Menghentikan Pengucilan Sosial Lewat Special Olympics Indonesia

Kamis, 02 September 2010 ⁄ 13.00

Post by : PSIBK USD

Indonesia mengadakan Pekan Olahraga Nasional untuk anak-anak tuna granita pada tanggal 26-30 Juni, 2010.

JAKARTA, 25 Juni 2010 – Matahari baru saja terbit di Stadion Velodroom di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, ketika seorang gadis 16 tahun bernama Juliwati Japi tiba untuk berlatih bersama dengan Special Olympics Indonesia. Juli, begitu gadis itu disapa, bergabung dengan organisasi tersebut pada tahun 2004, dua tahun setelah ia pindah dari tanah kelahirannya di Sampit, Kalimantan Tengah.

Seperti juga atlit-atlit lainnya, Juli adalah anak tuna grahita – memiliki kecerdasan kurang dari 70 inteligent quotient atau IQ. Ia dilahirkan dengan sindroma Down – suatu kondisi di mana kelebihan materi genetika mengakibatkan seorang anak mengalami perlambatan dalam perkembangannya, baik mental maupun fisik. Meskipun memiliki berbagai keterbatasan, Juli telah berpartisipasi di dalam berbagai kompetisi olahraga internasional – prestasi tertinggi yang pernah dicapainya adalah ketika ia meraih posisi keempat dalam cabang lari pada Special Olympics World Summer Games tahun 2007 di Shanghai, Cina.

Juli, yang tidak pernah melewati rutinitas hari Sabtunya bersama Special Olympics Indonesia, terlihat sangat bersemangat hari itu, seperti diutarakan oleh Ibu Iih, bibi Juli yang juga pendampingnya selama ini.

“Hari ini dia khusus mengenakan pakaian resmi Special Olympics Indonesia yang dikenakannya di Olympiade Shanghai, karena diberitahu bahwa hari ini ia akan bertemu dengan seorang juara yang sesungguhnya,” terang Ibu Iih, merujuk pada Marcos Diaz, seorang perenang jarak jauh dari Republik Dominika, yang dijadwalkan akan berkunjung ke pelatihannya hari itu untuk bertemu dan berbincang dengan para atlit.

Ketika Diaz, pemegang Rekor Dunia renang menjelajahi Teluk Gibraltar dari satu sisi ke sisi lainnya dan kembali ke sisi awal, tiba di tempat pelatihan, Juli sedang duduk di tribun di salah satu sisi stadion tersebut bersama dengan rekan-rekan atlit muda lainnya, para orang tua dan pendamping. Suatu senyum lebar tergurat di wajahnya ketika Diaz mulai berbicara, tampak jelas bahwa ia sangat mengaguminya.

Diaz bercerita kepada anak-anak itu tentang penyakit asma akut yang dideritanya pada saat ia lahir, yang dapat ia lalui sejak ia menjadi seorang atlit renang.

“Saya mengajak kalian semua untuk tetap giat berlatih, karena olahraga dapat membantu kalian untuk menjadi kuat dan percaya diri,“ ujar Diaz kepada para atlit.

Diaz, yang juga seorang pelatih bagi anak-anak Special Olympics di negaranya, menambahkan, “Ada banyak anak-anak di luar sana yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka. Kalian beruntung dapat bergabung dengan Special Olympics, yang dapat membantu kalian mendapatkan kesempatan tersebut.”

Special Olympics Indonesia adalah lembaga nirlaba dan non-pemerintah yang mendapatkan akreditasi dari organisasi tingkat global, Special Olympics, yaitu lembaga yang menyasar sekitar 200 juta orang tuna grahita di seluruh dunia melalui olahraga. Indonesia menjadi anggota yang ke-79 pada tahun 1989, dan saat ini sedang mempersiapkan Pekan Olah Raga Nasional untuk Tuna Grahita yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali, biasanya satu tahun sebelum penyelenggaraan Olimpiade Tuna Grahita tingkat dunia.

Tahun ini, UNICEF Indonesia bekerjasama dengan Special Olympics Indonesia untuk mempromosikan pentingnya inklusifitas bagi anak-anak, terlepas dari bagaimanapun keadaannya. Pengucilan sosial dan ekonomi adalah hambatan terbesar dalam pembangunan bagi jutaan anak-anak di Indonesia, seperti di sektor-sektor pendidikan, kesehatan dan perlindungan.

“Kesenjangan di Indonesia adalah tantangan yang sangat kritis yang perlu dipecahkan jika Indonesia ingin mencapai Tujuan Pembangunan Milenium dan memastikan bahwa semua anak Indonesia memperoleh hasil dari kemajuan ekonomi negara ini yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir,” terang Kepala Perwakilan UNICEF, Angela Kearney saat penandatangan kerjasama beberapa waktu lalu di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

“Special Olympics Indoenesia menunjukkan dengan sangat nyata bagaimana anak-anak Indonesia dapat berhasil ketika mereka diberikan kesempatan yang sama, bebas dari cap buruk ataupun pengucilan, dan para atlit ini adalah merupakan contoh yang sangat baik bagi kita semua.”

Juli juga terinspirasi oleh pujaannya, Diaz. Setelah bercengkarama dan berfoto bersama sang juara, Juli menyampaikan kepada bibi-nya bahwa ia ingin menjadi juara seperti Diaz.

“Juli sedang mempersiapkan dirinya untuk berlomba di pekan olahraga nasional,” jelas Ibu Iih, sembari menceritakan bahwa keponakan tersayangnya itu akan ikut serta di cabang lari dan renang pada even yang akan diselenggarakan tanggal 26 – 30 Juni 2010 di GOR Ragunan, Jalan Raya Ragunan, Jakarta Selatan.

Melihat kebulatan tekad Juli untuk berprestasi, Diaz dapat dimaafkan karena telah mengkhawatirkan kompetisi yang sangat potensial tersebut.

Sumber : UNICEF

http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_13621.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s