keluar, kalau di rumah saja bahaya. Orangtua juga harus berperan aktif dan mau anaknya berubah,” tandasnya.

Hebatnya lagi, selain berprestasi dalam olahraga golf, Michael juga pernah menyabet perak dalam Special Olympic di nomor 500 meter sprint dalam olahraga renang dan perunggu dalam soft ball throw. Dukungan dan semangat orang-orang terdekat ternyata mampu mengubah yang tidak bisa menjadi bisa. Michael dan keluarganya telah membuktikan itu.

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/24/13265021/atlet.golf.itu.penyandang.down.syndrome…

Aryanti, Kesetiaan Merawat Anak “Down Syndrome”

R.A. KHAIRUN NISA

Minggu, 24 Januari 2010 | 18:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Hidup kadang tak sesuai yang kita inginkan. Pun ketika Tuhan menganugerahkan anak yang tidak sempurna. Namun, bagi Aryanti Rosihan Yacub, Tuhan selalu maha adil.

Sekali pun putra bungsunya terlahir menjadi anak down syndrome, Aryanti tidak lantas berputus asa.  Minggu (24/1/2010), adalah pembuktian baginya.  Putra kesayangannya tersebut berhasil tercatat dalam rekor MURI sebagai pegolf penyandang down syndrome satu-satunya di Asia.

20 tahun lalu, Aryanti melahirkan anak ketiganya yang ia beri nama Michael Rosihan Yacub. Ketika masih bayi, tidak terasa ada yang berbeda dari anaknya. Wajah Michael masih sama lucunya dengan anak-anak lain.

Namun semakin bertambah usia, barulah tampak ada yang berbeda dari Michael. Seperti anak down syndrome lainnya, wajah Michael berciri “Mongoloid”. Wajah yang hampir sama seperti anak-anak down syndrome pada umumnya.

Kehidupan Aryanti tetap berjalan normal sampai 1995, ketika ia mulai merasa ada keganjalan pada dirinya. “Saya jadi mudah sekali pingsan, satu hari bisa berkali-kali, saya cek ke dokter tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan,” ujar Aryanti mulai berkisah kepada Kompas.com, Minggu (24/1/2010).

“Ada yang mengatakan, mungkin saya stres punya anak down syndrome, tapi enggak kok,” katanya.

Aryanti tapi tidak bisa mengelak, jika dugaan orang lain itu mungkin benar.  “Tapi mungkin alam bawah sadar, kita enggak pernah tahu,” ucap wanita yang telah 11 tahun menjadi ketua Ikatan Sindroma Down Indonesia tersebut.

Cemoohan dari orang lain karena mempunyai anak down syndrome kerap menghantui Aryanti. Tapi semua itu segera berlalu, karena nyatanya ia mampu membuktikan bahwa anaknya punya talenta luar biasa.

Tahun 1999, Aryanti memimpin ISDI. Sejak itu banyak orangtua yang memanfaatkan ISDI sebagai sarana diskusi tentang perkembangan anak mereka. Sejak itu pulalah Aryanti sudah tidak pernah pingsan tiba-tiba lagi.

“Semenjak jadi ketua ISDI saya enggak pernah pingsan lagi, enggak tahu kenapa,” ucapnya.

Panggilan sosial tersebut, membuat perubahan dalam kehidupan Aryanti. Michael kecil sudah rajin berolahraga dan kerap mendapat penghargaan. Ia mahir dalam bidang atletik, renang, dan golf.

Beberapa penghargaan sudah sering disabetnya, antara lain pada Special Olympic tahun 2003 untuk olahraga renang dan soft ball, dan pada 2006 dalam sebuh kompetisi amal bagi penderita down syndrome di Singapura. Sejak memimpin ISDI, Aryanti banyak melakukan gebrakan bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Di antaranya, dengan mempertontonkan kebolehan anak-anak didik ISDI dalam bermain angklung, melukis, dan olahraga. Sejak itu, perhatian terhadap anak down syndrome mulai meningkat.

Meski telah memiliki cucu, Aryanti masih terlihat muda. Ketegarannya selama 20 tahun belakangan ternyata telah berbuah hasil. Mendidik anak down syndrome memang tidak mudah. Baginya, adalah berkah menjadi orangtua anak down syndrome. Berkah yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh orang tua yang memiliki anak normal.

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/24/18390726/aryanti.kesetiaan.merawat.anak.down.syndrome.

12 responses to “Atlet Golf Itu Penyandang “Down Syndrome”

  1. ukbetting central786

    Hi Webmaster,

    I liked your content in your post and I felt that i is the great source of knowledge.I am very impress with your post.

    thanks

  2. Thank you for your response. I hope it inspire you to do something for the cause.🙂

    Sincerely yours.

  3. bagus

  4. Rangga Harisang (079114050)

    Peranan orangtua bagi anak down syndrome sangat penting. Orangtua dapat mengubah anak down syndrome menjadi layaknya anak-anak lainnya yang normal. Akan tetapi hal itu membutuhkan kerja keras seperti dukungan penuh dan perhatian dari keluarganya, khususnya orangtua. Orangtua juga perlu tahu betul, cara-cara untuk mendidik anak down syndrome tsb, karena tentunya cara mendidiknya akan berbeda dengan anak yang normal.

  5. saya juga dikaruniai putra DS, sejak umur 3 bulan dia sudah terapi. dan kini Nathan (putra saya) sudah berumur 16 bulan sudah menunjukkan hal yang positif, sudah bisa berceloteh mama dan manggil kakaknya ‘mbaa’. Untuk gerak motoriknya, dia udah minta tetah dan sudah bisa naik turun tempat tidur sendiri. Jangan putus asa bagi ibu yang dikaruniai putra Ds… Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya..

  6. Pingback: golf » Blog Archive » Atlet Golf Itu Penyandang “Down Syndrome”

  7. mohon info sekolah khusus down syndrome di Jogjakarta

  8. Harison Sirait

    Mohon dukungan doa dari semua orang tua, pemerhati dan pencinta anak Down Syndrome. Tanggal 2 Juni 2014 Saya, Harison Sirait (koordinator renang Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia) akan membawa tiga atlet renang Down Syndrome, yaitu : Christian Sitompul, Michael Rosihan Yacub dan Stephanie Handojo mengikuti Special Olympics World Games Invitational di University of Southern California Los Angeles Amerika Serikat, 5-9 Juni 2014. Semoga ke- 3 anak Down Syndrome ini memberikan hasil yang terbaik bagi Bangsa dan Negara Indonesia. JBU. Harison Sirait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s