Tunarungu

Dua Pihak Harus Saling Belajar

Selasa, 15  Juni 2010 | 14:25 WIB

Saat ini, kaum tunarungu masih terpinggirkan dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Perlu dikuatkan saling belajar antara orang berkebutuhan khusus seperti tunarungu dan orang tanpa hambatan pendengaran.

“Anak tunarungu harus mempelajari dunia orang mendengar. Sebaliknya, orang mendengar harus mempelajari dunia kaum tunarungu sehingga bisa saling menerima dan memahami,” kata Johan B Wesemann, penyandang tunarungu anggota dewan organisasi kaum tunarungu se- dunia yang juga profesor insinyur mekanika Universitas Utrecht, Belanda, pada seminar internasional “Mencerahkan dan Memberdayakan Kaum Tunarungu” di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Minggu (13/6).

Pada seminar yang digelar Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) USD, Johan menyampaikan materi menggunakan bahasa isyarat Inggris, lalu diterjemahkan dalam bahasa isyarat Indonesia, sebelum diterjemahkan lagi dalam bahasa Indonesia. Seminar diikuti sekitar 350 penyandang tunarungu dari berbagai daerah. Diskusi dan tanya jawab dilakukan dalam bahasa isyarat yang kemudian diterjemahkan.

Menurut Johan, penyandang tunarungu tak boleh diabaikan dan harus dilibatkan dalam aktivitas normal sehari-hari. Karena itu, sekolah anak tunarungu harus menyiapkan anak tunarungu agar bisa hidup dan bekerja pada dunia mendengar. “Orang mendengar harus bersedia memahami dan bekerja dari sudut pandang budaya tunarungu,” ujarnya.

Pendidikan anak-anak tunarungu juga jangan berfokus bahasa oral, namun juga pendidikan keseluruhan, termasuk mengajarkan berbagai pengetahuan secara teori dan praktik. Selain itu harus terbuka terhadap informasi dan terus menambah pengetahuan umum.

Menurutnya, diskriminasi terhadap kaum tunarungu disebabkan minimnya informasi. “Tunarungu dan orang mendengar itu setara tetapi tak sama,” katanya,

Ketua PSIBK USD Priyo Widiyanto menuturkan, di negara maju seperti Belanda, orang mendengar atau orang normal semakin banyak yang belajar bahasa isyarat sehingga penyandang tunarungu diperlakukan setara. Bahkan, ada tiga orang tunarungu menjadi anggota parlemen di Uni Eropa. Di bidang pendidikan, Universitas Amsterdam membuka fakultas bahasa isyarat.

“Indonesia perlu ada program bahasa di perguruan tinggi yang khusus mengurusi bahasa isyarat. Kita masih langka tenaga penerjemah bahasa isyarat. Sekarang hanya ada 200 orang di Indonesia,” ujar Priyo. (RWN) Grafis (Foto): Kompas/Ferganata Indra Riatmoko – Siswa Tunarungu/wicara di DIY, 2009

Sumber:

Kompas.com (http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/14/1448561/dua.pihak.harus.saling.belajar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s