Interaksi Sosial Anak Tunanetra Di SLB


Tanggal Posting : Senin, 26 Mei 2008

Sumber: http://www.plbjabar.com/old/?inc=artikel&id=44


Penulis: Uhay dan Irine Puspita (Guru SLB Negeri Subang)

Memasuki lingkungan baru selalu menjadi problema bagi semua orang. Apalagi bagi mereka yang mempunyai kebutuhan khusus yang diakibatkan oleh kelainan. Termasuk anak tunanetra. Baik bagi mereka yang baru masuk sekolah, maupun bagi mereka yang sudah bersekolah. Persoalan berat akan sangat terasa bagi mereka yang baru pertama kali memasuki dunia sekolah. Beragam kesan dan rasa muncul pada dirinya. Umumnya lingkungan baru memberikan rasa tidak nyaman bagi anak tunanetra, kadang dibarengi dengan ketakutan-ketakutan yang sangat berlebihan. Setiap langkah yang ditapaki anak tunanetra menjadi masalah baginya. Teman yang menghampiri, menjadi seseorang yang amat asing untuk dikenalnya. Ia akan menarik diri jika ada yang ingin berkenalan dengannya. Sikap egois, cepat marah, mudah curiga, takut terhadap lingkungan baru, dan sebagainya. Jelasnya, anak tunanetra kurang dapat melakukan interaksi sosial yang memuaskan atau interaksi sosialnya mengalami keterbatasan. Keadaan ini tentunya menimbulkan persoalan tidak saja bagi sang siswa, tetapi juga bagi guru dan teman-teman di lingkungan sekitarnya.

Interaksi merupakan perhatian timbal balik antara dua orang atau lebih terhadap suatu objek atau orang ke tiga. Perhatian timbal balik ini sering kali direspon dengan isyarat, ujaran atau tindakan. Soerjono Soekanto (1986: 51) mengutip pendapat Young dan Raymond dan Gillin dan Gillin menjelaskan, bahwa: “Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.”

Anak tunanetra memiliki ganguan fungsi penglihatan baik sebagian atau seluruhnya, sehingga menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan dirinya, seperti: pada perkembangan kognitif, perkembangan akademik, perkembangan orientasi dan mobilitas serta perkembangan sosial dan emosi. Hal ini mengakibatkan anak tunanetra dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial seringkali mengalami hambatan-hambatan. Ini dikarenakan anak tunanetra kurang mampu memiliki persyaratan-persyaratan normatif yang dituntut dari lingkungannya, misal: kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam bergaul, cara menyatakan terimakasih, saling menghormati, kemampuan dalam berekspresi, cara melambaikan tangan, dan lain-lain.

Adanya perubahan lingkungan baru bagi anak tunanetra memberikan benturan-benturan, yang dapat mengakibatkan hal-hal yang menyenangkan atau mengecewakan. Anak tunanetra harus dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sosial dalam lingkungan sekolah. Bagi anak tunanetra hal ini sangatlah sulit, karena anak harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru di sekolah, baik secara pasif maupun secara aktif. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku sosial dalam berinteraksi dengan lingkungan, mereka harus mampu memanfaatkan alat indera lain. Alat indera yang dapat dikembangkan seperti: pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap. Hal ini sebagai upaya memperlancar interaksi sosial dengan lingkungannya, walaupun hasilnya tidak sebaik dan selengkap jika dibarengi dengan adanya indera penglihatan. Selain itu, adanya kesiapan mental anak tunanetra untuk memasuki lingkungan baru atau kelompok lain yang berbeda, akan sangat baik dalam pengembangan sosialnya. Sebaliknya, ketidaksiapan mental anak untuk masuk ke dunia baru sering mengakibatkan anak tunanetra gagal dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosialnya. Jika kegagalan dianggap sebagai tantangan dan merupakan pengalaman yang terbaik, maka hal ini akan menjadi modal utama untuk memasuki lingkungan baru berikutnya. Namun apabila kegagalan tersebut merupakan ketidakmampuan, maka akan timbul rasa frustasi/putus asa, menarik diri dari lingkungan.

Keterbatasan interaksi sosial pada anak tunanetra patuh dipahami oleh semua pihak, terutama orang tua dan guru. Orang tua dan guru berkewajiban mengupayakan agar interaksi sosial yang dimiliki anak tunanetra dapat ditingkatkan. Guru mempunyai peranan penting dalam menghadapi anak tunanetra agar mampu berinteraksi dengan lingkungan di sekolah, sebab guru sebagai orangtua di sekolah yang harus siap melayani pendidikan anak tunanetra dengan segala bentuk kekurangannya, khususnya dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah Luar
Biasa.

Faktor-faktor yang dapat menghambat interaksi anak tunanetra ketika berada di
sekolah yaitu:

  1. Pengalaman buruk yang diterima sebelum berada di sekolah.
  2. Mobilitas yang belum terlatih, sehingga memunculkan keraguan pada diri anak untuk melakukan kontak sosial dan komunikasi.
  3. Persepsi yang ditanamkan orang-orang terdekat terhadap kontak sosial.
  4. Minat yang dimiliki anak tunanetra.
  5. Peran individu lain di lingkungan sekitarnya terhadap kehadiran dirinya.

Interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa juga dipengaruhi oleh perbedaan kepribadian dan kecakapan yang dimiliki anak. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang sangat besar untuk terlibat dalam interaksi sosial anak tunanetra di sekolah. Peran yang dilakukan guru yaitu, mengadakan hubungan dengan guru-guru lain, teman-teman seusia dan orang lain yang ada disekitar lingkungan sekolah. Pengalaman dalam berinteraksi di lingkungan rumah yang dibimbing orang tua, juga sangat menentukan kepribadian dan kecakapan anak tunanetra pada saat berada di sekolah. Sekolah memiliki norma-norma dan aturan-aturan yang berbeda dengan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku di rumah. Di sekolah anak tunanetra akan dihadapkan pada berbagai aturan dan disiplin yang berlaku pada lingkungannya. Masa transisi dari orientasi lingkungan keluarga ke sekolah tidaklah mudah. Hal ini sering menimbulkan masalah pada anak tunanetra. Ketidaksiapan mental anak tunanetra dalam menghadapi lingkungan baru di sekolah atau kelompok lain yang berbeda, seringkali mengakibatkan gagal dalam mengembangkan kemampuan sosialnya. Apabila kegagalan tersebut dihadapi pada suatu kenyataan dan tantangan, maka hal ini biasanya menjadi modal utama dalam menghadapi lingkungan yang baru. Namun jika kegagalan dihadapi sebagai suatu ketidakmampuan, maka sikap-sikap ketidakberdayaan yang akan muncul menumpuk menjadi sebuah rasa putus asa yang mendalam dan akhirnya menghindari kontak sosial.

Pengalaman sosial yang dimiliki seseorang dapat menentukan daya yang memungkinkan seseorang dapat menguasai lingkungan, penguasaan diri atau hubungan antara keduanya. Adanya kehilangan fungsi penglihatan pada anak akan mengakibatkan terjadinya keterpisahan sosial. Anak dengan ketunanetraan seringkali mengalami kesulitan untuk menyelaraskan tindakannya pada situasi yang ada. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki membuat anak tunanetra merasa terisolasi dari orang-orang normal, atau dapat menimbulkan perasaan minder, bimbang, ragu, tidak percaya diri, jika berada dalam situasi yang tidak dikenalnya.

Situasi dan aktivitas di sekolah bagi anak tunanetra yang hanya beberapa jam dalam sehari, sesungguhnya menggantikan posisi keluarga. Peran orang tua diganti oleh bapak/ibu guru, peran saudara diganti oleh teman-teman, dan sebagainya. Sedangkan kontak sosial dan komunikasi di sekolah terjadi di dalam dan di luar kelas. Interaksi yang terjadi di dalam kelas berlangsung antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Supaya kontak dan komunikasi berjalan lancar, maka setiap warga sekolah harus memahami dalam situasi mana interaksi itu berlaku. Pemahaman dari
seluruh warga sekolah dapat membantu anak tunanetra untuk bisa melakukan kontak sosial seperti yang diharapkan.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu anak tunanetra agar mampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional maupun sosial. Melalui program bimbingan, pengajaran, dan latihan anak tunanetra mendapatkan perhatian khusus dalam hal interaksi sosial di sekolah. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang besar, agar anak tunanetra memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain yang berada di sekitar sekolah. Guru membimbing anak tunanetra secara bertahap, disesuaikan dengan dasar pengalaman anak tunanetra ketika berada dalam lingkungan rumahnya.

Program bimbingan, pengajaran, dan latihan di sekolah yang berkaitan dengan kebutuhan interaksi sosial anak tunanetra dapat diberikan guru dalam bentuk:

  1. Bimbingan untuk mengenal situasi sekolah, baik dari sisi fisik bangunan maupun
    dari sisi interaksi orang per-orang.
  2. Menumbuhkembangkan perasaan nyaman, aman, dan senang dalam lingkungan barunya.
  3. Melatih kepekaan indera-indera tubuh yang masih berfungsi sebagai bekal pemahaman kognitif, afektif dan psikomotornya.
  4. Melatih keberanian anak tunanetra untuk mengenal hal-hal baru, terutama hal-hal
    yang tidak ia temui ketika berada di rumah.
  5. Menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian dalam berkomunikasi dan melakukan kontak.
  6. Melatih mobilitas anak untuk mengembangkan kontak-kontak sosial yang akan
    dilakukan dengan teman sebaya.
  7. Memberikan pendidikan etika dan kesantunan berkaitan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku dalam suatu daerah. Pendidikan etika yang berlaku di rumah dapat berbeda ketika anak tunanetra masuk dalam lingkungan baru dengan beragam kepribadian individu.
  8. Mengenalkan anak tunanetra dalam beragam karakter interaksi kelompok. Hal ini
    dapat memberikan pemahaman bahwa tiap kelompok memiliki karakter interaksi yang berbeda. Misalnya kelompok anak-anak kecil, kelompok remaja, atau kelompok orang dewasa.

Interaksi sosial yang baik maupun yang kurang baik merupakan proses yang tidak diturunkan bagi anak tunanetra, melainkan diperoleh melalui proses belajar, bimbingan dan latihan. Pengaruh internal maupun eksternal yang positif dan negatif, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi anak tunanetra dalam berinteraksi. Untuk menghindari terjadinya perilaku yang kurang baik pada anak tunanetra dalam bergaul perlu ditanamkan kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat pada diri anak tunanetra dapat menimbulkan kepercayaan pada diri. Anak tunanetra juga dapat membedakan antara perilaku yang baik dan kurang baik dalam berinteraksi dengan lingkungannya melalui program pengembangan interaksi sosial.

Sumber Bacaan:

Didi Tarsidi. (2007). Kompetensi Sosial Anak Tunanaetra Peranan Hubungan Teman Sebaya dalam Perkembangan Kompetensi Sosial Anak Tunanetra (Studi Kasus Tentang Hubungan Sosial Anak Tunanetra dengan Teman Sebayanya yang Awas di Lingkungan Sekitar Rumahnya). [Online}. Tersedia:http://dtarsidi.blogsort.com/search/label/KompetensiSosialAnakTunanetra. [3 Januari 2008].

Didi Tarsidi. (2007). Peranan Hubungan Teman Sebaya dalam Perkembangan Kompetensi Sosial Anak. [Online]. Tersedia: Http://d-tarsidi.blogsort.com/2007/12/peranan-hubungan-teman-sebaya-dalam.html. [3 Januari 2008].

Elizabeth B. Hurlock. (1994). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Juang Sunanto. (2005). Mengembangkan Potensi Anak Berkelainan Penglihatan. Jakarta: Depdiknas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

P. Mardi Santono dan A.M. Nurchajatie. (2004). Sosiologi. Jakarta: Literatur Media Sukses.

Soerjono Soekanto. (1986). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.

Sumarna dan Agus Irawan S. (2003). Paket Bahan Ajar Guru SDLB. Depdiknas Dirjen Dikdasmen. Bandung: PPBPG.

T. Sutjihati S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.

W.A.Gerungan. (2006). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Yunda Megawati. (2002). Penyesuaian Sosial Pada Penyandang Tunanetra Masa Akhir Usia Sekolah. [Online]. Tersedia:
Http://digilib.unikom.ac.id/go.php?id=jiptumm-gdl-s1-2002-yunda-5841-enyesuaian&width=150. [3 Januari 2008].

One response to “Interaksi Sosial Anak Tunanetra Di SLB

  1. menurut saya, interaksi anak tunanetra di sekolah sangat dibutuhkan untuk mendidik ketrampilan adaptasi sianak. tapi,, masyarakat umum juga perlu diberi pengarahan agar tidak mendiskreditkan anak tunanetra karena adanya stereotype tertentu. hal ini hanya akan melemahkan rasa percaya diri si anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s