Tag Archives: anak berkebutuhan khusus

Mereka Bisa Tumbuh Membanggakan

Senin, 14 Maret 2011 / 11.00 WIB

Posts by PSIBK

Ahkel (2) bermain sambil menjalani terapi sensor integrasi di Sekolah Khusus Autistik Fajar Nugraha, Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (10/2).

Anak yang berkebutuhan khusus akan menapaki usia dewasa dengan membawa karakter khas yang membedakan mereka dengan sebayanya. Namun, mereka pun bisa menemukan dunia yang memberi ruang bagi minat dan bakatnya.

Jati (19) mencintai musik underground, dari jenis post-hard core hingga death metal, tetapi ia tidak akan pernah memakai celana jins berlubang. ”Saya suka yang rapi,” ujar mahasiswa Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, ini.

Bagi ayahnya, Jimmy (58), menyaksikan Jati tumbuh seperti saat ini sungguh membahagiakan dan melegakan.

Jimmy sudah amat bersyukur ketika putranya dapat merampungkan pendidikan sekolah menengah atas. Kian membuncah kebahagiaannya saat Jati dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bangku kuliah itu menjadi penting karena di situ Jati menemukan jalan mengembangkan minat dan bakatnya dalam editing film.

Masih jelas dalam ingatan Jimmy ketika putranya itu didiagnosa mengalami gangguan konsentrasi akibat attention deficit disorder (ADD) pada usia sekitar delapan tahun. Di kelas tiga sekolah dasar, Jimmy diminta memindahkan Jati dari sekolah karena gurunya mengaku tak sanggup lagi menangani Jati.

Di masa kanak-kanak, menurut Jimmy, Jati memang tampak hiperaktif, terkesan tak bisa diatur dan tak bisa diam sebentar pun. Setelah dikonsultasikan ke psikolog, Jati menjalani terapi dan pengobatan. Pada saat yang sama, ia meneruskan belajar di sekolah umum.

”SD-nya yang kedua bukan sekolah favorit, tetapi gurunya sangat baik dan bisa memahami kondisi Jati,” ujar Jimmy. Di SMP, Jati juga berganti sekolah untuk menemukan suasana belajar yang sesuai baginya.

Kini, di mata Jimmy, putranya itu telah tumbuh menjadi anak muda yang mampu mengembangkan minatnya sendiri, baik hati, dan luar biasa jujur.

Rasa syukur yang sama dirasakan Dyah Puspita menyaksikan putranya, Ikhsan Priatama (20). Ikhsan menyandang autisme dan ia tak bisa berbicara. Komunikasi dilakukan Ikhsan dengan mengetik SMS. Meski begitu, Ikhsan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, penuh rasa ingin tahu, mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaannya.

Simak saja cerita ketika Ikhsan membuka rekening tabungan atas namanya sendiri, hasil dari penjualan lukisannya dalam sebuah pameran.

Meski sempat terkendala karena sikap customer service yang kaku, Ikhsan menjalani semua proses membuka tabungan, termasuk menandatangani formulir dan buku tabungan.

Ia juga antusias mengikuti Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 lalu. Semua proses dilakukannya sendiri, termasuk ketika mencontreng di bilik suara. Ikhsan bahkan punya pilihan sendiri. Dyah Puspita atau Ita, sang ibu, yang mengikutinya di belakang hanya mendokumentasikan peristiwa itu.

”Pada hari pemilihan, dia sangat bersemangat. Sudah bangun dari pukul 04.00 pagi. Esoknya, tanda tinta di jari dia perlihatkan pada orang lain dengan bangga,” tutur Ita.

Ita pun lantas bercerita awal kisah Ikhsan memberikan suara dalam pilpres. Semula Ikhsan bertanya mengapa Ibu Ida, gurunya belajar di rumah, meminta izin tidak mengajar pada 8 Juli 2009, padahal tanggal itu bukan hari libur nasional.

Setelah sang guru bercerita tentang pemilu, tak dinyana Ikhsan meminta ikut serta. ”Saat itu saya berpendapat, saya tidak boleh mencabut haknya dia,” kata Ita.

Sebagai bekal pada hari pemilihan, beberapa hari sebelumnya Ikhsan diberi gambaran tentang cara mengikuti pemilu dan calon-calon presiden-wakil presiden yang bisa dipilih. ”Kami tidak mengarahkan dia untuk memilih pasangan tertentu. Tetapi ternyata, dia punya pilihan sendiri,” kata Ita.

Cerita tentang Ikhsan itu banyak pula dituangkan Ita dalam blog pribadinya http://dyahpuspita.wordpress.com.

Tak dikasihani

Ita yang juga seorang psikolog bekerja keras untuk mengasuh Ikhsan putra tunggalnya yang autistik itu sebisa mungkin mampu mengurus dirinya sendiri. ”Misalnya, anak usia tertentu harus sudah bisa apa. Saya berusaha menerapkan itu pada Ikhsan. Saya tidak suka anak autistik dibesarkan dengan cara selalu dikasihani,” kata Ita.

Ikhsan belajar di Sekolah Mandiga yang dikhususkan untuk anak autistik pada usia 9 tahun hingga 17 tahun. Setelah itu, Ita mendatangkan guru untuk mengajar di rumah. Saat ini, setiap hari Selasa hingga Kamis, masing-masing tiga jam, Ikhsan belajar bersama guru yang mendampinginya sejak usia 6 tahun. Pada hari Senin, Ikhsan mengikuti les piano dan melukis di hari Jumat, sesuai dengan minatnya.

Les piano dilakukan di tempat kursus. Sementara, dari melukis, sudah lima kali Ikhsan mengikuti pameran. Dan dari lima pameran itu, dua lukisannya terjual. ”Saya ingin suatu saat Ikhsan bisa menggelar pameran tunggal,” ujar Ita.

Ikhsan juga diperkenalkan pada dunia luar dengan program jalan-jalan setiap hari Sabtu bersama seorang teman yang berusia tujuh tahun lebih tua darinya.

”Dia sendiri yang meminta dicarikan seorang teman. Bilangnya ingin teman laki-laki dewasa. Setelah gurunya mencarikan, ada yang bersedia untuk mendampingi Ikhsan. Jalan-jalannya terserah Ikhsan maunya ke mana,” ujar Ita.

Ita juga mengajarkan pada Ikhsan untuk mengelola uang. Sejak usia 16 tahun Ikhsan diberi dompet dan diajari bertanggung jawab terhadap isi dompetnya. Selain tidak boros, Ita mengajari Ikhsan menggunakan uang sendiri untuk membeli kebutuhan dia. ”Jadi, kalau dia belanja, tidak boleh ada yang menalangi,” katanya.

Dari pengalaman mengasuh Ikhsan sekaligus mengelola Sekolah Mandiga, Ita juga kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan workshop seputar autisme. Menurutnya, anak autistik perlu dididik sedini mungkin untuk mandiri.

”Saat balita, anak diajarkan tentang kemandirian, misalnya makan sendiri, memakai baju, dan buang air kecil sendiri. Waktu sekolah, selain diajari baca tulis, carilah minatnya. Setelah itu, pada saat remaja, kembangkan minat ditambah lifeskill, misalnya kalau lapar enggak usah nangis, lebih baik cari tempat makan. Kalau mati lampu, tidak usah teriak-teriak, kan bisa telepon PLN lalu menunggu sampai lampu terang,” tutur Ita.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/03/13/04353186/mereka.bisa.tumbuh.membanggakan

Anak Saya Pernah Diludahi…

Senin, 14 Maret 2011 / 10.30 WIB

Posts by PSIBK

Yulia Sapthiani dan Nur Hidayati

Anak-anak yang berkesulitan belajar dapat tumbuh mandiri dengan pendidikan yang tepat. Masalahnya, mencari sekolah yang tepat untuk mereka bukan hal mudah.

Nina (42) langsung berhenti bekerja ketika anaknya, Vernell (14), didiagnosa mengalami hiperaktif (attention deficit hyperactive disorder/ADHD). Selama belajar di bangku kelas 1 hingga kelas 3 sekolah dasar, Nina turut duduk dalam kelas mendampingi putranya belajar. Nina terus menunggui Vernell di sekolah umum hingga putranya itu menamatkan SD, meskipun sejak kelas 4 ia hanya dibolehkan menunggui di luar kelas.

Nina harus menunggui Vernell karena dia tampak ”berbeda”. Anaknya itu rentan mengalami bullying (kekerasan) di sekolah umum tempat ia belajar.

Nina bukan satu-satunya ibu bekerja yang harus mengakhiri karier agar dapat sepenuhnya mendampingi sang anak yang berkesulitan belajar. Hal yang sama dilakukan Irma, Arini, Lina, dan Marlene. Bagi mereka, mengantar anak-anak mereka yang hiperaktif atau kesulitan konsentrasi ke sekolah umum setiap hari merupakan tugas berat.

”Tiap ke sekolah bawaannya stres karena ada tekanan dari pihak sekolah dan teman-temannya,” ujar Nina.

Di sekolah umum, para ibu ini tidak bisa mengharapkan anak-anak mereka dibimbing secara personal. Guru di situ tentunya harus membagi perhatian dengan cukup banyak anak yang ada dalam suatu kelas. Padahal, anak-anak ini membutuhkan perhatian khusus.

Kekhawatiran tentang pola pengajaran atau sistem pendidikan yang dirasa kurang sesuai di sekolah umum ini, masih ditambah dengan perlakuan anak-anak lain di sekolah, mulai dari ejekan hingga gangguan fisik.

”Dulu, setiap menunggu anak saya di sekolah, saya selalu berpikir, apalagi yang akan dikatakan teman-temannya pada Aninda. Setiap hari dia dikatai anak bodoh oleh teman-temannya,” kata Irma, tentang putrinya Aninda yang konsentrasinya sering terputus.

”Anak saya bahkan pernah diludahi orang,” ujar Arini. Joel (14), putranya yang pintar bermain musik, tergolong hiperaktif. Ia tidak bisa dibujuk mempelajari sesuatu yang tak diminatinya.

Tak jarang, para orangtua yang anaknya mengalami gangguan konsentrasi (attention deficit disorder/ADD) dan hiperaktif harus memindahkan anak mereka dari satu sekolah ke sekolah lain. Sebagian kemudian memindahkan anak mereka ke sekolah khusus untuk anak berkesulitan belajar. Sebagian, bahkan, bekerja sama membangun sendiri sekolah khusus untuk anak-anak berkesulitan belajar.

Mendirikan sekolah

Arini, Irma, dan sejumlah ibu lain yang mendirikan Sekolah Talenta misalnya, memulai sekolah dari obrolan di lapangan parkir SD Pantara. SD Pantara merupakan sekolah untuk anak berkesulitan belajar, tetapi belum menyediakan pendidikan lanjutan setingkat sekolah menengah pertama. Kekhawatiran para ibu ini muncul ketika anak-anak mereka duduk di kelas 5-6.

Dengan modal saweran dari para orangtua ini, Sekolah Talenta pun berdiri pada 2008. Kini sekolah yang mengkhususkan diri menangani anak berkesulitan belajar non-autistik ini sudah memiliki 13 guru, untuk mendampingi 15 murid. Dengan begitu, setiap murid mendapat penanganan individual yang memadai.

Kisah yang melatari berdirinya Sekolah Mandiga juga tak berbeda dengan Talenta. Sekolah yang dikhususkan untuk anak autistik ini didirikan oleh tiga ibu, Adriana Ginanjar, Dyah Puspita, dan Yuniar. Dua di antara mereka, yaitu Adriana dan Dyah, juga memiliki anak autistik.

Di Yogyakarta, perjuangan Muhammad Agus Hanafi (54) untuk memberikan pendidikan yang tepat bagi putranya yang juga penyandang autisme, Muhammad Aulia Fajar Nugraha (kini 24), menjadi ”berkah” pula bagi anak-anak autistik lainnya.

Pada tahun 1995, berbekal informasi dari Kedutaan Inggris, Agus menyewa dua pendidik khusus autistik, yaitu Sigruen dari Jerman dan Lieke dari Belanda. ”Waktu itu, saya harus membayar mereka Rp 27 juta per tahun. Biaya yang sangat mahal untuk saat itu,” kata Agus.

Setelah dua tahun berjalan, Agus menyadari bahwa masih banyak anak penyandang autisme lain yang belum mendapatkan pendidikan khusus seperti anaknya. ”Saya kemudian menyewa rumah di Seturan dan mulai mengumpulkan anak-anak autistik lainnya untuk ikut belajar bersama,” ungkapnya.

Sekolah Luar Biasa Autistik Fajar Nugraha pun kemudian berdiri pada 1997. Kini sekolah yang dibangun Agus Hanafi ini memiliki 13 pengajar untuk mengasuh maksimal 16 anak. (Aloysius B Kurniawan)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/03/13/05005692/anak.saya.pernah.diludahi…

Cinta Kami untuk Anak-anak Istimewa

Senin, 14 Maret 2011 / 10.30 WIB

Posts by PSIBK

Nur Hidayati dan Yulia Sapthiani

Anak-anak ini berkebutuhan khusus. Mereka memerlukan cara berbeda untuk belajar, bahkan untuk berkomunikasi. Mereka membutuhkan orangtua yang memahami, mencintai, dan tidak menyerah. Sebab, di balik segala masalah yang tampak, mereka adalah anak-anak yang istimewa. Ikhsan (20) hanya dapat ”berbicara” melalui SMS. Kepada ibunya, Dyah Puspita, ia mengirimkan SMS ini: ”Ikhsan love ibu”. Disambung SMS berikutnya: ”Love selamanya”. Ita—begitu sang ibu biasa dipanggil—tercekat membaca SMS-SMS ini.

Sebagai seorang psikolog, pengelola Sekolah Mandiga yang dikhususkan bagi anak autistik, dan terutama sebagai ibu dari anak autistik, Ita paham betul SMS itu gambaran perasaan terdalam. Sesuatu yang sangat sulit dan tidak lazim disampaikan seorang autistik. Jangankan menyampaikan, mengenali perasaan sendiri pun sesuatu yang sangat sulit bagi Ikhsan.

Sebelum Ikhsan bisa mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya, tak ringan perjuangan Ita untuk mendidik Ikhsan. Perjuangan yang disebut Dyah mesti dijalani dengan peluh, air mata, deraan emosi, sekaligus penuh rasa syukur.

Karakter dan kemampuan di antara sesama individu autistik beragam. Karena itu, psikolog dari Universitas Indonesia, Adriana Ginanjar, mengingatkan, setiap anak autistik membutuhkan penanganan individual untuk mengembangkan diri.

”Ada yang awalnya low functioning, tingkah lakunya belum tertata, melalui terapi bisa menjadi high functioning, lebih mampu mengurus dirinya sendiri,” ujar Adriana.

Meski berbeda karakter, terdapat tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai orangtua untuk memastikan sejak dini apakah anaknya mengalami autisme atau permasalahan lain, seperti gangguan konsentrasi dan hiperaktif (attention deficit disorder/ADD dan attention deficit hyperactive disorder/ ADHD).

Secara umum, terdapat panduan tentang perkembangan anak yang mesti diperhatikan orangtua, misalnya pada umur berapa bayi mulai merangkak, berdiri, lalu berjalan. Di samping itu, perlu diperhatikan pula perkembangan kognisi yang ditandai dengan kemampuan anak berkata-kata, memahami bahasa, dan berempati.

Keterlambatan berbicara yang disertai kurang berkembangnya pemahaman merupakan gejala yang mesti diwaspadai orangtua. ”Yang bahaya kalau anak enggak berbicara, harus menunjuk untuk minta sesuatu, tetapi orangtua mengira anaknya ngerti. Apalagi kalau anak sangat cuek, enggak ada kontak mata,” ujar Adriana.

Bukan kebetulan Adriana mendalami autisme sebagai studi doktoralnya pada 2004-2007. Ia juga ibu dari seorang autistik, Azka (17). Pengalaman pula yang membuat Adriana menekankan pentingnya permasalahan anak dideteksi dan ditangani sedini mungkin.

”Aku baru bisa terima kenyataan bahwa dia autis itu umurnya empat tahun, sudah terlambat. Selain informasi saat itu belum sebanyak sekarang, juga karena memang saya sempat menyangkal itu,” ujarnya.

Kini, menurut Adriana, putra sulungnya itu tetap berada dalam kategori autistik low functioning. Ia masih kerap kesulitan berkomunikasi. Sebagai seorang ibu, harapan Adriana kepada putranya tak muluk-muluk.

”Aku ingin dia lebih bisa mengekspresikan diri, berkomunikasi. Aku berharap dia cukup happy dan bisa manage tingkah lakunya. Jadi, kalau nanti orangtuanya enggak ada dan adiknya enggak bisa ngurus dia, dia bisa diterima tinggal di semacam asrama gitu. Kalau tingkah lakunya buruk, kan bisa-bisa dia enggak diterima,” ujar Adriana.

Menjadi berbeda

Beragam masalah tak serupa dialami anak-anak yang dikategorikan berkebutuhan khusus. Sebagian di antaranya, seperti para siswa Sekolah Talenta, sekilas tampak tak bermasalah. Padahal, hampir semua siswa di sekolah khusus untuk anak berkesulitan belajar ini pernah ”gagal” di sekolah umum.

Berkesulitan belajar sama sekali tak berarti mereka punya problem kecerdasan, bahkan tak sedikit yang IQ-nya di atas rata-rata. Kebanyakan siswa di Talenta didiagnosis mengalami ADD dan ADHD.

Ketika belajar di sekolah umum, anak-anak ini menjadi ”berbeda” di antara teman sebaya mereka. Sungguh bukan hal yang mudah. Aninda (15) yang didiagnosis ADD, misalnya, selalu ditunggui ibunya, Irma, di sekolah. Meski begitu, ia tetap sering menanggung sikap kasar (bully) teman-temannya.

”Waktu sekolah di SD umum, setiap hari Aninda bilang, ’aku bodoh, Ma’. Itu karena teman-temannya di sana mengatai dia begitu,” ujar Irma menuturkan pengalaman putrinya.

Label abnormal, nakal, bahkan gila pernah pula dilekatkan kepada Amanda (15). ”Setiap hari saya ke sekolah menemani Amanda sambil membawa sekotak pensil. Waktu itu tiap hari dia akan mengambili pensil teman-temannya,” ujar Marlene tentang putrinya yang hanya mau belajar lewat nyanyian atau cerita. Akhirnya, Amanda pun dipindahkan dari sekolah itu.

Lain lagi cerita Vernell (13) yang didiagnosis ADHD. Dia tak punya persoalan dengan materi akademik dan lolos memuaskan pada ujian nasional. Namun, Vernell hanya sanggup bertahan dua pekan di SMP umum sebelum akhirnya pindah ke Talenta.

”Dulu setiap ke sekolah, bawaannya stres. Ada tekanan dari sekolah dan teman-temannya,” ujar Nina (42), sang ibu yang selalu menungguinya di sekolah.

Vernell berminat pada—dan karenanya sangat hafal—data sejarah, geografi, dan demografi Amerika Serikat. ”Kalau lagi marah, dia bilang mau pulang ke Amerika,” ujar Nina. Padahal, Vernell belum pernah ke sana.

Kini Amanda dan Vernell sama-sama bersekolah di Talenta meski berbeda kelas. Seperti wajarnya anak usia remaja, keduanya saling menunjukkan ketertarikan. Setiap tiba di sekolah, hal pertama yang dilakukan Amanda adalah mencari Vernell, begitu pun sebaliknya. Mereka hanya saling melihat, menyapa, baru kemudian menjalani pelajaran di kelas masing-masing dengan baik-baik saja.

Untuk memastikan anak berkebutuhan khusus memperoleh sekolah, terapi, dan penanganan tepat yang mereka butuhkan, orangtua kerap harus berjuang, bahkan hingga membangun sekolah dan komunitas. Namun, tak ada usaha berlandaskan cinta yang akan sia-sia.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/03/13/0356289/cinta.kami.untuk.anak-anak.istimewa

Jebakan “Shopping Therapy” pada Penyandang Autisme

Jumat, 11 Maret 2011 / 10.30 WIB

Posts by PSIBK

Minggu, 6 Februari 2011

Mempunyai seorang anak autistik tak ubahnya seperti menghadapi kerang besar yang menyimpan mutiara indah di dalamnya. Cangkang kerang yang keras dan tertutup rapat itu mesti dibuka pelan-pelan dengan usaha yang besar.

Begitulah presenter M Farhan (41) menggambarkan perasaannya sebagai ayah Ridzky (11), putra sulungnya yang terdeteksi autistik. ”Karena usaha kita dahsyat, begitu cangkang itu terbuka sedikit saja, rasanya luar biasa,” ujar ayah dua anak yang juga kondang sebagai penyiar radio itu.

Ridzky mulai mendapat terapi sejak usia 18 bulan dan mengucapkan kata pertamanya, ”ayah”, pada usia 4 tahun. Walau lebih dekat dengan sang ibu, kata ”ibu” baru bisa diucapkan belakangan karena memang kata itu lebih sulit dilafalkan.

Memiliki anak autistik, diakui Farhan, merupakan masalah sekaligus berkah. Masalah, karena bukan hal mudah membuat anak autistik dapat beradaptasi dengan dunia yang ada—bukan dunia dalam benaknya sendiri.

Namun, mendampingi mereka tumbuh dan berkembang juga tak ubahnya mengalami keajaiban berkali-kali. Itu yang dirasakan Farhan, misalnya, ketika tiba-tiba Ridzky menyanyikan ”Beyond the Sea”, lagu tema film Finding Nemo yang ia gemari.

”Lebih dahsyat lagi ketika melihat bagaimana Ridzky berinteraksi dengan Bisma, adiknya yang tidak autistik,” ujarnya.

Keajaiban

Autisme merupakan salah satu hal yang menyebabkan seorang anak dikategorikan berkebutuhan khusus. Anak yang mengalami kesulitan belajar, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), hingga tunarungu atau tunagrahita juga digolongkan sebagai anak berkebutuhan khusus.

”Keajaiban” seperti yang dirasakan Farhan ini tergambar dalam acara temu anak spesial yang diselenggarakan Yayasan Peduli Anak Spesial dan Harry Darsono Foundation di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (5/2).

Dalam acara ini, anak-anak yang semula tersisih, dianggap bodoh, bahkan dipandang cacat, karena mereka berkesulitan belajar menampilkan bakat dan kemampuan yang luar biasa.

Kesulitan mereka untuk belajar sama sekali bukan disebabkan tingkat kecerdasan yang rendah. Marie Fauzan (13) yang kini duduk di bangku kelas I sebuah SMP di pinggiran Jakarta, misalnya, sudah lima kali dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya. Padahal, IQ-nya mencapai 120 atau di atas rata-rata.

Anak-anak ini berbeda dan berkebutuhan khusus, tetapi mereka juga kaya akan potensi. Brandon (9) yang kata ibunya sangat bandel, misalnya, bisa membaca buku atau majalah dalam bahasa apa pun dengan mata tertutup kain tebal. ”Membaca” dengan rabaan tangan itu merupakan salah satu kemampuan Brandon yang juga sering disebut sebagai anak indigo.

Brandon pula yang mencengangkan para undangan di acara temu anak spesial ini dengan ceramahnya dalam dua bahasa tanpa teks.

”Apa teman-teman pernah membayangkan apa jadinya kalau alam semesta dan semua yang ada di dalamnya hanya berwarna merah? Tentu tidak indah. Pelangi saja punya banyak warna, musik punya banyak nada, jari-jari kita pun tidak sama. Kami juga berbeda, tetapi kami punya banyak bakat,” ujarnya.

Penampilan Young Boys juga tak kalah mengagumkan. Empat remaja: Andreas, Kenan, Yongki, dan Clyde, yang bergabung dalam kelompok ini bukan sekadar pemain piano, mereka juga komposer dan arranger. Mereka bukan hanya berprestasi di ajang nasional, melainkan juga mengukir prestasi hingga ke luar negeri.

Di Gedung Bentara, keempat remaja ini memainkan dua piano yang ditata saling membelakangi. Lantunan lagu klasik hingga tradisional Jawa disajikan dengan sangat atraktif. Misalnya, mereka memainkan tuts piano sambil bertukar posisi, bahkan sambil berdiri dengan masing-masing tangan memencet tuts di piano berbeda.

Jalan untuk menemukan dan mengasah mutiara memang tidak pernah mudah. Selalu ada kekhawatiran membayangi orangtua ketika anaknya dikategorikan berkebutuhan khusus.

Aji yang mempunyai dua anak berkebutuhan khusus, misalnya, tak luput dari kesedihan ketika kedua anaknya didiagnosis begitu. Namun, ia menyadari Tuhan tak salah mengamanatkan dua anak istimewa itu kepadanya.

”Dua bintang kan pangkat yang lebih tinggi dari satu bintang,” ujarnya berkelakar.

Kata Harry Darsono, doktor dan perancang adibusana yang serba bisa, yang sempat belasan tahun menjalani terapi sebagai pengidap ADHD, ketakutan ini mesti ditepis dengan keyakinan. Tuhan pasti memberikan kemampuan kepada anak-anak istimewa ini untuk menemukan jalan mereka sendiri menuju kemandirian.

Nur Hidayati

Sumber : http://health.kompas.com/index.php/read/2011/02/06/13153172/Mencari.Mutiara.di.Balik.Cangkang

Katharina Soehardi : Untuk Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Jumat, 17 Desember 2010 / 11.00 WIB

Posts by PSIBK

KOMPAS.com – Perjalanan hidup Katharina Soehardi relatif unik. Semua yang dia kerjakan bisa dikatakan tanpa direncanakan sebelumnya, tetapi dilaksanakan dengan penuh dedikasi, pengorbanan, dan rasa syukur. Dia bertekad melakukan pengabdian sosial demi masa depan anak bangsa sampai akhir hidupnya.

Belakangan ini Katharina mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Sebanyak 26 anak berkebutuhan khusus ditampung di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma di Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Selain itu, masih ada 78 ABK lainnya yang berada di rumah keluarga masing-masing dan secara rutin dikunjungi Katharina.

Ketika ditemui di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma, November lalu, biarawati Katolik ini terlihat sangat sibuk. Ada banyak tugas menanti Katharina, seperti mencuci pakaian 26 anak panti, menyediakan makanan, menyetrika pakaian mereka, mengepel lantai, merawat tanaman di halaman panti, sampai membuat tahu dan tempe yang akan dijual anak asuhannya. Meski dibantu dua rekan biarawati dan delapan tenaga pendamping yang direkrut dari warga sekitar lokasi panti, mengatasi 26 anak dengan berbagai jenis kebutuhan khusus yang berbeda-beda bukanlah pekerjaan mudah.

Salah satu peristiwa yang sering terjadi adalah kunci-kunci kamar panti hilang mendadak, gagang pintu patah, atau kursi-kursi dan mainan anak-anak berserakan. Sarana dan fasilitas itu dirusak oleh anak-anak saat mereka sedang marah.

”Beginilah rutinitas kehidupan kami. Setiap kali kami merapikan ruangan, sebentar lagi berantakan di mana-mana. Meski sebagian dari mereka sudah berusia 13 tahun, masih membutuhkan waktu untuk proses penyadaran,” cerita Katharina.

Perempuan asal Blitar, Jawa Timur, ini menuturkan, semula dia tidak paham mengenai panggilan hidupnya. Pada 1980, Katharina tiba-tiba ingin bergabung dengan biarawati Katolik. Padahal, orangtua dan sanak keluarga Katharina menganut kepercayaan lain.

Setelah bergabung dalam biara induk Alma di Malang, dia lalu dipercaya merekrut remaja di Sumba untuk masuk Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang. Saat itu, perguruan tinggi yang mendidik guru agama Katolik tersebut kesulitan mendapatkan mahasiswa baru.

”Ternyata, di lapangan saya menemukan banyak anak-anak berkebutuhan khusus. Kenyataan ini lalu saya sampaikan kepada pimpinan biara di Malang. Akhirnya panti asuhan ini hadir (di Sumba) pada 1998,” katanya.

Katharina kemudian berjalan dari satu kampung ke kampung lain untuk mencari anak berkebutuhan khusus. Dia juga memberikan informasi melalui gereja setempat mengenai perawatan ABK di panti asuhan itu. Banyak anak berkebutuhan khusus ditemukan Katharina, sebagian lagi diantar langsung oleh orangtua mereka. Umumnya mereka berasal dari keluarga tak mampu. Jika anak-anak ini dibiarkan bersama orangtua masing-masing, mereka tidak akan tertolong.

Sampai 2010, yayasan itu sudah merawat 157 anak. Sebagian di antaranya sekarang sudah mandiri (berkeluarga), kembali kepada orangtua, bekerja di sejumlah yayasan, dan sebagian lagi sedang kuliah. Semua kegiatan mereka ditanggung Yayasan Bhakti Luhur Alma dan para donatur. Yayasan yang berkantor pusat di Malang ini berupaya agar para ABK bisa hidup mandiri.

Di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma, anak-anak itu diajari menjual tahu dan tempe, menjaga kios panti yang menyediakan berbagai bahan kebutuhan pokok, dan memelihara ternak. Menurut Katharina, sebenarnya lebih banyak lagi ABK yang perlu ditampung di panti. Namun, karena keterbatasan ruangan, tenaga, dan biaya, anak-anak berkebutuhan khusus itu terpaksa tetap tinggal di rumah bersama keluarga mereka.

Diarahkan untuk mandiri

Katharina mempelajari, menganalisis bakat, kemampuan, dan keterampilan dari setiap ABK. Anak-anak berkebutuhan khusus yang cukup cerdas didorong untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Sedangkan mereka yang kemampuan intelektualnya sedang, diarahkan belajar di sekolah menengah kejuruan dan mereka yang tidak mampu diberikan pendidikan nonformal.

Anak-anak itu mengikuti pendidikan sampai tingkat menengah pertama di Waikabubak. Untuk pendidikan tingkat menengah atas, biasanya mereka lanjutkan di Malang.

Selain mengurus anak-anak di panti dan mereka yang berada di rumah orangtua masing-masing, Katharina juga mengumpulkan anak-anak yang menderita bibir sumbing, hydrocephalus (pembesaran kepala akibat penumpukan cairan), serta bayi yang tidak memiliki dubur (atresia ani) di berbagai desa. Dia mengupayakan agar mereka bisa menjalani operasi untuk mengatasi penderitaannya.

Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, pemerintah memberikan bantuan melalui panti berupa makanan tambahan, alat keterampilan, dan ternak. Namun, bantuan para donatur belum mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan para ABK.

”Bayangkan, untuk satu anak di tingkat SMP dan SMA kami harus mengeluarkan biaya Rp 5 juta-Rp 20 juta per tahun. Kalau ada 26 anak di panti dan 78 anak di luar panti, biaya yang harus kami tanggung menjadi cukup besar. Meski demikian, kami tetap melayani dengan senang hati,” kata Katharina.

Untuk itu, anak-anak selalu diajari hidup sederhana dan menghargai setiap pemberian dari pengasuh. Mereka tidak memiliki telepon seluler, tidak dibekali uang jajan, dan harus menjaga dengan cermat semua fasilitas yang diberikan.

Katharina menuturkan, banyak masalah menimpa anak-anak di desa-desa terpencil. Orangtua mereka pasrah atas kondisi anaknya. Mereka tidak mempunyai kemampuan finansial untuk mengobati sang anak dan tidak mempunyai keterampilan merawat agar anaknya bisa mandiri.

Di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma, anak-anak itu dididik untuk mandiri dan bersatu sebagai saudara. Tidak ada pembedaan anak berdasarkan suku, agama, ataupun golongan tertentu. Anak-anak makan satu meja dan tidur satu kamar dengan para suster pendamping.

Menurut Katharina, pembentukan mental, watak, dan karakter mereka harus mendapat perhatian. Dengan demikian, di mana pun mereka berada, anak-anak itu akan mampu menempatkan diri dengan baik.

 

sumber : kompas.com

Penyandang Cacat Jalan Sehat

Rabu, 08 Desember 2010 / 10.30 WIB

posts by PSIBK

Kupang (6 Desember 2010) – Dalam rangka memperingati hari penyandang cacat se-dunia dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tahun 2010 maka Forum Komunikasi Keluarga Penyandang Cacat Anak (FK-KDPCA) Provinsi NTT, Dinas Sosial Priv NTT bekerjasama dengan beberapa lembaga donatur internasional seperti ECHO, MOFA, Irish Aid menyelenggarakan beberapa kegiatan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap para penyandang cacat.

Jumat(3/12), ratusan penyandang cacat dipastikan akan jalan santai dengan mengambil star  dari depan kantor gubernur  dan finis di alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT. Kegiatan ini akan dilepas  Ny, Lusia Adinda Lebu Raya, istri Gubernur Frans Lebu Raya.

Kamis (2/12) kemarin dalam jumpa pers yang dihadiri Kepala Dinas Sosial NTT, Pieter Manuk, Ketua FK-KDPCA NTT, Beny Djahang serta Alfred Atidja dari Handicap Internasional.

Kadis Sosial NTT, Pieter Manuk  saat jumpa pers yang digelar di ruang kerjanya, Kamis mengatakan, dalam rangka hari penyandang cacat se-dunia dan HKSN, maka di tingkat Provinsi NTT akan digelar aneka kegiatan hiburan, kegiatan pelayanan social, pemberian santunan serta lomba kebersihan ruangan kerja di tingkatan Dinas Sosial NTT.

“Berbagai kegiatan yang akan digelar seperti jalan santai, pemberian bingkisan untuk para lansia dan penyandang cacat merupakan suatu bentuk perhatian serta rasa persaudaraan sebagai sesama manusia sekaligus masyarakat “, ujar  Pieter Manuk.

Sementara FK-KDPCA NTT  Beny Djahang mengatakan, sekira 500-an lebih penyandang cacat akan meriahkan jalan sehat, hari ini.  “Forum ini sangat peduli dengan masalah penyandang cacat di NTT. Kiranya kegiatan yang digelar ini adalah sebagai sebuah bentuk ungkapan rasa persaudaraan serta kesetiakawanan social”, ujar  FK- Beny Djahang.

Sumber : www.kotalayakanak.org

Anak-anak Tuna Grahita Butuh Bantuan

Senin, 15 November 2010 / 12.30 WIB

Posts by PSIBK

Sleman: Sudah lebih dari sepekan, sekitar seratus anak tuna grahita dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Panti Asih, Kecamatan Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ditampung di Seminari Angin Mamiri di Jalan Kaliurang. Dan hingga kini, bantuan pemerintah belum menyentuh mereka.

Untuk hidup sehari-hari, para penyandang cacat ini hanya mengandalkan bantuan para relawan dan pengelola seminari. Padahal lokasi penampungan Angin Mamiri berada di wilayah kota yang tak sulit diakses. Memang tak mudah mengurus anak-anak berkebutuhan khusus ini, apalagi di lokasi pengungsian. Sehari-hari, para relawan mengajari mereka menggambar dan mewarnai.

Aktivitas mereka berubah sejak sekolah mereka di Desa Hargobinangun masuk zona bahaya Merapi. Anak-anak berpindah-pindah lokasi pengungsian sebelum akhirnya ditampung di seminari.

 

Sumber : Liputan6.com

Siswa SLB pun Diberi Pendidikan Seks

Rabu, 29 September 2010 / 13.00 WIB

Posts by PSIBK

JAKARTA, KOMPAS.com – Keterbatasan para siswa tunanetra dan tunarungu dalam mengenal alat reproduksinya membuat mereka seringkali mendapatkan informasi yang salah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Guna menjawab kebutuhan tersebut, Kementrian Pendidikan Nasional meresmikan Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi (Kespro) Remaja Tunarungu dan Tunanetra, Rabu (29/09/10).

“Setiap orang memiliki hak yang sama dalam hal pendidikan, kesehatan dan hal-hal yang mendasar pada diri setiap orang. Karena itu, pemerintah memiliki kewajiban dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada anak-anak berkebutuhan khusus,” kata Menteri Pendidikan RI Mohammad Nuh.

Program edukasi bertajuk KESPRO ini adalah modul pendidikan kesehatan reproduksi interaktif dan berbasis teknologi informasi dan komputer yang ditunjukkan untuk siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Sekolah Luar Biasa (SLB) A (Tunanetra) dan B (Tunarungu).

Hal ini berkaitan dengan pemerintah Indonesia yang berkomitmen dan mengikat diri dalam perjanjian internasional atas pengakuan hak anak, hak kesehatan reproduksi  melalui ratifikasi Konvensi Hak Anak (Kepres Nomor 36 tahun 1990) serta Komitmen Internasional ICPD 1994 di Kairo

Media pembelajaran dikembangkan bagi program “MAJU dan LANGKAH PASTIKU”  ialah modul cetak dan Braille, modul training untuk Guru dan Master trainer, boneka kesehatan reproduksi, celemek kesehatan reproduksi, kamus isyarat kesehatan reproduksi berbentuk CD film dan cetak

Dalam program yang mulai diberlakukan 1 September ini , sebanyak 126 guru yang terdiri  dari 67 guru  untuk siswa tunarungu dan tunanetra telah dilatih  agar mampu mengajar pendidikan kesehtan reproduksi.

Di samping itu sebanyak 12 guru  untuk siswa tunanetra dan 12 guru untuk siswa tunarungu terpilih serta 5 orang staf Direktorat pembinaan SLB telah dilatih menjadi Master trainer Pendidikan Kesehatan Reproduksi.

Menteri pendidikan juga berharap kerja sama dari pihak sekolah, di mana wujud kerja samanya ialah memberikan penyuluhan. “Seperti gudience conseling, dalam hal ini bekerja sama dengan menteri kesehatan,” kata Mohammad Nuh.

“Dan juga mengembangkan media media yang sejalan sehingga anak-anak berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat menangkap pendidikan kesehatan reproduksi,” tandas Mohammad Nuh.

Dana Hibah Kewirausahaan: PJI Terapkan “Perusahaan Siswa” SLB

Jumat, 24 September 2010 / 12.45WIB

Posts by PSIBK

Indonesia melalui Prestasi Junior Indonesia (PJI) mengirimkan proposal kewirausahaan yang isinya menunjukkan inovasi dan semangat kewirausahaan melalui program kewirausahaan bagi siswa-siswi tuna rungu di SMA Luar Biasa Santi Rama, Jakarta. Proposal itu kemudian memenangkan MetLife Foundation Entrepreneurial Award 2010 beserta dana hibah sebesar 25.000 dollar.

“Dari dana hibah dan proposal itu akan diterapkan program serupa di lima sekolah SLB lain, dua sekolah di Jakarta dan tiga sekolah di Jawa yang meliputi Surabaya, Mojekerto, dan Sidoarjo,” ujar Program Manager Metlife Foundation, Vitis Rakhmawati, Kamis (23/9/2010), di Jakarta.

Vitis menambahkan, topik yang diambil adalah wirausaha karena menjadi kegiatan yang paling banyak mendapatkan dampak postif bagi masyarakat. “Setelah proposal itu diterapkan di 5 Sekolah SLB, kemudian kami bekerja sama dengan guru setempat menjalankan program perusahaan siswa,” ujar Vitis kepada Kompas.com.

Di perusahaan siswa atau student company tersebut, kata dia, siswa diajarkan membuat perusahaan, menjual saham, membuat laporan, dan lain-lainnya. Program ini akan dijalankan selama dua semester atau kurang lebih satu tahun.

“Setelah berdiri perusahaan siswa, dari 5 sekolah SLB itu akan dilombakan kembali, dan dipilih mana perusahaan siswa terbaik,” ujar Vitis lebih lanjut.

Sumber : kompas.com

Program “Harmony Dissable In Able Art” Gamelan Aid Jepang, Komitmen Revitalisasi Seni Budaya itu Pascagempa Itu Tetap Berjalan

Jumat, 17 September 2010 / 12.00 WIB

Posts by PSIBK USD

Gempa bumi di DIY pada 2006 lalu, membuat banyak warga masyarakat Jepang  khawatir akan nasib kesenian dan kebudayaan yang ada di Yogyakarta turut rusak. Maka para pecinta kesenian dan kebudayaan Jawa di Jepang membuat komunitas serta mencari bantuan kepada donatur untuk  memperbaiki kesenian dan kebudayaan yang rusak akibat gempa.

Maka sejak tahun 2006 itu, muncul komunitas Gamelan Aid yang beranggotakan generasi tua dan generasi muda Jepang yang begitu mencintai gamelan Indonesia, yang bekerja mencari donatur untuk memperbaiki gamelan di Yogyakarta yang rusak akibat gempa.

“Waktu itu, Pak Shin Nakamura sangat khawatir sekali karena gempa di Yogyakarta itu juga akan merusak gamelan yang ada di Yogyakarta, maka beliau membentuk komunitas Gamelan Aid dan mencari donatur yang donasinya digunakan untuk memperbaiki gamelan yang rusak akibat gempa,” cerita Shin Sakuma, anggota Gamelan Aid di Pascasarjana ISI Yogyakarta, Sabtu (31/7)

Maka dimulailah progam revitalisasi seni-budaya pascagempa Yogyakarta 2006 oleh Gamelan-Aid. Tahun pertama fokus kerja komunitas Gamelan-Aid ini adalah datang ke Yogyakarta dan memberi bantuan untuk memperbaiki gamelan yang rusak.

Kini, program revitalisasi seni-budaya yang diselenggarakan Gamelan-Aid masih berjalan. Menginjak tahun ke empat ini, fokus kerja seni-budaya mereka bergeser tidak lagi pada perbaikan gamelan yang rusak akibat gempa tapi menyelenggarakan pertukaran seni budaya antara Jepang dan Indonesia.

Yogyakarta  (Indonesia) dan Osaka (Jepang) akhirnya mempunyai hubungan yang dekat karena dalam dua tahun terakhir terlibat dalam pertukaran seni budaya dengan saling mengunjungi daerah satu sama lain. Mengapa Osaka? Karena anggota komunitas Gamelan Aid banyak berasal dari Osaka University

Tahun ke empat, tahun 2010 ini, program kerjasama revitalisasi seni dan budaya pascagempa Yogyakarta 2006 ini kembali hadir dengan fokus kerja seni dan budaya yang tak kalah menarik baik dari sisi praktis maupun humanisnya.

Melalui kegiatan kesenian yang bertema “Harmoni. Dissable In Able Art” komunitas Gamelan Aid mendekati anak-anak berkemampuan khusus untuk diajak melakukan workshop kesenian dalam rupa penciptaan musik kreatif.

Secara praktis, gamelan Aid tidak melupakan misi fokus dalam kesenian dan kebudayaan. Dalam aspek humanisnya, Gamelan Aid merangkul siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk berkreasi menciptakan kesenian. Ketika gempa sudah tidak lagi persoalan maka sisi humanisme Gamelan Aid hadir dalam bentuk bekerjasama dengan anak-anak berkemampuan khusus ini. Sangat mengagumkan.

Maka sejak Senin (27/7) hingga Kamis (30/7) komunitas Gamelan Aid melakukan workshop penciptaan musik kreatif dengan siswa-siswi SLB N III Yogyakarta yang berada di Jalan Wates.Di tempat ini, mereka berinteraksi dengan anak-anak tuna rungu, tuna grahita dan anak down syndrome menciptakan musik.

Shin Sakuma, dalam pembukaan pameran seni rupa Harmony Dissable In Able Art, Sabtu (31/7) malam di Auditorium Pascasarjana ISI Yogyakarta mengatakan anak-anak yang berkemampuan khusus yang diajak workshop oleh Gamelan Aid memang mempunyai kekurangan dalam tubuh mereka, namun anak-anak ini sangat tajam dalam mengekspresikan rasa seni mereka.

Kegiatan sebenarnya mempunyai keterkaitan yang besar dengan anak-anak berkemampuan khusus seperti itu (siswa SLB) yang walaupun mempunyai kesulitan mendengar, berkomunikasi dengan bahasa tapi mempunyai kemapanan berekspresi yang media masing-masing,” kata pria jepang yang lancar berbahasa Indonesia ini.

“Besok (Minggu) kita bisa menyaksikan beberapa kelompok siswa-siswa SLB melakukan pertunjukan musik yang sangat alternatif dan berbeda,” kata Shin Sakuma menerangkan tentang pelaksanaan Festival Musik Kreatif Anak yang akan dilakukan oleh siswa-siswi SLB NIII  Yogyakarta pada Minggu (1/8) ini.

Sebagai pihak yang diajak bekerjasama oleh Gamelan Aid, tentu saja Pascasarjana ISI Yogyakarta menyambut positif dan antusias. Tidak hanya dengan kata-kata yang diplomatis saja namun Pascasarjana ISI Yogyakarta memberikan tempat pementasan

Pembantu Rektor I ISI Yogyakarta Prof. Drs Hermin Kusumaryanti mengucapkan rasa terima kasihnya dan memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas kerja-kerja seni yang dilakukan komunitas Gamelan Aid.

“ISI Yogyakarta memberikan apresiasi setinggi-tingginya (kepada Gamelan Aid) yang terlibat untuk bekerjasama dengan anak-anak berkebuthan khusus. Seringkali anak-anak berkebutuhan khusus dilalaikan padahal anak-anak dengan kemampuan khusus ini juga mampu berekspresi dalam bidang seni.

“Semoga terus berkelanjutan. Terima kasih atas kegiatan yang sangat bermakna dan sangat manusiawi ini,” kata Hermin Kusumaryanti.

Selain melakukan workshop penciptaan seni musik dengan anak-anak berkemampuan khusus, seniman-seniman yang tergabung dalam Gamelan Aid juga melakukan pameran seni rupa dalam bentuk pertunjukan seni (performing art).

Seniman-seniman dari Jepang ini hadir di Yogyakarta dengan langsung dipimpin (yang kehadiran ketua Gamelan Aid Shin Nakamura. Selain Shin Sakuma, juga ada Ikegami Sumiko, Kawamoto Akinori dan Inukai Miyaki dan beberapa staf Gamelan Aid.

Dalama performing art yang dipentaskan, seniman-seniman Jepang yang sudah mempunyai pengalama internasional ini berkolaborasi dengan seniman-seniman dari Yogyakarta seperti Hendra Himawan, Romy Setiawan, Nurul Hayat (Acil), Theresia Agustina Sitompul, Dedy Sufriadi dan Septa Miyosa.

Shin Sakamura pada performing art di Sabtu(31/7) malam itu menghadirkan seni tari kontemporer ciptaannya sendiri yang secara spontan merespon performance art yang sudah dilakukan dua temannya diawal.

Dua teman Shin Sakuma itu adalah Inukai Miyaki yang menghadirkan performance dan instalasi berjudul “Inhale dan Exhale”, kemudian Ikegami Sumiko juga dengan penampilan performance dan instalasi berjudul “Connected and Opens”. Shin Sakamura dan Ikegami Sumiko dibantu dengan alunan musik tiup khas Jepang “Etenraku”yang dimainkan Kawamoto Akinori.

Sumber : The Real Jogja.com