Tag Archives: SLB

PSIBK dan Sepotong Cerita di Kota ASRI

15 April 2011 / 11.15 WIB

Posts by PSIBK

Masyarakat umum biasa menyebut kota ini dengan sebutan “kota ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah)”, tim PSIBK beserta beberapa dosen Universitas Sanata Dharma berkesempatan untuk berkunjung kesana pekan kemarin, tepatnya pada tanggal 8-9 April 2011. Kota tersebut adalah kota Wonosobo, salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Tim PSIBK berkesempatan untuk mengunjungi dua Sekolah Luar Biasa(SLB) yang berada disana yaitu SLB/B Dena Upakara dan SLB/B Don Bosco (Karya Bhakti). Kedua SLB tersebut merupakan sekolah berasrama bagi anak-anak tunarungu, dimana para muridnya diwajibkan untuk tinggal di asrama selama mereka belajar. Meskipun demikian, para siswanya juga diberi kesempatan untuk pulang ke rumah selama weekend, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

                Kunjungan ini merupakan rangkaian dari kerjasama antara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang diwakili oleh PSIBK dengan Yayasan Dena Upakara dan Yayasan Karya Bhakti (Don Bosco). Selain itu, kunjungan tersebut menjadi ajang bagi dosen untuk mengenal cara mengajar dan proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Kunjungan pertama dilakukan di SLB/B Dena Upakara, tim PSIBK beserta dosen diberi kesempatan untuk mengikuti proses pembelajaran siswa dari awal jam pelajaran sekolah. Tim didampingi langsung oleh ketua yayasan Dena Upakara, Suster Wahyu, PMY. Setelah itu, tim juga diperkenankan untuk masuk ke kelas guna mengikuti proses belajar maupun untuk mengadakan observasi. Pada kunjungan ini, tim PSIBK dan dosen juga berkesempatan untuk melihat penampilan siswa dalam ajang kreasi musik dan tari. Beberapa siswa menunjukkan kebolehan mereka dalam menari dan memainkan alat musik, seperti pianika. Setelah mengikuti beberapa proses pembelajaran, selanjutnya tim PSIBK dan dosen diajak untuk berkeliling area sekolah dan asrama. Seluruh rangkaian kegiatan di SLB/B Dena Upakara diakhiri dengan acara berdiskusi bersama.

                Kunjungan kedua dilakukan di SLB/B Don Bosco (Karya Bhakti) yang lokasinya tidak terlampau jauh dari SLB/B Dena Upakara. Disana, tim PSIBK dan dosen disambut langsung oleh kepala sekolah SLB/B Don Bosco, yaitu Bruder Marcell FC. Kunjungan diawali dengan makan siang bersama dan dilanjutkan dengan berkeliling area sekolah serta asrama. Setelah berkeliling sekolah, tim PSIBK dan dosen berpamitan untuk kembali ke kota “gudeg” Yogyakarta dengan membawa sepotong cerita yang luar biasa dari kedua Sekolah Luar Biasa tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan dan proses di dalamnya menjadi satu pembelajaran dan pengalaman istimewa bagi seluruh tim PSIBK dan dosen. Semoga kunjungan seperti ini kelak akan terus berlanjut sehingga kerjasama pun tetap terjalin. (ewd)

Siswa Tunagrahita Tak Bisa Ikut Ujian

08 April 2011 / 11.30 WIB

Posts by PSIBK

JAKARTA, KOMPAS.com — Peserta didik di sekolah luar biasa yang masuk dalam kriteria tunagrahita ringan dan sedang tidak dapat mengikuti Ujian Nasional 2011. Siswa penyandang tunagrahita dinilai “kurang” secara akademis dan sulit memahami soal.

Maryoto, guru di SLB Negeri 1 Jakarta, mengatakan, standar soal untuk para siswa yang menyandang tunagrahita berbeda. Jenjang siswa tunagrahita ini hanya sampai pada ujian akhir sekolah, bukan UN.

Dia mengatakan, di antara penyandang tuna lainnya, siswa penyandang tunagrahita masuk dalam golongan C dan C1 atau urutan terakhir. Untuk itu, standar soal ujiannya harus didominasi oleh gambar, bukan kata atau dalam kalimat.

“Untuk tunagrahita C1, 60 persen soal harus berbentuk gambar. Sementara untuk golongan C hanya 40 persen yang harus berbentuk gambar,” kata Maryoto.

Di SLBN 1 Jakarta, jumlah siswa tingkat SD, SMP, dan SMA yang seharusnya mengikuti UN tahun ini sebanyak 44 siswa. Namun, karena siswa tunagrahita tidak diperbolehkan, tercatat hanya 17 siswa yang akan mengikutinya. Sebanyak 17 siswa tersebut merupakan siswa penyandang tunarungu atau masuk dalam golongan B.

“Yang akan mengikuti UN itu hanya golongan B. Siswa SMP ada 9 orang dan siswa SMA ada 8 orang. Jadi totalnya 17 siswa,” kata Maryoto.

Sumber : kompas.com

PSIBK Universitas Sanata Dharma Punya Gawe bareng Kenthalis International, Belanda

Rabu, 03 November 2010 / 12.00 WIB

Posts by PSIBK USD

Pada tanggal 18 hingga 22 Oktober 2010, PSIBK USD bekerjasama dengan Kenthalis dari Belanda mengadakan pelatihan bagi para guru tunarungu. Pelatihan ini merupakan realisasi dari pertemuan yang sebelumnya telah dilakukan oleh kedua belah pihak serta beberapa perwakilan dari sekolah yang ditunjuk. Pihak PSIBK bertanggungjawab penuh karena acara ini diadakan di kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Acara ini dilaksanakan di Gedung Pusat, Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta. Pembicara yang dihadirkan dalam acara ini terdiri dari beberapa ahli dari Belanda dan Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang memang memiliki keterikatan dengan dunia ketunarunguan dan sudah berpengalaman di bidangnya.

Acara ini diselenggarakan selama lima hari dan terbagi menjadi dua sesi, dimana sesi pertama (hari Senin dan Selasa, 18-19 Oktober) digunakan untuk pengenalan mengenai sejarah ketunarunguan baik di Indonesia maupun di dunia. Sesi kedua berlangsung dari hari Rabu hingga Jumat (20-22 Oktober) dan dikhusukan bagi para guru yang menjadi calon mentor. Calon ini terdiri dari 16 guru yang mewakili beberapa sekolah, antara lain SLB/B Santi Rama (Jakarta), SLB/B Bhakti Luhur (Malang), SLB/B Pangudi Luhur (Jakarta), SLB/B Karya Bakti (Wonosobo), SLB/B Dena Upakara (Wonosobo), SLB/B Karnamanohara (Sleman, DIY), SLB/B Negeri Semarang (Semarang) dan SLB/B Wiyata Dharma (Sleman, DIY). Masing-masing sekolah tersebut diwajibkan untuk mengirimkan dua orang guru.

Pelatihan ini akan berjalan secara bertahap selama dua tahun. Para mentor yang terdiri dari 16 guru tersebut nantinya akan menjadi pendamping bagi guru lainnya yang dikirim oleh sekolah untuk mengikuti pelatihan di PSIBK Universitas Sanata Dharma. Pada bulan Oktober ini, pelatihan yang diadakan merupakan awal dari keseluruhan program sehingga masih berupa pengenalan terlebih dahulu. Selain itu, dalam kesempatan ini pihak penyelenggara juga mengupayakan agar terjalin suatu komitmen dengan para peserta, khususnya calon-calon mentor, agar selama dua tahun ke depan mereka sanggup untuk mengikuti rangkaian pelatihan ini. Secara keseluruhan, acara ini berlangsung dengan lancar. Pelatihan ini akan dilanjutkan pada bulan Januari 2011. Pada pelatihan lanjutan tersebut direncanakan masih akan mendatangkan pembicara dari Kenthalis dan beberapa dosen dari USD maupun UGM. Semoga pelatihan di bulan Januari yang akan datang dapat berjalan dengan lancar. (ewd)

 

Ditulis oleh : Elisa Wahyu D.

Dana Hibah Kewirausahaan: PJI Terapkan “Perusahaan Siswa” SLB

Jumat, 24 September 2010 / 12.45WIB

Posts by PSIBK

Indonesia melalui Prestasi Junior Indonesia (PJI) mengirimkan proposal kewirausahaan yang isinya menunjukkan inovasi dan semangat kewirausahaan melalui program kewirausahaan bagi siswa-siswi tuna rungu di SMA Luar Biasa Santi Rama, Jakarta. Proposal itu kemudian memenangkan MetLife Foundation Entrepreneurial Award 2010 beserta dana hibah sebesar 25.000 dollar.

“Dari dana hibah dan proposal itu akan diterapkan program serupa di lima sekolah SLB lain, dua sekolah di Jakarta dan tiga sekolah di Jawa yang meliputi Surabaya, Mojekerto, dan Sidoarjo,” ujar Program Manager Metlife Foundation, Vitis Rakhmawati, Kamis (23/9/2010), di Jakarta.

Vitis menambahkan, topik yang diambil adalah wirausaha karena menjadi kegiatan yang paling banyak mendapatkan dampak postif bagi masyarakat. “Setelah proposal itu diterapkan di 5 Sekolah SLB, kemudian kami bekerja sama dengan guru setempat menjalankan program perusahaan siswa,” ujar Vitis kepada Kompas.com.

Di perusahaan siswa atau student company tersebut, kata dia, siswa diajarkan membuat perusahaan, menjual saham, membuat laporan, dan lain-lainnya. Program ini akan dijalankan selama dua semester atau kurang lebih satu tahun.

“Setelah berdiri perusahaan siswa, dari 5 sekolah SLB itu akan dilombakan kembali, dan dipilih mana perusahaan siswa terbaik,” ujar Vitis lebih lanjut.

Sumber : kompas.com

SLB Butuh Perhatian Khusus

Selasa, 23 Februari 2010 | 03:41 WIB

Cirebon, Kompas – Fasilitas berikut tenaga pendidik khusus untuk sekolah luar biasa di Indonesia masih sangat terbatas. Dengan demikian, dibutuhkan kerja sama pemerintah pusat dan daerah yang lebih serius untuk menyediakan seluruh kebutuhan tersebut.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, pendidikan adalah hak semua masyarakat, termasuk kelompok masyarakat berkebutuhan khusus, seperti penyandang cacat. Sayangnya, fasilitas bagi mereka masih minim dan belum memadai, bahkan kesempatan untuk bersekolah pun terbatas.

”Pendidikan itu untuk semua orang. Tetapi, realita sosialnya masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus dan termasuk kelompok marginal, belum bisa sekolah,” ujar Mohammad Nuh di sela-sela kunjungan kerjanya memantau SLB di Cirebon dan Kuningan, Senin (22/2).

Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah harus bisa menjamin semua lapisan masyarakatnya terlayani.

Jumlah tenaga pendidik di SLB jauh lebih sedikit dibandingkan banyaknya siswa di SLB. Perbandingannya, kata Mendiknas, satu berbanding empat. Artinya, satu guru mendidik lebih dari empat siswa berkebutuhan khusus. Padahal, untuk mendidik mereka dibutuhkan keterampilan dan kesabaran yang lebih besar.

Berdasarkan data sementara Direktorat Pembinaan SLB Kemdiknas, jumlah tenaga pendidik SLB (pegawai negeri sipil ataupun swasta) hanya berkisar 16.000 orang, sedangkan siswa SLB di seluruh Indonesia mencapai 75.000 orang.

Sementara itu, angka partisipasi kasar (APK) anak-anak usia sekolah yang berkebutuhan khusus juga masih rendah, hanya 20-25 persen, dari total 347.000 anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, setiap daerah perlu memberikan perlakuan khusus kepada kelompok itu dengan cara menyediakan dan mengoptimalkan lembaga pendidikan untuk penyandang cacat.(THT)

Sumber :

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/23/03415420/slb..butuh.perhatian.khusus

Bambang dan Perintisan SLB

KOMPAS/MAWAR KUSUMA WULAN

Kamis, 11 Februari 2010 | 04:53 WIB

MAWAR KUSUMA

Bambang Suminto telanjur jatuh hati kepada anak berkebutuhan khusus. Mulai dari lemparan sepatu yang hampir mengenai kepala hingga pelukan sayang dari anak-anak itu biasa diterimanya. Bahkan, ketika sebagian orang ”menyerah”, Bambang tetap menaruh senyum di wajahnya. Rekan-rekannya, sesama guru sekolah luar biasa, sampai menjuluki dia sebagai ”sang spesialis SLB”.

Bambang memang dikenal sebagai pendamping perintisan SLB, terutama oleh para perintis SLB di daerah Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Selain merintis SLB Bakti Putra di Kecamatan Karangmojo, dia juga membidani lahirnya tiga sekolah luar biasa yang lain: SLB Suharjo Putra di Kecamatan Patuk, SLB Purworaharjo di Kecamatan Purwosari, dan SLB Krida Mulya di Kecamatan Rongkop.

Ia berperan besar dalam pertumbuhan hingga pengembangan 4 dari 6 SLB rintisan yang dikelola kelompok masyarakat di Gunung Kidul. Perintis SLB Suharjo Putra, Jotham Sungkowo Hardjo (61), bercerita, langkahnya untuk mendirikan SLB menjadi makin mantap setelah mendapat bantuan ilmu sekaligus tenaga dari Bambang.

Ketika Jotham mengatakan Bambang adalah satu-satunya rujukan untuk memulai perintisan SLB di Gunung Kidul, Bambang berkilah bahwa banyak orang seperti dia. Tetapi, jika dilihat dari sejarah perintisan SLB di Gunung Kidul, Bambang bisa dikatakan selalu berkutat di lapangan dan berusaha mengatasi beragam persoalan yang muncul pada perintisan awal SLB.

Ketika di wilayah Kabupaten Gunung Kidul hanya terdapat satu SLB—kini menjadi SLB negeri—Bambang mulai membangun SLB rintisan tahun 1981. Kala itu, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus masih merupakan hal yang ”aneh” di kalangan masyarakat setempat. Jangankan SLB, sekolah formal biasa pun masih langka.

”Saya bukan ahli (mendirikan SLB), melainkan orang yang kebetulan lebih dulu mengalami pahitnya perintisan SLB sehingga bisa membagikan ilmu perintisan kepada mereka yang tertarik merintis SLB,” ujar Bambang.

Masyarakat antusias

Pertautannya dengan anak berkebutuhan khusus dimulai ketika Bambang diajak ayahnya, Kepala Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, meninjau kondisi desa. Kala itu, Bambang melihat sebagian orangtua harus mengajak serta anak mereka yang penyandang tunanetra untuk bertani meskipun untuk mencapai sawah mereka harus naik-turun jurang.

Maka, selulus dari sekolah guru pendidikan luar biasa di Surabaya, dia memilih pulang kampung untuk merintis SLB di Gunung Kidul. Bambang pernah menggunakan rumahnya di Wonosari untuk menampung anak berkebutuhan khusus sebelum pindah ke Karangmojo.

Setelah berdiskusi dengan aparat pemerintahan desa dan mendapat dukungan dari beberapa orangtua, dia mulai membuka kelas di Desa Ngawis, Karangmojo. Ia juga harus aktif mencari anak berkebutuhan khusus dari rumah ke rumah agar mereka bersekolah. Pada 1982, Bambang lalu didaulat menjadi koordinator perintisan SLB Bakti Putra di Kecamatan Karangmojo.

Saat itu, masyarakat antusias turut berpartisipasi merintis pendidikan luar biasa. Rintisan SLB ini juga mendapat dukungan dari kepala desa dan tokoh masyarakat. Jimpitan beras dari warga bahkan dialihkan untuk pendanaan operasional awal bagi SLB Bakti Putra. Setelah 19 tahun menempati balai desa, SLB Bakti Putra bisa memiliki bangunan kelas yang dilengkapi asrama.

Ketika SLB Bakti Putra mulai dinaungi yayasan sejak 1983, Bambang menjadi Kepala Sekolah Yayasan Bakti Putra. Dia juga diangkat menjadi kepala sekolah negeri oleh pemerintah pada 1986. Dari awalnya hanya 12 anak berkebutuhan khusus yang bersekolah, kini SLB Bakti Putra menampung 57 siswa.

Namun, kesadaran orangtua di pedesaan untuk menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus ke SLB relatif masih rendah membuat Bambang tetap harus mendatangi rumah ke rumah. Ia juga berupaya menemukan anak-anak berkebutuhan khusus lewat sosialisasi ke dusun-dusun. Sosialisasi makin dia gencarkan, terutama menjelang tahun ajaran baru.

SLB lagi

Tahun 2005, Bambang mendampingi Jotham untuk perintisan SLB Suharjo Putra. Ia mengawal bagian terberat dari perintisan SLB, yakni meyakinkan warga dan mendapatkan izin dari pemerintah desa hingga dinas pendidikan.

Tak berhenti pada pendampingan perintisan SLB, Bambang ikut membidani lahirnya SLB Purworaharjo di Purwosari tahun 2006. Hal ini dilanjutkan dengan lahirnya SLB Krida Mulya di Rongkop.

”Saya sempat takut merintis SLB lagi karena tak mudah. Tetapi, saya tak bisa menolak panggilan itu karena, bagi saya, membantu anak-anak berkebutuhan khusus itu kental unsur kemanusiaannya,” katanya.

Selain mendampingi perintisan awal, Bambang turut memantau perkembangan sekaligus mengusahakan kemajuan setiap SLB. Hingga kini, dia masih memainkan peran sebagai Dewan Pembina di SLB Purworaharjo dan Seksi Pendidikan di SLB Krida Mulya.

Ia bercerita, kendala klasik yang dihadapi SLB di pedesaan adalah dana dan keterbatasan guru. Mayoritas guru SLB berstatus honorer. Bambang pun harus berjuang keras mencari peluang pendanaan tanpa ”menjual” kondisi anak-anak berkebutuhan khusus.

Karena itu, sering dia harus mengeluarkan uang dari kocek pribadi demi kelanjutan pendidikan para murid. Apalagi, pendidikan di semua SLB yang dibidani Bambang gratis. Untuk menutupi biaya operasional, ia mendapat bantuan dari para donatur, yang jumlahnya tak tetap.

”Saya ingin semua anak berkebutuhan khusus di Gunung Kidul bisa sekolah,” kata Bambang menunjukkan tekadnya.

Jumlah SLB di Gunung Kidul sekarang ada delapan, dua di antaranya berstatus negeri. Ini masih belum sepadan dibandingkan dengan banyaknya anak berkebutuhan khusus, yang berdasarkan data 2008 berjumlah 900 orang. ”Kami berharap anak berkebutuhan khusus bisa mendapatkan kedudukan yang sama dengan anak normal, biar mereka tak rendah diri,” kata Bambang sambil menambahkan, masih ada anak berkebutuhan khusus yang belum terdata.

Dia yakin, sama seperti anak lain, setiap anak berkebutuhan khusus pun punya potensi yang berbeda-beda. Bambang mencontohkan, salah satu anak didiknya yang tunanetra kini menjadi guru SLB. Siswanya yang lain berhasil menjadi juara lomba matematika tingkat nasional.

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/04532731/.bambang.dan.perintisan.slb