Tag Archives: Autism

Skrining Down Syndrome dengan Tes Darah Ibu

Selasa, 08 Maret 2011/11.30 WIB

Post by PSIBK

Kompas.com — Para ilmuwan di Eropa berhasil mendiagnosis kelainan down syndrome pada janin dengan cara memeriksa sampel darah ibu hamil. Metode ini diharapkan bisa menjadi pilihan tes berbiaya murah dibandingkan dengan metode deteksi yang kini dipakai.

Penelitian mengenai kesahihan tes darah untuk mendeteksi down syndrome ini sebenarnya sudah dilakukan beberapa kali. Dalam studi akhir ini, para ilmuwan mengatakan mereka bisa melihat titik spesifik down syndrome dalam DNA janin melalui contoh darah ibu.

Down syndrome (DS) merupakan kelainan genetik pada kromosom nomor 21, yaitu terdapat 23 kromosom atau disebut trisomi 21. Secara umum, anak DS mempunyai keterlambatan dalam tumbuh kembang. Deteksi kelainan DS saat ini dilakukan dengan pemeriksaan USG dan diperkuat dengan pengambilan cairan ketuban dalam jumlah kecil melalui dinding perut ibu hamil (amniosentesis).

Pemeriksaan melalui contoh darah diharapkan bisa memberikan diagnosa yang lebih akurat dan lebih cepat dibandingkan tes standar. Kelebihan lainnya adalah memperkecil risiko keguguran pada janin.

Walaupun saat ini metode tes darah tersebut belum tersedia secara komersial, sebuah perusahaan riset di Amerika Serikat menyatakan, tes ini mungkin bisa tersedia untuk umum tahun depan.

Sumber : kompas.com

 

Anak Autis : Pandanglah kami sebagai orang Normal…

Post by PSIBK USD

Tak sedikit pun kata keluar dari mulut Sue (28). Tatapannya semata terpaku pada tetesan air yang memenuhi sendok plastik kesayangannya. Ditumpahkannya dan kembali tetesan air kran yang mengalir di satu sudut rumahnya di Amerika Serikat ditadah lagi dengan sendok berwarna putih itu.

Cukup sering Sue sendirian melakukan hal itu. Baginya, aktivitas itu membuatnya tenang dan tenteram. Terkadang, Sue melanjutkannya dengan berdiri di depan pintu masuk rumahnya, meski tak jelas apa yang dilihat, dan bersandar setelahnya.

Ini adalah cuplikan film dokumenter yang berkisah tentang anak autis, digelar dalam orasi ilmiah bertajuk “Perspektif Positif dalam Memahami Autis” oleh Dr Adriana S Ginanjar, MS, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Selasa (3/3).Sue hanyalah salah satu dari sekian ratus anak autis di Amerika Serikat. Adapun jumlah anak autis di Indonesia, menurut Adriana, bertambah cukup pesat. Ini terlihat dari makin banyaknya pusat terapi yang menangani anak-anak autis, juga pembahasan di media massa, dan seminar-seminar. Sayangnya, belum ada data resmi dari pemerintah tentang jumlah anak autis.

“Di Amerika Serikat, sekitar satu dari 166 anak yang lahir tergolong anak autis. Nah, sayangnya pemerintah kita belum punya data jumlah anak autis seluruh Indonesia. Padahal ini diperlukan untuk memandang seberapa urgent hal ini harus mendapat perhatian agar anak autis tidak dimasukkan pada sekolah normal, seperti yang saat ini terjadi,” terang Adriana.

Lebih lanjut, Adriana memaparkan, faktanya sekolah-sekolah normal ternyata belum mampu menangani anak autis. Cara memasukkan anak autis ke sekolah normal memang memberikan kebanggaan si orangtua bahwa anaknya normal.

“Sementara di lain sisi tidak ada kesiapan dari pihak sekolah dalam menangani anak autis termasuk teman-temannya yang kerap memperlakukan si anak autis dengan cara berbeda,” terangnya.

Karena itu, menurut Adriana, perlu penanganan khusus terhadap anak autis. Memang, lanjut Adriana, menangani anak autis tidak mudah. Perlu ada kerja sama lebih baik dari guru dan orangtua yang berorientasi pada pengembangan diri dan menjauhkan anak dari bullying.

Orangtua perlu serius menemukan keunggulan anaknya melalui konsep multiple intelligence bahwa kecerdasan bisa beragam. Ada kecerdasan matematis, kinetik, matematis dan verbal. Setiap anak autis memiliki ciri khusus dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda.

“Ini adalah keunggulan anak autis yang layak dikembangkan,” terang ibu Atmazka Ginanjar yang juga menderita autis. Dengan demikian, tak heran cukup banyak anak yang menunjukkan kemampuan di bidangnya, seperti musik, seni, matematika, komputer, dan menggambar. Sebagian individu autis memiliki kemampuan luar biasa tanpa melalui proses belajar yang disebut savant, seperti mampu menghafal kamus ensiklopedia secara rinci.

“Sayangnya, penanganan anak autis di Indonesia cenderung menekankan pada kekurangan (defisit), bukan pada penggalian dan pengembangan potensi,” lanjut Adriana. Padahal, pengembangan potensi dapat digunakan sebagai kompensasi dari defisit yang ada.

Karena itu, cara terbaik memahami mereka adalah dengan berusaha mengenali mereka tanpa prasangka tertentu, apalagi membandingkan mereka dengan individu normal.

“Kita juga harus menggunakan perspektif holistik dan positif, yaitu memandang anak autis sebagai individu yang utuh dan memiiki potensi kreatif,” pungkasnya.

Kenali individu autis lebih dalam, hargai keunikan mereka, serta percaya bahwa mereka juga mampu berpikir dan mengembangkan diri, maka kita akan membantu mengembangkan individualitas dan potensi mereka secara optimal. Demikian penjelasan Adriana.

“Kita bisa saksikan individu autis yang sukses seperti Oscar Dompas-autis asal Indonesia yang sekarang menjadi pengusaha sekaligus penulis buku, Jasmine Lee O’Neil-penulis perempuan autis, Donna Williams-perempuan penulis autis,” ujarnya.

Jadi, kenali penderita Autis dengan cara berbeda. Adriana mengimbau, pandanglah bahwa mereka memiliki keunggulan tersendiri.

Sumber:

Mengendalikan Hasrat Biologis Si Autis

Post by PSIBK USD

Ajis, sebut saja begitu, gemar memegang buah dada perempuan. Semua guru perempuan di sekolah terapinya pernah dijamah oleh remaja autis berusia 14 tahun itu. Sang guru, Yanti, 28 tahun, bercerita, Ajis sering mendadak “mencaplok” dadanya dari belakang–ketika ia sedang mengajar.

“Kadang juga dari samping,” Yanti bercerita saat seminar autis di Graha Niaga, Jakarta, Sabtu lalu.Menurut Yanti, pemahaman Ajis sangat rendah mengenai perilaku seks. Ditambah, dia suka mengamuk saat dilarang, dan kembali memegang payudara jika didekati. Yanti mengajar di Miracle School & Therapy di Kedoya Raya, Jakarta Barat. Sudah satu tahun dia mengajar di sekolah inklusi itu. Dia kerap kesulitan menghadapi remaja dengan autistik yang berperilaku seperti Ajis.

Praktisi terapi perilaku, Dra Dini Oktaufik, melihat kemampuan prasyarat Ajis tampak belum terpenuhi. Pertama, soal kepatuhan yang belum bagus, ditambah perilakunya yang juga belum bagus. Dalam kasus ini, Dini menyarankan, pengajar memakai meja besar agar tangan anak tidak bisa meraih dada pengajarnya. Gunakan konsep token behavior–sebagai tanda penghargaan atas perilaku baik untuk anak autis. Misalnya, dijelaskan oleh Dini, buatlah visual reminder–tulisan “Tangan Baik”–yang diletakkan di atas mejanya. Berikan ke anak tugas sederhana. “Targetnya bukan tugas itu, melainkan untuk mengajari tangannya,” ujar psikolog dari Yayasan Intervention Service for Autism and Developmental Delay ini saat seminar.

Katakanlah, jika selama 30 detik tangannya tidak menjamah lagi dada si pengajar, beri kejutan kepadanya. Dini menyarankan untuk memberi makanan yang diletakkan di atas visual reminder tadi (tulisan “Tangan Baik”). Jadi si anak paham bahwa perilakunya itu baik.

Yang penting, jangan banyak menasihati secara verbal ke mereka. “Karena itu tidak diproses dalam otaknya. Autis lebih menyerap secara visual.”

Selanjutnya, setelah tangan sudah baik, boleh diganti mejanya dengan yang lebih kecil. Kalau dia kumat lagi, tangkis tangannya sampai tidak berhasil. Kalaupun berhasil menyentuh, yang disentuh tidak boleh heboh. Bisa jadi si anak belum tahu sensasi memegang payudara. Tapi dia lebih mencari sensasi reaksi orang yang disentuh. “Pastikan kita tidak memberikan sensasi yang dia cari,” tuturnya.

Lebih jauh, beberapa remaja dengan autistik doyan masturbasi. Memang, masturbasi adalah alamiah–sama seperti orang lapar. Meski dialihkan membaca buku, tetap rasa lapar datang juga. Sehingga pada waktu tertentu, menurut Dini, mereka butuh pelepasan. “Yang harus diajarkan adalah di mana boleh melakukan itu.” Misalnya, di kamar mandi di kala sendiri. “Sehingga mereka paham akan privasinya.”

Cerita unik juga dipaparkan oleh Nazila–pengajar anak berkebutuhan khusus di Jakarta–dalam seminar itu. Salah satu muridnya menjadikan masturbasi sebagai senjata untuk lari dari proses belajar. Remaja dengan autistik ini seperti mempelajari bahwa masturbasi bisa jadi pelarian dari terapi. “Mereka menganggap sudah lepas dari tugas, dapat yang asyik-asyik lagi di kamar mandi,” kata Dini.

Untuk perilaku yang satu ini, Dini menyarankan, sebaiknya anak dibebastugaskan dulu dari program matematika, baca, tulis, dan lain-lain. Beri tugas yang mudah, yang dia pernah kerjakan. Targetnya, menghentikan perilaku lari dari terapi dengan masturbasi. Berikan reward yang tepat dan menarik, sehingga dia lebih merasa mendapatkan reward dari terapis daripada diri sendiri dengan melakukan kegiatan seks tadi. “Lebih baik gunakan the power of reward daripada the power of punishment,” Dini menjelaskan.

Banyak contoh lain perilaku seks remaja dengan autistik, mulai kebiasaan memegang kemaluan hingga memperhatikan atau menyentuh bagian vital tubuh orang lain. Kebiasaan ini sering kali baru disadari oleh orang tua seiring dengan anak tumbuh dewasa. “Orang tua kadang baru sadar saat mereka (anak dengan autistik) melakukan hal itu di depan umum,” kata Dini.

Bahkan orang tua sering kali salah didik mengenai perilaku seks pada anak dengan autistik. Contoh, Dini pernah “disenggol” lututnya oleh remaja dengan autistik saat sedang berdiskusi dengan orang tua remaja itu. Dan yang dilakukan orang tua anak itu sungguh di luar dugaan Dini. “Mereka malah tertawa dan mengatakan ‘Aduh, jangan begitu dong, Mas’,” Dini bercerita.

Yang terjadi, tertawa itu malah membawa konsekuensi positif. Maka perilaku negatif si anak yang diganjar konsekuensi positif mengakibatkan perilaku negatif menjadi menetap. “Anak menjadi terbiasa seperti itu,” katanya.

Pendiri Masyarakat Peduli Autisme Indonesia, Gayatri Pamoedji, mengakui pendidikan seks untuk anak dengan autistik jarang dibicarakan, sehingga sejumlah remaja dengan autistik memiliki perilaku seks yang tidak baik.

Bisa jadi, menurut Gayatri, seks di Indonesia dianggap tabu atau tidak penting. Selain itu, orang tua lebih berfokus meningkatkan kemampuan anaknya di bidang akademik. “Padahal anak dengan autistik akan tumbuh dewasa,” tutur penulis buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme ini dalam kesempatan terpisah.

Sumber:

Korantempo.com

Pendidikan Seks untuk Anak Autis

Shutter Stock

Post by PSIBK USD

Kamis, 8 April 2010 | 11:35 WIB

Gangguan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berperilaku, yang dialami oleh anak-anak autis membuat kebanyakan orangtua lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bidang akademik lainnya.

Padahal, anak-anak berkebutuhan khusus juga akan berkembang menjadi seorang remaja, mengalami masa puber, dan tertarik pada hal-hal yang berbau seksualitas. Itu sebabnya anak-anak autis tetap perlu mendapatkan pendidikan seks sejak dini.

Sementara itu, kebanyakan orangtua sering kali menghindari diskusi masalah seks dengan anak autis. Padahal, seorang remaja autis tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengerti soal seks karena keterbatasan kemampuan motorik dan perilaku.

Itu sebabnya banyak anak autis punya masalah dalam hal seksualitas, misalnya kebiasaan memegang kemaluan atau menyentuh bagian privat tubuh orang lain.

“Masalah-masalah tersebut biasanya baru disadari orangtua saat sudah menjadi masalah besar, misalnya anak terbiasa melakukannya di tempat umum. Ini karena orangtua tidak mencermati atau mengabaikan perilaku seks anaknya,” ungkap Dra Dini Oktaufik, praktisi terapi perilaku.

Dini menuturkan, seorang anak autis juga bisa berkembang layaknya seorang anak normal, baik fisik maupun hormonal. “Mereka juga akan mengalami perkembangan seksual dan punya dorongan yang sama seperti remaja normal,” ungkapnya.

Perlu dilatih

Tidak mudah memang mengajarkan seksualitas kepada anak berkebutuhan khusus seperti anak autis. Namun, bila diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan dilakukan secara berulang-ulang, maa anak akan mengerti.

“Seks adalah sesuatu yang alamiah dan dorongan ini dimiliki semua manusia. Tak perlu kaget jika anak masturbasi karena itu dorongan naluri. Yang penting, ajarkan anak agar tidak melakukannya di sembarang tempat,” ungkap Dini di acara Tanya Jawab Autisme yang diadakan oleh Masyarakat Peduli Autis Indonesia (Mpati) di Jakarta, Sabtu (3/4/2010).

Dini menambahkan, sebelum mengajarkan hal-hal yang lebih rumit, seperti perubahan hormonal, yang pertama perlu dimiliki adalah kepatuhan anak. Misalnya, mengajari tentang penggunaan toilet, kebersihan badan, dan rasa malu.

“Anak juga perlu memahami privasi dan bagian-bagian tubuhnya sendiri. Apa yang tidak boleh dipandang ketika berbicara dengan orang lain, serta sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain,” paparnya. Untuk anak perempuan, ajarkan mengenai kebersihan saat menstruasi.

Sikap orangtua dan terapis terhadap seksualitas akan memengaruhi pemahaman anak terhadap seks. Untuk itu, Dini menyarankan agar pertama-tama orangtua dan terapis menghilangkan pikiran tabu mengenai seks. “Kita tidak cukup mengasuh anak, tapi juga harus mendidiknya menjadi individu yang mandiri,” katanya.

Sumber:

KOMPAS.com

Augmentative Communication and Social Skills

Post by PSIBK USD

Using Picture Symbols, Social Stories for Children With Autism

Karen Plumley

Children with autism may lack the necessary communication and social skills. Using pictures and symbols could improve language and social interaction at school.

Acquiring social skills and communication skills is a difficult challenge for children with an autism spectrum disorder. Many kids with autism are nonverbal or have trouble with speech and language, and will need to use augmentative and alternative communication (AAC) methods for communicating needs so that others to understand what they are saying.

Additionally, communication difficulties are not conducive to making friends. Even if a child with autism does have a good grasp of language, many social situations that occur in school or elsewhere can be unpredictable. When the unexpected happens, it is hard for children on the autism spectrum to know how to react appropriately and equally hard for them to understand others’ reactions.

Augmentative and Alternative Communication and Social Skills

Children who are autistic will need some intervention at school to make friendships and communicate their needs and wants. In the classroom, it will be beneficial to learn the Picture Exchange Communication System (PECS), or other meaningful picture communication symbols that may help a child with autism communicate effectively with peers and teachers. These symbols can be combined to help the child learn about language and social interaction in a more visual way.

Picture symbols will be particularly helpful for those children on the autism spectrum who are nonverbal. By pointing to a picture that shows milk and cookies, for example, the child can communicate that she is hungry. Also, by using the symbols written out on a communication board, teachers can create simple lessons and instructions, or communicate expectations for behavior in the classroom.

Social Stories for Autism

Social stories are used to demonstrate proper social skills and prepare a child for a new situation. They use a combination of words, pictures, and/or symbols, which can be looked at repeatedly, allowing extra processing time. Pictures are a very effective way to communicate with children that are autistic because they react so positively to visual stimuli. Pictures also provide that extra time to absorb information versus just audio or written instructions alone.

Appropriate social skills can also be demonstrated through a series of real pictures and cartoons. This type of social skills training will be helpful for children who have some verbal skills, but are starting to interact with others in a public setting. The concepts being taught should be very detailed in explaining how people behave in various situations. Once they are understood, children on the autism spectrum will need to put them into practice.

Boardmaker and Assistive Communication Software

Creating a communication board or social story with symbols that children with autism will understand can be a daunting and time consuming endeavor. Luckily, there is assistive software available that will help create social skills pictures, stories, and communication boards with pre-made, consistent symbols that kids with autism can be taught to recognize.

One of the most popular augmentative assistive communication software tools is called Boardmaker (by Mayer-Johnson). It is a communication intervention software program with sound, bright visuals, animation, and voice capabilities. It can be used in the classroom to create lessons, games, social stories, quizzes, and communication boards for a child that has autism or other communication disorders.

Autism is an extremely isolating disorder. Children with ASD will have a tough time with communication and social skills. These kids may benefit by receiving augmentative and alternative communication intervention from teachers, parents, and other supportive professionals. By using tools like Boardmaker to create communication boards, and by developing social stories with picture communication symbols, it may be possible to optimize a child’s ability to enjoy friendships and do better in school.

Sources:

Baker, Jed, Ph.D., The Social Skills Picture Book. TX: Future Horizons, Inc., 2001.

Music Therapy

Post by PSIBK, 9 Februari 2010

Music therapy is a therapeutic treatment with the use of music as the primarily non-verbal intervention. It is based predominantly on improvised music in which the children/clients can express themselves, become aware of their feelings and interact more easily.
Music therapy can help in areas including:

  • Autistic spectrum disorder
  • Communication disorders
  • Learning disabilities
  • Physical difficulties
  • Mental health problems
  • Emotional problems
  • Challenging behaviour
  • Palliative Care
  • Trauma]

What happens in a music therapy session?
Music is a powerful emotional medium, which has the power to touch everybody regardless of the nature of the disability or illness. In music therapy there is time for exploring, playing and listening to instruments with the support of a music therapist. It is interactive music which is spontaneously created by the child/client without any musical training or experience required. Accessible instruments such as tuned and untuned percussion are provided for them to play in the way and at the pace that suits their individual needs.

The therapist seeks to establish contact with the client in various ways such as through his/her music, vocal sounds, movement, words or facial expression. Over time it is likely that a trusting relationship will develop between the client and the music therapist. Through this established relationship, the client can experience and explore new ways of relating, leading to development and change.

What are the aims of music therapy?
The aims of music therapy are primarily non-musical and are determined by the needs of each individual.

Typically, they might include:

  • Increasing communication, interaction and self expression
  • Developing an awareness of self and others
  • Providing emotional support
  • Developing skills such as listening, sharing and turn-taking
  • Developing co-ordination and motor control
  • Increasing self confidence
  • Building trusting and meaningful relationships.

Music therapy thus contributes to a child’s/client’s overall development, enabling him or her to reach their full potential in all settings.

Where do the referrals come from?
Referrals for music therapy can be made by:

  • School Teacher/SENCO
  • Care worker, parents
  • Other relevant professionals (psychologist, speech therapist, etc.

The music therapist will then assess the suitability of the client for music therapy.

Music Therapy
Facts About Music Therapy:
Music therapy is a process in which the therapist uses music to help clients to improve or maintain their health. The client’s needs are either addressed directly through music or through the relationship that develops between the therapist and the client. This is used for individuals in all age groups.

It is applicable for a variety of health related problems such psychiatric disorders, physical handicaps, sensory impairments, developmental disabilities, substance abuse, communication disorders, interpersonal problems, and ageing. It can also used to improve learning, build self esteem, reduce stress, and facilitate many other health related activities.

This is an approach to help individuals with problematic behavior to make effective adjustments. Many imbalances found in normal people also can be set right with regular exposure to certain music notes. Music therapy is known to act on the mind much before it is converted into thought and feelings. It has two modes of presentation, passive and active. In the passive mode, the individual only listens to the music that is being played. In the active mode, the individual is made to participate.

Passive form is known to benefit all forms of ailments. It has found usage in improving concentration and memory, and to reduce stress and strain. It is helpful in health problems such as hypertension, and heart ailments. The active form is found to be useful in all neurological problems. It has found usage in helping children in speech problems, to improve speech fluency and in hyperactive children to reduce hyperactivity. Experimental studies have documented the effects of music therapy on quality of life, positive associations and socialization.


Music Therapy Critics

Music therapy is use of music by trained professionals to provide healing. The goal areas of music therapy include motor skills, interpersonal development, cognitive development, self awareness, and spiritual enhancement.

Music therapists are needed for cases such as individuals with special needs, to help with the elderly, and for physical rehabilitation of the stroke victims.

Music therapy is the skillful use of music and musical instruments to promote maintain and restore mental, physical, emotional, and spiritual health. Music has creative and emotional qualities. These qualities are being utilized by the therapist to provide an alternative or complementary form of treatment to the needy.

Music has been successful as a therapy for children with disabilities. It has been used with children of all ages. It plays an important role in developing, maintaining, and restoring physical functioning. Motor coordination can be improved through musical experiences. Eye and hand coordination can be improved through the use of instruments that require precision in physical motion.

The criticism leveled at music therapy is that there is not enough research done to account for the effectiveness of its usage. People who wish to utilize the services of the therapist would like to know how effective the therapy is. There is no answer to that. The answers are always vague because one can not quantify the results. People who are responsible for providing public funds need to be convinced how the therapy is going to work before they can decide in favor of utilizing these funds.

What Kind of Music Is Used In Music Therapy?

Music therapy is a systematic process as it is organized, methodical, and based on knowledge. This therapy proceeds in an orderly manner. It has to go through steps of assessment, treatment and evaluation.

The therapist has to prepare a plan for treatment after making proper assessment of the client’s needs.

The therapist has to select the types of music and musical experiences that will be most relevant to the client. There are basically four types of musical experiences: listening, recreating, composition and improvisation. The selection of music mostly depends on individual needs and tastes. There are three categories of patients; music-learned, music lovers, and non-musical. The type of music is to be chosen accordingly to meet the individual needs of the client.

It is believed that all individuals regardless of age and musical background have the basic capacity for musical expression and appreciation. This basic capacity is inherent and not based on training. The process of human development prepares every one to be music-maker and music-lover at the basic level. This basic capacity has the potential to learn to sing, play simple instruments, react to elements of music and remember music. Care is exercised to adapt music therapy experiences to the client’s capability.

Music therapy consists of experiences such as improvising, re-creating, composing and listening to music. Music listening is used for clients who need to be activated or soothed physically or emotionally. Composing music is used for clients who need to learn decision making and commitments. Playing instruments can help physically disabled clients to develop motor coordination. Re-creative experience is useful for clients to learn adaptive behavior and to master different role behaviors. Improvisation is needed for a client who needs to develop creativity, freedom of expression, and interpersonal skills. Therapist has to choose accordingly.

Some studies have suggested that slow orchestral music is beneficial. In general, music in which there is one beat per second with low tones and less percussion and brass is found to be more suitable.

What Kind of Music Is Used In Music Therapy? Strengths And Limitations Of Music Therapy

Music therapy provides many benefits to the patients who undergo this therapy. It is able to address a variety of client needs such as social, emotional, psychological, physiological, behavioral, communication and spiritual.

Like every therapy, there are strengths and limitations of music therapy.

The benefits that are likely to be available are as follows:

  • It will reduce isolation or withdrawal behavior and provide an engaging experience to improve socialization.
  • It will encourage exploring and expressing feelings and provide emotional support and music associated counseling.
  • It will improve word recall and stimulate long term memory skills.
  • It will improve motivation, increase self esteem, and provide an uplifting and enjoyable feeling.
  • It will reduce nausea, anxiety, pain and heart rate.
  • It will reduce restlessness and wandering, and promote appropriate behavior.
  • It will improve communication and self expression.

Music therapy is useful in the following conditions.

  • Depression
  • Difficulty in expressing thoughts, feelings and desires
  • Complex pain problems
  • Persistent nausea and vomiting
  • Anxiety, fear and confusion
  • Cultural and language difficulties

The drawbacks experienced with the music therapy are the following.

  • Some old forgotten feelings may resurface and this may increase depression instead of providing relief.
  • Music therapy is considered very expensive due to lack of general awareness.

Sumber:

http://www.warwickshire.gov.uk/Web/Corporate/Pages.nsf/Pages%20by%20Department/75BBEA89E3DF8E06802574BB0050DAF0

http://www.scumdoctor.com/alternative-medicine/music-therapy/